Listrik Masuk Desa, Pendapatan Peternak Dusun Oelkiu Meningkat

berbagi di:
img-20210224-wa0015

Mesin penetas ayam kampung jenis KUB yang menggunakan energi listrik untuk membantu perkembangbiakan ayam. Foto: Dr. Maxs Sanam

 

 

 
Beverly Rambu

Pendapatan peternak ayam kampung jenis KUB di Dusun Oelkiu, Desa Camplong 2, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur perlahan-lahan mulai meningkat sejak listrik masuk pada November 2020 lalu.

Ketua Kelompok Peternak Tafena Kuan di Dusun Oelkiu, Afliana Sonbai kepada VN, Jumat (26/2) mengaku gembira akhirnya bisa merasakan listrik.

“Listrik sudah ada sejak April tapi November baru menyala. Ya, kami sudah berubah sedikit,” ungkapnya.

Ia mengatakan selama Indonesia merdeka, baru kali ini bisa merasakan cahaya lampu. Sebelumnya, ia dan keluarga hanya menggunakan pelita.

Selain membantu aktivitas sehari-hari, Afliana mengaku sejak listrik masuk banyak pintu rejeki terbuka khususnya untuk anggota kelompok peternak Tafena Kuan (artinya: Mari membangun kampung) karena bisa menggunakan mesin penetas telur yang memanfaatkan listrik untuk mengembangbiakan ayam kampung jenis KUB dan untuk menerangi kandang ayam milik kelompok. Hasilnya, dalam seminggu kelompok ini bisa menghasilkan 70-100 butir telur yang dijual di Pasar Tradisional Lili dengan harga Rp 2.500 per butir. Uang hasil penjualan ditabung di kas kelompok. Bagi anggota yang berminat untuk membuka atau memperluas usaha bisa meminjam modal maksimal Rp 500 ribu dengan bunga minim.

“Kalau ada yang mau pinjam kami beri Rp 500 ribu mungkin untuk keperluan mendadak atau modal usaha maka bulan berikut kembali Rp 550 ribu,” ungkapnya.

Ia mengaku selain memelihara ayam kampung jenis KUB secara berkelompok, setiap anggota juga memelihara ayam jenis Jawa Super (Joper) dan ayam kampung KUB untuk keperluan rumah tangga dan meningkatkan pendapatan pribadi setiap anggota.

“Saya dapat bantuan 11 ayam, Joper 6, ayam KUB 5. Sekarang ayam Joper berkembang tambah 5 ekor dan KUB tambah 11 ekor. Listrik sudah ada jadi bisa bantu penetasan untuk dapat ayam baru supaya telur juga dapat banyak,” ujarnya.

Ia mengatakan telur yang dihasilkan dari ayam yang dipelihara digunakan untuk konsumsi rumah tangga khususnya untuk menambah asupan gizi bagi tiga cucunya yang masih balita.

Menurutnya, bantuan dan pendampingan beternak ayam diperoleh dari para dosen Kedokteran Hewan Universitas Nusa Cendana Kupang.

Ia menjelaskan saat ini, kelompok Tafena Kuan memiliki 22 anggota dari 22 Kepala Keluarga (KK), 20 diantaranya ibu rumah tangga. Setiap anggota mendapatkan 5 ekor ayam KUB dan beberapa ekor ayam jenis Joper untuk konsumsi pribadi dan keluarga serta sekitar 50 ekor ayam milik kelompok.

Setiap hari, para anggota bergantian memberi makan, minum dan memantau perkembangan ayam.

“Pagi jam 7, sore jam 5. Siang biasanya saya yang beri makan. Kami beri makanan toko dan jagung. Mesin penetas ada di rumah saya jadi kami gantian lihat perkembangan ayam,” jelas Afliana.

Ia berharap usaha kelompok peternak ini bisa berkembang pesat sehingga kesejahteraan ekonomi bisa mereka capai terutama untuk biaya hidup sehari-hari dan pendidikan anak serta cucu para anggota kelompok.

Sementara salah satu dosen Kedokteran Hewan Undana sekaligus pendamping kelomppok peternak di Dusun Oelkiu, Dr. Maxs Sanam mengakui adanya peningkatan signifikan pemberdayaan ekonomi keluarga lewat beternak ayam kampung jenis KUB.

