Masyarakat Lambakara Manfaatkan DAS Untuk Tanam Jagung

berbagi di:
20190808_070020_002
Warga Desa Lambakara, Melkianus Kawau Rihi Mila tampak sedang membersihkan rumput yang tumbuh di lahan pertanian tempat mereka menanam jagung memanfaatkan air sungai. Gambar diambil, Kamis (8/8). Foto: Jumal Hauteas/VN
Jumal Hauteas
Meski sedang memasuki musim kemarau, warga masyarakat Kampung Laindoli, Desa Lambakara, Kecamatan Pahuma Lodu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur justru memanfaatkan daerah aliran sungai (DAS) di kampung mereka untuk mengolah lahan pertanian yang ada dengan menanam tanaman jagung. Hasilnya akan menjadi bahan pangan keluarga dan juga dijual ke pasar.
Kepada VN, Kamis (8/8), warga Kampung Laindoli Melkianus Kawau Rihi Mila dan Djara Kaling Goru mengaku mereka sudah mengolah lahan pertanian itu lebih drai 10 tahun.
“Kalau hujan kami tanam padi dan juga jagung disini, sedangkan kalau panas begini, kami hanya tanam jagung saja, karena harus pake pompa air, sehingga kalau tanam padi butuh air yang banyak dan biaya operasionalnya besar,” jelas Melkianus.
Djara menambahkan, hasil dari penanaman jagung di lahan pertanian mereka ini biasanya dijual dalam dua jenis, yakni jagung muda dan juga jagung yang sudah kering.
“Tanam pertama ini nanti kita jual saat masih muda, sehingga dua bulan lebih sudah kita jual ke pasar. Kemudian nanti penanaman kedua, kita jual juga saat masih muda. Tetapi sebagian kita kasih tinggal sampai kering untuk kita makan dan kalau ada yang mau beli jagung kering, baru kita jual lagi,” jelasnya.
Untuk mengairi lahan pertanian yang mereka tanam ini, Djara dan Melkianus menggunakan satu unit mesin pompa air untuk mengambil air dari sungai yang ada, kemudian diairi dengan jaringan perpipaan ke lahan pertanian yang lebih tinggi, sehingga kemudian menggunakan daya grafitasi untuk mengairi baris jagung yang sudah ditanami. Sedangkan untuk proses pengolahan lahan, Djara mengaku mereka menyewa hand traktor untuk menghambur lahan pertanian mereka, sekaligus membentuk baris lahan tanah, yang kemudian menjadi baris tanaman jagung, sehingga mudah disiram saat penanaman.
“Kami sewa traktornya biasa Rp 500 ribu, jadi ini tanah sudah dibentuk begini untuk jadi harus jagung, sehingga kami tidak perlu angkat air ke setiap pohon jagung baru siram, tetapi kami cukup pompa air ke atas dan air akan mengalir ke semua barisan jagung,” jelasnya.
Sebelumnya Bupati Sumba Timur, Gidion Mbilijora kepada VN pada acara perayaan Hari Pangan Sedunia mengajak masyarakat Sumba Timur, khususnya yang berada di wilayah DAS untuk memanfaatkan mesin pompa air bantuan pemerintah, maupun yang diadakan sendiri untuk mengolah lahan pertanian yang ada, guna memenuhi kebutuhan pangan keluarga dan juga meningkatkan ekonomi keluarga.
“Kita sudah banyak memberikan bantuan mesin pompa air kepada kelompok-kelompok petani. Jadi kalau musim penghujan mesin pompa air hanya disimpan saja, sekarang saatnya diambil untuk digunakan, supaya pangan keluarga bisa terpenuhi dan juga bisa dijual untuk meningkatkan ekonomi keluarga,” jelasnya.(bev/ol)