Lebu Raya Sebut Makan Ubi Hutan Itu Budaya

berbagi di:
Lorens Lewar, warga Desa Nangahale, Kecamatan Talibura bersama keluarganya saat mengolah ubi hutan untuk dijadikan makanan pengganti beras. Gambar diabadikan Kamis (5/10).

Lorens Lewar, warga Desa Nangahale, Kecamatan Talibura bersama keluarganya saat mengolah ubi hutan untuk dijadikan makanan pengganti beras. Gambar diabadikan, Kamis (5/10).

 
Gubernur NTT Frans Lebu Raya mengatakan mengkonsumsi ubi hutan (iwi/magar) sudah menjadi budaya sebagian besar masyarakat NTT termasuk di Kabupaten Sikka dan Kabupaten Nagekeo. Masyarakat setempat mengkonsumsi ubi hutan hanya setahun sekali. Karena itu, makan ubi hutan bukan karena rawan pangan.

“Saya sudah dengar, sering dengar soal ubi hutan. Ubi hutan di NTT ini bagian dari adat, budaya yang ada di wilayah ini,” kata Lebu Raya menjawab wartawan di gedung DPRD NTT, Senin (9/10).

Menurutnya, seorang anak balita di Desa Natarmage, Kecamatan Waiblama, Kabupaten Sikka, yang meninggal dunia bukan akibat makan ‘magar’ namun akibat terserang diare dan sesak napas.

“Keluarga anak itu belum makan ubi hutan karena ada urusan adat yang belum diselesaikan. Jadi bukan karena dia makan ubi hutan, tapi diare dia sesak napas. Masyarakat di situ memang sejak leluhur biasa makan ubi hutan setiap tahun, dan itu adat mereka,” katanya.

Lebu Raya menambahkan, masyarakat setempat juga mengetahui ubi hutan yang dikonsumsi itu mengandung racun, dan mereka juga tahu bagaimana cara mengolah agar racunnya hilang.

Menurutnya, mengkonsumsi ubi hutan bukan berarti masyarakat setempat rawan pangan. Sebab, pemerintah sudah menyiapkan cadangan beras.

“Ketersediaan pangan cadangan beras di setiap kabupaten itu 100 ton yang bisa digunakan setiap waktu. Kalau ada kebutuhan di lapangan bupati boleh keluarkan beras itu. Gubernur punya kewenangan 200 ton beras cadangan pemerintah. Pada saat ada kebututan di lapangan kita keluarkan beras itu untuk membantu masyarakat,” kata Lebu Raya.

Di Kabupaten Nagekeo, lanjutnya, masyarakat setempat juga makan ubi hutan. Menurutnya, makan ubi hutan bukan berarti masyarakat setempat mengalami kelaparan panjang yang berujung pada kematian.

“Jadi kita kadang-kadang mendengar cerita ini lalu pikiran kita itu semua sudah mau mati di sana kan. Jadi ada kearifan lokal yang mereka jaga di sana, sama di Lembata makan biji bakau,” pungkasnya.

Pernyataan Gubernur ini bertentangan dengan fakta lapangan. Di Dusun Natarmage, Desa Natarmage, Kecamatan Waiblama, sejumlah warga yang krisis pangan sudah masuk hutan mencari ‘magar’. Bahkan sudah tiga bulan terakhir, mereka berburu ‘magar’ untuk diolah menjadi makanan pengganti jagung dan beras.

Salah satu keluarga yang mengalami rawan pangan di Natarmage, Fabiana Tensi (38) saat ditemui VN, Sabtu (7/10) siang, mengaku sudah tiga bulan kehabisan stok makanan pokok seperti beras, jagung dan ubi-ubian hasil kebun.

Sementara kemiri dan kakao pun tidak berproduksi baik karena diterjang angin kencang pada Februari lalu. Karena itu, untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarganya, Tensi keluar masuk hutan untuk mencari magar. Di sela-sela waktu, ia mengumpulkan biji mente dan kemiri di kebunnya, meski sedikit. Tiga sampai empat hari, ia baru bisa mengumpulkan satu kilogram (kg) mente, yang kini harganya Rp 10 ribu/kg.

Di tengah kesulitan pangan tersebut, pada 6 Oktober lalu Tensi dan keluarganya mendapatkan bantuan beras dari pemerintah. Setiap kepala keluarga (kk) mendapat 10 kg beras. Tensi mengaku sangat terbantu dengan bantuan beras tersebut. Sebab, beras 10 kg itu bisa bertahan sampai dua minggu.

“Jadi kami tetap cari magar karena beras hanya untuk anak-anak dan yang sudah tua-tua. Sedangkan kami yang lain makan magar saja. Kalau semua mau makan nasi semua, maka beras cepat habis,” kata Tensi.

Camat Waiblama Antonius Jabo Liwu saat ditemui di Polindes Natarmage usai bertemu warga, menjelaskan sesuai data, ada 16 kepala keluarga yang mengalami rawan pangan. Pemerintah melalui Dinas Ketahanan Pangan sudah membagikan beras sebanyak 2.460 kg untuk 246 kk di Desa Natarmage.

“Kami sangat bersyukur karena beras tersebut sangat membantu masyarakat yang kesulitan pangan,” kata Liwu.

Warga setempat, Fabianus Afandi (50) mengatakan, akibat angin kencang yang melanda wilayah tersebut pada Februari lalu, sebagian besar tanaman pertanian maupun perkebunan tumbang. Tanaman perdagangan seperti kemiri dan mente yang sedang berbuah pun rontok sehingga produktivitas menurun jauh. Bahkan banyak yang tidak berbuah.

“Angin kencang dan kekeringan yang membuat kami kekurangan pangan. Jadi bukan karena kami malas kerja,” kata Afandi.

Terkait kondisi adanya masyarakat yang sudah mengonsumsi magar sekitar tiga bulan terakhir, Camat Liwu mengatakan bahwa magar termasuk pangan lokal di seluruh wilayah Waiblama. Namun, kata dia, tidak semua masyarakat Waiblama makan magar.

“Tidak semua makan magar. Hanya warga yang sudah buat ritual adat yang boleh makan. Sedangkan yang belum buat ritual adat tidak boleh makan,” pungkas Liwu. (pol/nus/E-1)