Masyarakat Harus Bijak Bermedia Sosial

berbagi di:
Elcid Li

Elcid Li

 

 

 

 

Sinta Tapobali

Penggunaan media sosial di masa pandemi Covid-19 begitu pesat berkembang.

Penerapan social distancing dan work form home memberi lebih banyak waktu bagi pengguna media sosial untuk bisa berselancar di dunia maya. Pengguna media sosial pun bervariasi mulai dari anak-anak, remaja dan dewasa dengan berbagai tujuan.

Pengamat sosial, Elcid Li menilai setiap informasi yang tersebar di media baik itu media daring, Facebook, Twitter maupun Instagram serta WhatsApp sangat gampang untuk dimanipulasi.

Menurutnya, perkembangan dan penggunaan media sosial saat ini sangat cepat dalam komunikasi. Hal ini karena media sosial digunakan sebagai tempat untuk menyampaikan pendapat berbagai opini dan meningkatkan diskusi juga untuk membangun hubungan dengan orang lain.

Seorang pengguna media sosial perlu mengetahui cara menggunakan media sosial secara cerdas dan sehat. Namun, nyatanya selama ini masih banyak oknum yang menyalahgunakan media sosial untuk kepentingan pribadi atau sekedar menyebarkan isu hoax tentang sebuah informasi.

Ia mengatkaan, pengguna dan penikmat media sosial harus pintar, bijak dan teliti dalam memilah sebuah informasi yang benar dan valid. Banyak yang terjadi saat ini, meski sebuah informasi belum dapat dipastikan kebenarannya namun para pengguna dengan sadar dan dengan sengaja menyebarkan isu-isu tersebut untuk memicu terjadinya konflik-konflik baru.

“Salah satu cara yang bisa disarankan adalah ketika seseorang menerima berita dan meragukan kebenarannya, ia perlu mencari gakta karena saat ini hampir semua media punya cek fakta. Selain itu kita juga harus bisa menginvestigasi atau cek kebenaran di orang lain apakah berita ini benar atau tidak. Tapi sekarang yang terjadi orang itu cenderung tidak mau tahu dan jari ini sangat berbahaya untuk memfitnah orang dan membuat asumsi yang tidak benar. Ini juga menjadi tantangan awak media untuk dapat memverifikasi dan validasi data atau sebuah informasi sehingga orang bisa mendapatkan informasi yang benar dan sudah tervalidasi,” sarannya.

Menurutnya, pengguna media sosial harus bisa mencerna kembali informasi yang telah didapatkan dan jangan langsung membagikan pesan tersebut dan langsung menyebarkan secara personal atau ke grup-grup maupun media sosial lainnya.

Untuk merubah semuanya itu, pengguna harus memiliki etika yang baik dan harus ditanamkan mulai dari diri sendiri, keluarga maupun lingkungan sekitar agar ketika menggunakan media sosial pengguna harus berpikir terlebih dahulu sebelum membagikan berita yang belum jelas sumber informasi dan kebenarannya.

“Maka solusi konkretnya adalah berpikir dulu sebelum membagikan berita yang belum jelas sumber informasinya. Kemudian mencari tahu tentang berita tersebut valid atau tidaknya sehingga kita terhindarkan dari adanya berita hoaks apalagi di tengah prahara Covid-19,” pesannya.

Sementara salah satu dosen psikologi di Universitas Nusa Cendana, Dian Lestari Anakaka mengatakan penggunaan media sosial memberikan dampak positif dan juga negatif.

Dampak positifnya, orang bisa memberi dan mendapatkan pengetahuan baru, keterampilan baru atau inspirasi kehidupan.

Sedangkan negatifnya, melalui media sosial orang bisa menyalurkan hal-hal yang menciptakan kondisi tidak nyaman misalnya menyebarkan hoax, mencaci maki orang lain atau menghina yang arahnya ke perilaku cyberbullying.

Menurutnya, dampak negatif yang di timbulkan biasanya terjadi karena ketika seseorang berada di media sosial, mereka merasakan perasaan bebas yang tidak terkendali. Bagi mereka tidak ada hambatan yang berarti baginya untuk mengekspresikan dirinya karena dunia maya merupakan dunia di mana setiap orang bebas melakukan apa saja.

Menurutnya, tingkat pendidikan menjadi salah satu faktor penentu seseorang berperilaku baik ataupun buruk. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka semakin kecil kemungkinan ia melakukan perilaku negatif.

“Ini adalah hasil penelitian mahasiswa Prodi Psikologi Undana yang saya bimbing atas nama Jonathan Patisina. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin kecil kemungkinan ia melakukan perilaku negatif,” paparnya.

Kepada para pengguna medsos, Dian berpesan pentignya memiliki kendali diri yang baik terutama mengendalikan pikiran dan emosi sehingga tidak mudah terpicu untuk melakukan perilaku yang mengarah pada cyberbullying.

Seementara Hermiana Hurek, salah satu pengguna aktif media sosial mengatakan sejauh ini media sosial membawa dampak yang positif bagi perekonomiannya.

Hampir enam tahun, ia menggunakan media sosial khususnya Facebook dan Instagram untuk menjual makanan maupun barang-barang online.

Ia mengaku selama menjadi pengguna media sosial, ia juga kerap terkecoh dengan informasi-informasi yang beredar yang tidak pasti kejelasan dan kevalidannya.

Meski begitu, ia tetap bersyukur karena dengan adanya media sosial membantunya untuk mempromosikan produk-produk dagangan yang ia jual baik berupa pakaian, tas, sepatu maupun aksesoris lainnya.

Kepada para pengguna media sosial, Erni berpesan agar selalu bijak dalam menggunakan media sosial dan belajar menggunakan media sosial untuk hal-hal yang  positif.

“Banyak anak-anak sekarang yang menggunakan media sosial untuk hal positif tetapi banyak juga yang menggunakannya untuk hal-hal yang negatif. Semuanya itu kembali ke pribadi kita kalau kita bisa memilah informasi dan kebenaran dari suatu berita maka kita tidak akan salah artikan, tetapi sebaliknya maka apa yang kita dapat itu akan merugikan diri maupun juga orang banyak,” ungkapnya. (bev/ol)