Masyarakat NTT Wajib Tolak Radikalisme

berbagi di:
3

Mantan terpidana terorisme Ali Fauzi Mansi memaparkan materi saat acara Rembuk Aparatur Kelurahan dan Desa tentang Literasi Informasi melalui FKPT NTT, di Hotel On The Rock Kupang, Kamis (22/8). Foto: Gregorius Nahak/VN

 

 

Kekson Salukh
Masyarajat NTT harus berani menolak dan mengatakan tidak kepada radikalisme dan terorisme yang mengatasnamakan suku, agama, ras dan antar golongan (SARA).

Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) NTT Sisilia Sona mengatakan itu dalam sambutanya pada kegiatan Rembuk Aparatur Kelurahan dan Desa tentang Literasi Informasi melalui FKPT NTT, di Hotel On The Rock, Kamis (22/8).

Sisilia menjelaskan, kegiatan itu dilakukan untuk memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat, pemerintah maupun aparat keamanan tentang cara menangkal tindakan radikalisme dan terorisme.

Tema kegiatan “Saring Sebelum Sharing” bertujuan melakukan sosialisasi kepada masyarakat bagaimana cara merespons berita hoax yang berujung pada tindakan terorisme.

“Kegiatan ini sangat strategis dan sangat penting untuk kita memberikan edukasi kepada masyarakat, pemerintah kelurahan/desa, TNI dan Polri bagaimana cara menangkal isu maupun tindakan radikalisme dan terorisme,” tandasnya.

Menurutnya, di Indonesia tidak ada agama yang mendukung tindakan terorisme maupun ujaran kebencian atau berita hoaks yang merongrong ideologi Pancasila.
Untuk mengantisipasi tindakan radikalisme dan terorisme, kata Sisilia, maka sangat penting negara harus memberikan pemahaman yang baik kepada masyarakat untuk mendeteksi dan melaporkan segala tindak tanduk yang dilakukan berbagai organisasi masyarakat (Ormas).

Perlu adanya pembangunan jejaring antarsemua elemen masyarakat dalam memberantas aksi terorisme. Pencegahan paham radikal dan teroris perlu sinergitas semua elemen bangsa,” tegasnya.

Paham radikalisme dan terorisme, jelas Sisilia, tidak akan masuk jika masyarakat paham benar akan pentingnya persatuan Bangsa Indonesia. Menghindari adanya berita provokasi yang ingin memecah belah persatuan bangsa melalui paham radikalisme dan terorisme.

“Kegiatan ini melibatkan seluruh komponen, hasil kegiatan ini akan dipublikasikan media massa untuk diketahui publik, sehingga publik tidak gampang terpengaruh dengan doktrin radikalisme dan terorisme,” ujarnya.

Sisilia menambahkan, pencegahan terorisme dan radikalisme tidak sebatas pembubaran terhadap ormas yang berpotensi menyebarkan paham radikalisme dan terorisme. Tetapi, semua elemen bangsa harus berperan aktif memantau aktivitas ormas yang berpotensi menyebarkan paham terorisme.

Selain itu, Sisilia mengaku, media massa memiliki peran yang sangat besar dalam pemberitaaan informasi positif yang mengedukasi masyarakat untuk menolak paham radikalisme dengan kegiatan kearifan lokal.

“Kegiatan ini membuka wawasan dan pemahaman semua elemen masyarakat dalam mencegah terorisme. Kita berharap melalui kegiatan ini, media mampu merilis berita yang benar dan menghindari pemberitaan yang memprovokasi atau berita hoaks,” tegasnya.

Mantan Teroris, Ali Fauzi Mansi yang hadir sebagai pemateri mengatakan, terorisme adalah musuh bersama seluruh elemen bangsa yang harus dilawan. Karena, terorisme pada prinsipnya adalah kegiatan yang merugikan banyak pihak.

Menurutnya, terorisme bukanlah produk dari keputusan yang perorangan, tetapi hasil dari proses panjang yang perlahan-lahan mendorong seseorang komitmen pada aksi kekerasan atas nama Tuhan.

“Terorisme musuh bersama seluruh elemen, Indonesia negara demokrasi bukan negara agama, sehingga jangan syariahkan Indonesia. Banyak teroris yang melakukan kekerasan dengan mengatasnamakan agama.” pungkasnya.

Sesuai hasil riset Marc Segeman, 90 persen mereka yang bergabung menjadi teroris dikarenakan hubungan pertemanan dan persaudaraan. Selain itu, kata dia, di dorong empat faktor dominan diveraksi terorisme, yaitu paham keagamaan yang berlebihan (fanatik), reaksi terhadap penindasan, konflik sektarian, dan pengaruh terorisme global.

“Keberhasilan kelompok radikal menjadikan wilayah Timur Tengah babak belur, dari situ dapat menginspirasi kelompok radikal lain di beberapa wilayah untuk melakukan hal yang sama termasuk di Indonesia, maka perlu sinergitas antar seluruh elemen untuk menangkal isu maupun tindakan radikalisme dan terorisme,” tegasnya.

Ia menambahkan, di NTT sendiri sesuai pandangan dia belum terlalu banyak tindakan radikalisme. Namun, sosialisasi pencegahan sejak dini harus terus dikampanyekan agar pemuda-pemudi bangsa tidak terpengaruh dengan paham radikalisme dan terorisme.

Lurah Oebobo, Jhon Purba yang dimintai tanggapannya mengatakan, kegiatan tersebut bermanfaat untuk mengedukasi pemerintah maupun masyarakat untuk mencegah masuknya paham radikalisme dan terorisme.
Namun, kata Jhon, pada kegiatan berikutnya pemerintah perlu melibatkan berbagai tokoh agama dan tokoh pemuda atau anggota organisasi kepemudaan yang ada di NTT, sehingga semua pihak dapat berperan aktif menangkal paham radikalisme.

“Kita apresiasi kegiatan ini, kita berharap pada kegiatan selanjutnya dapat melibatkan anggota organisasi kepemudaan di Kota Kupang yang notabene adalah pemuda-pemudi bangsa, sehingga mereka dibekali pemahaman-pemahaman anti paham radikalisme dan terorisme,” jelasnya. (mg-10/R-4)