Masyarakat Oepoli Minta Puskesmas Terapung

berbagi di:
Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat (tengah) berdialog dengan Amfoang di Desa Netemnanu Utara, Kecamatan Amfoang Timur, Jumat (26/10).

Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat (tengah) berdialog dengan Amfoang di Desa Netemnanu Utara, Kecamatan Amfoang Timur, Jumat (26/10).

 

Jumul Hauteas

Eksina Sora dari Puskesmas Oepoli sempat mengeluhkan beragam keterbatasan yang dialami, di antaranya keterbatasan tenaga medis dan juga sarana prasarana penunjang pelayanan kesehatan. Apalagi Puskesmas Oepoli melayani lima desa dengan kondisi medan yang sulit, tidak mempunyai tenaga dokter umum, dokter gigi, dan perawat gigi.

“Tenaga kesehatan lingkungan, farmasi, semuanya tidak ada. Pasien rujukan tak bisa dibawa ke RSUD Naebonat karena jarak tempuhnya sangat jauh,” ujar Eskina kepada Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat saat berdialog dengan Amfoang di Desa Netemnanu Utara, Kecamatan Amfoang Timur, Jumat (26/10)..

Masyarakat Amfoang Timur meminta Puskesmas Terapung (Pusling laut) sehingga para medis bisa mencapai Kupang dalam tempo sekitar tiga jam dan pasien rujukan bisa diselamatkan.

Sementara Riki Kameo, salah satu petani di Amfoang Timur, mengatakan, lahan dan air sebenarnya cukup untuk kebutuhan pertanian. Namun, Amfoang Timur hanya ada dua tenaga penyuluh pertanian lapangan (PPL) dari Kabupaten Kupang.

“Dua orang PPL itu pun sudah tua dan mereka berdua hanya berfungsi dari sisi administrasi saja, tidak ada aksi di lapangan sebagai penyuluh,” katanya.

Menurutnya, masyarakat Amfoang berterimakasih kepada Gubernur VNL, karena sejak NTT berdiri tahun 1958, baru kali ini Amfoang dikunjungi Gubernur.

Dia juga mengungkapkan Polsek setempat tak memiliki kendaraan operasional. Polisi yang bertugas kebanyakan menggunakan sepeda motor milik pribadi, maupun jasa ojek. Camat Amfoang pun, kata dia, tidak memiliki kendaraan operasional.

Mendengar itu, Gubernur menyatakan akan memberikan bantuan mobil operasional untuk Polsek, Koramil, Puskesmas, dan Pos-AL di Amfoang Timur masing- masing satu unit.

Dia juga menyatakan akan mengirim lampu yang bahan bakarnya tidak menggunakan minyak tetapi air laut. Sebanyak seribu lampu akan dikirim untuk membantu masyarakat, pihak gereja, Polsek, Koramil, dan Puskesmas.

Kepala Badan Pengelola Perbatasan Paul Manehat yang memandu dialog VBL dengan warga, membeberkan persoalan perbatasan dengan Timor Leste, di antaranya di Dusun Naktuka. Persoalan tapal batas wilayah ini belum tuntas disepakati sampai saat ini.

Gubernur VBL menegaskan bahwa masyarakat Oepoli dengan masyarakat Timor Leste sesungguhnya secara sosial budaya sama. Masyarakat kedua wilayah itu dibatasi secara politik, namun aspek sosial tidak.

“Karena itu saya mau membangun komunikasi dan berbicara dengan raja Ambenu di Oekusi, agar saat saya bangun kawasan perbatasan, garis batas politik tak boleh hambat kemakmuran masyarakat di sini,” kata Gubernur VBL.

Dia menegaskan tapal batas yang ada adalah garis politik dan kedaulatan negara, dan bukan batas sosial dan budaya masyarakat. Sengketa perbatasan tidak boleh menghambat upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah perbatasan.

Dialog Gubernur VBL dengan masyarakat Amfoang itu mengusung tema “Nekaf Mese Ansaof Mese, Atoni Pah Meto” dengan sub tema “Membangun Kawasan Perbatasan Menuju NTT Bangkit-NTT Sejahtera”. (mg-01/H-2)