Bongkar Praktik Pungling di SDN Bestobe, Seorang Pelajar SMA malah Dijadikan Tersangka

berbagi di:
img-20210222-wa0031

 

Sebastianus Naitili, siswa kelas XII  padoa salah satu SMA di Kabupaten TTU.

 

 
Gusty Amsikan

 

 
SEBASTIANUS Naitili, seorang siswa kelas XII  pada salah satu Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) dijadikan tersangka setelah mengunggah pernyataan terkait dugaan pungutan liar (pungli) beasiswa Program Indonesia Pintar (PIP) yang terjadi di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Bestobe, Kecamatan Insana Barat, di media sosial.

Sebastianus dilaporkan oleh salah seorang oknum guru PTT di SDN Bestobe, Wilfrida Una Naisoko, kepada pihak Polres TTU atas dugaan pencemaran nama baik. Pasalnya, dalam postingannya di media sosial, Sebastianus menyebut bahwa Wilfrida diduga melakukan pungli sebesar Rp 25.000 per siswa, setiap kali orangtua/wali murit menerima dana PIP di bank penyalur. Sebastianus saat ini telah menjalani pemeriksaan sebagai tersangka di Polres TTU.

Hal tersebut disampaikan Direktur Lakmas NTT, Victor Manbait, kepada wartawan Senin (22/2) di Kefamenanu.

Manbait mengatakan awalnya Sebastianus  mendengar cerita dari ibunya bahwa besaran beasiswa PIP yang diterima adiknya seharusnya Rp 450.000, namun dipotong sebanyak Rp 25.000 dan diberikan kepada salah seorang guru bernama Wilfrida Una Naisoko. Karena merasa janggal, Sebastianus lalu menanyakan alur pemotongan beasiswa PIP kepada teman-temannya. Dari penjelasan teman-temannya, ia kemudian tahu bahwa pemotongan  beasiswa PIP tidak diperbolehkan dengan alasan apapun.

Karena ingin memperoleh penjelasan lebih detail,  pada 16 Juli 2020 Sebastianus memutuskan mengunggah pernyataan dan pertanyaan  di salah satu grup facebook dengan tujuan meminta masukan dari para pengguna facebook terkait  prosedur dan aturan penyaluran dana PIP. Namun, keesokan harinya, Sebastianus langsung didatangi dan dijemput paksa oleh Wilfrida Une Naisoko menuju ke kediaman Wilfrida.

Dalam kesempatan tersebut, Sebastianus mengaku ditekan dan dipaksa untuk menyebutkan nama orang yang menyuruhnya mengunggah tulisan di Facebook. Dia dituduh diperintahkan oleh  Ketua BPD Desa Subun Bestobe, Kanis. Hal itu membuatnya takut dan bingung mengigat unggahannya di media sosial merupakan keinginannya sendiri dan bukan atas suruhan atau permintaan orang lain. Karena ditekan dan diinterogasi terus-menerus,  Sebastianus terpaksa mengiyakan pernyataan mereka tersebut untuk mengakhiri interogasi yang baginya.
Setelah proses interogasi tersebut, Wilfrida kemudian membuat laporan polisi di Polres TTU tentang dugaan pencemaran nama baik.

“Sebastianus ini mengunggah pertanyaan dan pernyataan terkait dugaan pungli dana beasiswa PIP di SD Negeri Bestobe, karena adiknya juga termasuk salah satu siswa yang menjadi korban praktik pungli itu. Sebastianus justru dipolisikan karena unggahannya. Sekarang sudah jadi tersangka dan sedang menjalani pemeriksaan,” jelas Manbait.

Terpisah Wilfrida Una Naisoko, ketika dikonfirmasi membantah keras tudingan praktik pungli yang dialamatkan padanya. la menegaskan tidak pernah melakukan pungli uang beasiswa PIP dengan besaran Rp 25.000 per siswa. Ia telah menjadi korban pencemaran nama baik karena postingan siswa SMA tersebut, tanpa
melalui klarifikasi dengan dirinya terlebih dahulu. Hal itulah yang mendorongnya melaporkan sang siswa SMA kepada pihak kepolisian.

“Saya merasa dirugikan karena itu saya lapor polisi,” pungkasnya.

Sementara pada Senin (22/2), sejumlah orang tua murid mendatangi Polres TTU dan melaporkan secara resmi tindak pidana pungutan liar bernomor STPL/59/II/2021/NTT/RES TTU.

Laporan tersebut diduga berkaitan pungutan liar terhadap dana PIP yang terjadi di Sekolah Dasar Negeri Bestobe. (Yan/ol)