Lockdown bakal Memperparah Pariwisata

berbagi di:
Abed Frans

 

 

 

Kebijakan karantina wilayah (lockdown) diharapkan tidak ditempuh oleh pemerintah daerah di NTT dalam mencegah penularan virus Corona (Covid-19). Dengan kondisi saat ini saja semua sektor terdampak.

Keadaan diperkirakan akan bertambah sulit jika lockdown diberlakukan dan sektor pariwisata akan terkena langsung. “Berbagai sektor bisnis mandek, dan banyak yang mulai kesulitan membayar gaji karyawaan seperti sektor pariwisata, ungkap Ketua Asita (Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies) Provinsi NTT Abed Frans saat dihubungi VN, Sabtu (28/3).

Menurutnya, lockdown wilayah NTT akan memperparah kestabilan daerah dan kondisi ekonomi saat ini. Jika terpaksa dilakukan maka lockdown terbatas disertai penegakan kesisiplinan warga untuk mengisolasi diri secara mandiri. “Semoga tidak terjadi lockdown full, ya, atau lockdown terbatas saja. Karena dampaknya bisa sampai terjadi chaos karena ekonomi tidak bisa berjalan,” tambahnya.

Kerugian yang dialami para pelaku usaha, cukup besar dan terjadi sejak Februari lalu akibat situasi yang tidak memungkinkan di tengah kewaspadaan semua pihak terhadap dampak covid-19.

“Ya ini situasi sulit, ya. Semua sektor terkena imbasnya, dan sektor pariwisata paling terkena. Kerugian yang ditimbulkan dari situasi itu terlalu besar. Praktis mulai dari Februari kemarin industri pariwisata, khususnya travel agent dan tour operator tidak bisa bekerja,” bebernya.

Ia berharap adanya regulasi pemerintah untuk membantu sektor pariwisata bertahan dalam situasi darurat pendemi ini. Regulasi ini berkaitan dengan restrukturisasi angsuran pinjaman dan tentunya intensif agar membantu para karyawan sektor pariwisata.

“Dari kerugian-kerugian itu banyak sekali perusahaan yang terpaksa merumahkan karyawannya, termasuk di industri pariwisata sendiri. Sebab jangankan menggaji karyawan, untuk membayar abonemen saja sangat berat kalau tidak ada pemasukan sama sekali,” bebernya.

Senada, Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Manggarai Barat, Silvester Wangge mengatakan, pendapatan hotel dan restoran terus menurun saat ini. Pihak hotel terpaksa merumahkan sebagian karyawannya.

Hotel di Labuan Bajo ada 102 unit. Semuanya sepi dari hunian. Usaha kuliner pun. Labuan Bajo sebagai kota wisata sangat terpukul karena penerbangan internasional ditutup.

“Wisatawan lokal maupun asing saat ini menahan diri untuk liburan. Maka Manggarai Barat sebagai kota tujuan pariwisata sangat merasakan dampaknya,” kata dia. (mg-06/sat/S-1)