Lawan Kemiskinan Dengan Menulis

berbagi di:
img-20210227-wa0014

Pius Rengka

 

 

Putra Bali Mula

Menulis untuk hidup. Menulis untuk melawan kemiskinan. Ini menjadi intisari pengalaman dari jurnalis senior, Pius Rengka, yang saat ini diangkat sebagai Staf Khusus (Stafsus) Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pius Rengka menceritakan ini dalam diskusi online mengenai Tantangan Riset dan Publikasi Untuk Kampus di NTT yang digelar oleh Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero beberapa waktu lalu.

Ia menceritakan telah tertarik pada dunia tulis-menulis sejak SMP sampai dengan kuliah.  Ia menekuni dunia ini untuk bertahan hidup.

“Karena miskin. Saya menangis waktu itu karena memang makanan tidak ada dan saya memutuskan untuk menulis dan sampai hari ini saya ingat betul judul tulisan saya. Judulnya Peranan Generasi Muda Dalam Politik Indonesia,” ungkapnya.

Tulisannya itu, kata dia, memberikannya honor pertama untuk menyambung hidup di tanah rantau. Untuk itu ia berusaha mengasah pola pikirnya dengan mengikuti banyak forum diskusi yang juga banyak dilarang di masa otoritarian waktu itu.

Pada tahun 1986 UNWIRA Kupang membuka kesempatan untuk menjadi dosen. Pius memutuskan kembali ke Kupang untuk mengikuti tes tersebut. Ia mengaku juga dibantu oleh Surya Paloh untuk biaya tiket pulang dengan pesawat.

Sementara di saat yang sama, ia sudah menjadi wartawan di Harian Pagi Prioritas. Seingatnya, ada sebanyak 776 orang yang mengikut tes untuk menjadi jurnalis di media tersebut. Hanya 100 orang yang diterima dimana 3 orang asal Manggarai – NTT termasuk Don Bosco Selamun yang adalah jurnalis senior Indonesia yang membesarkan Metro TV.

Alasannya balik ke Kupang, untuk menjadi jurnalis atau penulis yang besar di Kota Kupang karena di zaman itu banyak penulis NTT yang terkenal namun berkarya di Jakarta. Pius memilih balik ke Kupang secepatnya.

“Dan hal pertama yang ia cari saat tiba di NTT adalah mencari surat kabar,” tukasnya.

Berdasarkan pengalamannya mengajar mata kuliah kriminologi saat itu, minat baca mahasiswa di Kupang memang lemah. Ia menerapkan metode mengajar ke lapangan seperti turun ke tempat lokalisasi maupun penjara.

Hal yang sama selalu ditemukan yaitu kondisi ekonomi menjadi faktor utama kejahatan terjadi.

Ia membenci kemiskinan. Menurutnya, dengan menulis fakta-fakta yang ada maka hal tersebut dapat disuarakan untuk diubah.

Begitu pun literasi di lingkungan kampus perlu diperhatikan untuk mencetak pemikir cerdas yang dapat mengubah kondisi NTT sekarang ini.

Sementara kampus yang ada di NTT, menurut dia, fasilitas yang bagus seperti perpustakaan dan laboratorium lemah dan staf pengajar minim publikasinya.

Untuk itu, lanjut dia, Gubernur NTT sangat mendorong adanya riset di universitas terkait dalam lokus pembangunan di bidang pertanian, peternakan, pariwisata dan perikanan, sedangkan infrastruktur adalah pendukungnya.

“Jalan provinsi sekian ribu yang buruk itu akan ditargetkan untuk diselesaikan dan Gubernur minta ada riset universitas terkait program pembangunan,” terang dia.

Namun, sesuai realitas perguruan tinggi masih jauh dari yang diharapkan dalam konteks global apabila dilihat dari rangking universitas yang ada di Indonesia. NTT masih di urutan terbawah.

Ia berharap ke depan minat menulis di kalangan mahasiswa dan akademisi semakin meningkat dan memberi dampak positif bagi diri dan daerah. (bev/ol)