Ia menjelaskan selama ini, pihaknya sering memberikan bantuan dan pendampingan bagi masyarakat desa lewat dana pengabdian masyarakat berupa sapi, babi dan kambing namun hasilnya minim bahkan tidak berkembang.

“Alasan mereka banyak ada yang sakit atau mati. Tapi setelah ditelusuri banyak yang jual untuk keperluan adat atau kebutuhan harian, sehingga sulit sekali berkembang. Kali ini kami coba bantu dengan ayam kampung meski kecil tapi jauh lebih cepat berkembang dan menghasilkan,” ujarnya.

Ayam kampung jenis KUB dipelihara damam kandang sederhana milik kelompok. Foto: Dr. Max Sanam
Ayam kampung jenis KUB dipelihara damam kandang sederhana milik kelompok. Foto: Dr. Maxs Sanam

Ia menjelaskan Dusun Oelkiu berjarak sekitar 45 kilometer (km) dari Kota Kupang, ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur namun listrik baru masuk di akhir tahun 2020 sehingga warga masih hidup cukup sulit.

Setelah melakukan survey, ia dan teman-teman memilih memberikan bantuan dan pendampingan beternak ayam kampung. Awalnya jenis Joper dan kemudian ayam kampung KUB. Rata-rata peternak merupakan para ibu rumah tangga yang sebelumnya hanya menenun untuk membantu keuangan rumah tangga.

Ayam kampung KUB, jelas Dr. Maxs, merupakan tipe petelur. Bisa menghasilkan telur 3 kali lipat dari ayam biasa, tahan penyakit, dan produktivitasnya tinggi. Sumber makanan pun tersedia di desa dan mudah dipelihara.

“Lebih cocok untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat di desa. Cost minim dan tidak ada ketergantungan untuk pakan,” ujarnya.

Satu kekurangan ayam kampung KUB yakni sulit menetas sehingga untuk mendapatkan ayam baru, pihaknya memberi bantuan mesin penetas dan listrik menjadi sumber energi signifikan untuk mesin penetas. Perkembangan dan penambahan ayam baru akan membantu peningkatan jumlah telur yang dihasilkan serta menambah penghasilan peternak.

“Sungguh hari yang membahagiakan ketika mereka melihat untuk pertama kalinya 8 ekor anak ayam yang menetas dari mesin pada Jumat 12 Februari 2021. Memang daya tetas belum begitu bagus mungkin karena listrik yang belum begitu stabil dan induk serta pejantan yang masih muda dan baru pertama bertelur, tapi kami dan peternak bahagia sekali dengan hasil ini,” ungkapnya.

Dr. Max mengatakan selain untuk menambah pendapatan, ayam dan telur juga bisa dikonsumi oleh peternak dan keluarga terutama untuk menambah asupan nutrisi keluarga dan mencegah stunting pada anak-anak di desa.

Jika dalam beberapa kasus, ayam mati atau tidak berkembang kerugiannya pun tidak terlalu besar dibandingkan memelihara sapi atau kambing.

Untuk memastikan aktivitas peternak berjalan baik, satu kali dalam seminggu ia atau teman dosen lain memantau perkembangan kelompok peternak. Pihaknya juga memberikan vaksin dan edukasi terkait pemilihan telur yang baik,cara menyimpan telur, cara membuat catatan pembukuan, dan lain-lain.

“Bahkan kami ajarkan cara vaksin sehingga jika kami tidak ada mereka bisa vaksin sendiri,” ungkapnya.

Menurutnya, sejak dua tahun mendampingi para peternak (ayam KUB baru dikembangkan akhir 2020), rata-rata perkembangan ayam baik. Tidak ada ayam yang mati karena penyakit hanya mati karena dimakan predator.

Ia berharap pemberdayaan ekonomi lewat beternak ayam kampung jenis KUB bisa memberi dampak signifikan bagi peningkatan ekonomi anggota di Dusun Oelkiu dan masyarakat desa umumnya serta memberi inspirasi bagi pihak pemerintah dan warga di desa lain.

“Dulu saya sering kecewa, hampir putus asa karena bantuan hewan besar tak berhasil namun pengalaman kali ini saya pikir sangat cocok untuk mereka di desa, dengan modal sedikit dan sumber pakan ada di desa, pelan tapi pasti bisa menghasilkan apalagi listrik ada sehingga aktivitas mereka lebih banyak. Bisa menenun di malam hari sekaligus bisa mengurus ayam,” tambahnya. (bev/ol)