Media Massa di Daerah Pilkada harus Netral

berbagi di:
img-20201017-wa0015

 

Abraham Maulaka
Kepala Diskominfo NTT

 

 

 

Putra Bali Mula

 
KEPALA Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Provinsi NTT, Abraham Maulaka atau Aba Maulaka menekankan kepada media massa agar berada dalam posisi netral dan menjunjung integritas dalam pemberitaan mengenai Pilkada yang sementara ini berlangsung di beberapa kabupaten di NTT.

Aba Maulaka menegaskan hal tersebut saat dihubungi VN melalui sambungan telepon, Sabtu (17/10).

Dalam praktiknya, kata dia, pemberitaan media atau kerja wartawan diharapkan tidak lebih mementingkan salah satu paket atau pasangan calon pemimpin daerah yang bertarung.

Untuk persoalan ini, ia menilai jurnalisme adalah tugas mulia yang sedang dilakukan para pekerja media. Demikian maka media massa dan wartawan perlu bekerja sesuai kode etik profesi, mengutamakan kepentingan masyarakat umum di atas kepentingan politik, pribadi maupun kelompok tertentu.

“Itu mempengaruhi profesionalitas wartawan menjadi tidak bagus. Sebenarnya teman-teman, insan pers tidak boleh seperti itu. Jurnalisme adalah mulia dan kami yakin percaya profesionalisme wartawan adalah kemuliaan bagi banyak orang,” tukas Aba Maulaka.

Lebih lanjut, ungkap dia, media massa sebagai salah satu pilar demokrasi tentunya perlu menjaga integritas dengan mencerdaskan masyarakat yang nanti menggunakan hak suaranya lewat informasi yang berimbang. Tidak sebaliknya, media massa malah menjadi alat untuk memenangkan salah satu kandidat politik.

Untuk itu, ia mengajak seluruh media baik media massa online maupun mainstream untuk memberikan informasi konstruktif kepada masyarakat dan menjaga agar situasi di daerah pilkada di NTT tetap kondusif.

“Media massa ini, semua yang menggunakan media apapun harus dapat menjaga kesatuan dan persatuan, memberikan nilai-nilai positif dan konstruktif. Oleh karena itu media online maupun mainstream diharapkan bisa menggunakan Undang-Undang Kebebasan Pers itu sebagai acuan, menjadi dasar dalam menyampaikan pemberitaan,” sambung dia.

Aba juga menyebut profesionalisme media massa NTT saat ini masih rendah. Hal itu berdasarkan hasil survei kemerdekaan pers yang telah diperolehnya. Untuk itu pihaknya melakukan validasi jumlah media massa agar dapat memberikan peningkatan kapasitas dan kapabilitas profesi.

Sebelumnya, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) NTT menilai daerah pilkada yang lebih rawan konflik adalah daerah yang mana terjadi pertarungan antara dua paket atau head to head. Malaka misalnya.

Untuk itu Kepala Badan Kesbangpol NTT, Yohanes Oktovianus menegaskan agar pasangan calon bupati dan wakil bupati bersama tim sukses masing-masing bersikap cerdas dan dewasa. Hal tersebut untuk mendukung terjadinya pesta demokrasi yang jujur dan adil bagi masyarakat.

“Berikan didikan dan informasi yang benar kepada masyarakat bukan mendidik masyarakat untuk mencela. Semakin banyak informasi yang baik maka tentu bangsa kita semakin baik tapi bila hal yang negatif ada datang dari politisi maka masyarakat pendukung pasti berpikir negatif,” tukas dia kepada VN saat ditemui di ruang kerjanya pada Rabu (14/10).

Sementara itu ia juga mengingatkan kepada pada calon kepala daerah yang bertarung untuk mengkampanyekan sesuatu hal seusai dengan kompetensi dan kapasitas masing-masing, bukan hoax, dan utamanya agar tidak ada saling cela.

“Berikan pikiran yang cerdas, yang sebenar-benarnya, bukan sekedar untuk melunakkan hati masyarakat atau untuk menaikkan pamor, tapi harus bisa menunjukkan komitmen yang tinggi, bukan koar-koar sesuatu yang mustahil karena itu sering terjadi,” ungkapnya lebih lanjut.

Ia juga menyebut tim sukses sebagai aktor dalam upaya penenangan calon yang diusung akan terus dipantau sehingga tidak menimbulkan hal-hal yang mengganggu keamanan dan ketertiban suatu daerah.

“Saya mengajak tim sukses untuk rendah hati bukan untuk memanasi keadaan apalagi menggunakan cara-cara yang kasar,” tandasnya. (Yan/ol)