Mabar Siaga Satu Kekeringan BPBD masih ‘Ngemis’ ke Pusat

berbagi di:
foto-hal-01-cover-antre-air-di-mabar

Warga Kampung Mberata, Desa Macang Tanggar, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat sedang antre untuk mendapatkan air bersih, kemarin. Foto: Gerasimos Satria/VN

 

 

Gerasimos Satria

Enam wilayah kecamatan di Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Nusa Tenggara Timur sudah dalam status siaga satu kekeringan. Meski demikian, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mabar belum melakukan tindakan apa-apa. Alasannya, masih “mengemis” dana ke Badan Pusat Penanggulangan Bencana Nasional di Jakarta.

Kepala BPBD Mabar, Dominikus Hawan saat dikonfirmasi VN, Selasa (13/8) siang, mengakui bahwa pihaknya sejauh ini belum mendistribusikan bantuan air bersih kepada warga yang krisis air bersih akibat dilanda kekeringan parah.

Dominikus Hawan mengaku pihaknya hingga saat ini masih menunggu realisasi bantuan anggaran Rp200 juta dari Badan Pusat Penanggulangan Bencana Nasional di Jakarta. Agaran Rp 200 juta itu diusulkannya untuk mengatasi masalah kekeringan di Mabar.

“Waktu rapat di tingkat provinsi di Kupang minggu lalu, kami usulkan Rp200 juta dan itu diteruskan ke Pusat. Jadi kami masih menunggu itu,” ucap Domi Hawan.

Ia membenarkan selama ini pihaknya belum menyalurkan bantuan air minum bersih kepada warga lantaran keterbatasan dana. Pihaknya sudah menyampaikan keterbatasan anggaran tersebut kepada Bupati Mabar agar ada jalan keluar untuk mengatasi masalah kekeringan tersebut.

Dia meminta masyarakat yang menjadi korban bencana kekeringan di Manggarai Barat agar bersabar. Jika pihaknya memiliki anggaran, maka pihaknya akan segera menyalurkan bantuan air bersih.

“Sejauh ini kami belum bisa lakukan apa-apa. Kami belum menerima anggaran untuk berbuat sesuatu mengatasi bencana kekeringan ini,” kata dia.

Wakil Ketua DPRD Mabar, Abdul Ganir meminta BPBD Mabar segera menanggulangi bencana kekeringan di seluruh wilayah Mabar dengan membuat rancangan anggaran dalam pembahasan perubahan APBD 2019. BPBD juga diminta segera memetakan wilayah mana saja yang terdampak kekeringan dan harus segera ditangani.

“Jangan setiap kali kekeringan begini terus. Mulai sekarang BPBD buat suatu rancangan anggaran agar setiap tahun tidak masalah itu-itu saja. Di samping itu juga harus ada solusinya,” tegas Ganir.

Bencana kekeringan di Mabar, menurut dia, sering terjadi dan merupakan peristiwa tahunan. Meski demikian, pihaknya menjelaskan bahwa tidak semua masalah kekeringan dapat diatasi secara cepat. Tentu membutuhkan anggaran yang tepat.

Sebelumnya, Bupati Manggarai Barat Agustinus Ch Dula sudah menerbitkan Keputusan Bupati Mabar Nomor 153/Kep/HK/2019 tentang Siaga Darurat Bencana Kekeringan pada 22 Juli lalu.

Siaga bencana kekeringan ini di nilai terparah di tahun ini. Enam kecamatan diterpa kekeringan ekstrem, empat dalam kondisi paling parah, yakni Kecamatan Komodo, Lembor Selatan, Welak dan Kecamatan Boleng. Dua kecamatan lainnya yang juga kekeringan adalah Mbliling dan Kecamatan Bari.

Pantauan media ini, warga Labuan Bajo, tepatnya di Kampung Waetuak, Desa Batu Cermin, Kampung Loboh Husu di Desa Golo Bilas, Desa Macan Tanggar, Desa Tiwu Nampar, Desa Golo Pongkor di Kecamatan Komodo menggalami krisis air bersih.

Warga di daerah itu harus berjalan kaki sejauh 3,5 km untuk mengambil air untuk keperluan sehari-hari. Sebagian warga secara patungan mengumpulkan uang untuk membeli air dari mobil tangki air 5.000 liter seharga Rp 250.000/tangki.

“Ada yang jalan kaki sejauh 3,5 kilo untuk pikul air. Yang lainnya yang mampu patungan uang untuk beli air,” keluh warga Mberata, Rofinus Nganggu kepada VN. (sat/S-1)