Mahasiswi “Melahirkan Paksa” di Kamar Mandi Kos

berbagi di:
Kamar mandi yang digunakan Noviana untuk melahirkan paksa bayinya kini dipasang police line. (INZET) Inilah jasad bayi laki-laki Noviana.

Kamar mandi yang digunakan Noviana untuk melahirkan paksa bayinya kini dipasang police line. (INZET) Inilah jasad bayi laki-laki Noviana. Foto: Mutiara/VN

 

Mutiara Malahere

Diduga malu menanggung aib hasil hubungan gelap, membuat Noviana alias Novi, memilih menggugurkan kandungannya sendiri yang baru berusia enam bulan, Minggu (1/10) sekitar pukul 09.00 Wita. Akibatnya, bayi malang berjenis kelamin laki-laki tersebut akhirnya meninggal dunia.

Peristiwa “melahirkan paksa” yang dilakukan mahasiswi Politeknik Kesehatan Kupang tersebut terjadi di kamar mandi “Asrama Yopi B” yang terletak di Jalan Dalekesa, RT 16/RW 06, Kelurahan Oesapa, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Anak pemilik kos, Yuni Isliko mengatakan ketika ia hendak mengantarkan adiknya kepada orangtua di belakang rumah, ia melihat pintu kamar mandi terbuka lebar dan terdapat banyak darah berceceran.

Tiba di rumah, Yuni memberitahukan kepada ayahnya Xaverius Isliko (60), namun sang ayah berpikir bahwa darah tersebut kemungkinan darah haid sehingga tak ditanggapi serius.

“Saya memberitahukan Bapak bahwa ada darah di dalam kamar mandi, namun menurut ayah bahwa darah itu mungkin haid. Tapi saya masih penasaran, sehingga saya dan ayah langsung periksa kamar mandi,” ungkap Yuni.

Ory Objan (22) yang baru saja pulang dari gereja, diajak pemilik kos untuk memeriksa darah di dalam kamar mandi. “Saat saya cek ternyata memang darah di dalam kamar mandi sangat banyak. Bahkan saya juga lihat kaki manusia, sehingga saya langsung memberitahukan bapak kos dan kakak laki-laki Novi yang baru pulang dari gereja,” ungkap Objan.

Kristian Tena (23), kakak Novi kemudian memintanya membantu mengangkat Novi dari kamar mandi ke dalam kamarnya.

Setelah itu dia langsung memberikan pertolongan pertama dengan memberi minum susu Indomilk cokelat sambil menunggu angkutan untuk mengevakuasi Novi ke RSUD SK Lerik, Kota Kupang.

Sekitar pukul 12.00 Wita, anggota dan tim identifikasi Polres Kupang Kota langsung melakukan olah TKP dan mengamankan jasad bayi ke RSB Titus Uly Kupang. Penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Kupang Kota juga telah melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi.
Novi Pendiam
Pemilik kos Asrama Yopi B, Wilhelmina Nenobais-Isliko mengatakan Novi termasuk anak yang pendiam di lingkungan kos. Novi sudah tinggal di kos tersebut sejak Maret 2016.

Tidak banyak orang yang mengenal Novi, karena ia jarang bersosialisasi dengan orang lain dan kehamilannya pun tidak pernah diketahui siapa pun.

“Kami tidak tahu bahwa Novi sudah hamil, sebab dia selalu sibuk dengan kuliahnya, serta dia juga selalu menggunakan pakaian yang berukuran besar dengan tujuan untuk menyembunyikan kehamilannya,” ungkap Wilhelmina.

Terkait kesibukan Novi, tambah Wilhelmina, pengakuan teman kos, Novi sedang menjalani praktek kuliah lapangan di Puskesmas Oepoi, dan pulangnya pun tidak tentu.

“Dia pulang dari kampus sudah sore hari, malam, bahkan hingga pagi hari, dan kami tidak pernah tahu kesibukannya, termasuk hubungan asmara dan kekasihnya,” ungkapnya.

Wilhelmina mengaku sangat kaget karena Novi nekat mengeluarkan janin secara paksa dari dalam rahimnya dan kemungkinan memotong tali pusar bayi dengan menggunakan sebilah pisau dapur.

“Saya sempat lihat ada pisau kecil bergagang merah di dalam kamar mandi. Kemungkinan Novi pakai untuk memotong tali pusar bayi, dan pisaunya telah disita polisi sebagai barang bukti,” ungkapnya.

Ia menyerahkan masalah ini kepada pihak kepolisian dan berharap dapat mengusutnya hingga tuntas.