Menjaga Magnet Komodo dan Labuan Bajo

berbagi di:
foto-hal-04-ilustrasi-opini-satu-071020

Oleh Paul J Andjelicus
(Perencana Muda Dinas Parekraf Provinsi NTT;
Anggota Ikatan Arsitek Indonesia Provinsi NTT)

 

 

LABUAN Bajo telah menjadi magnet wisata yang kuat dan bertumbuh cepat setelah ditetapkan menjadi kawasan wisata super prioritas segmentasi premium serta termasuk dalam Rencana Pembangunan 10 Kawasan Bali Baru. Labuan Bajo juga sudah ditetapkan menjadi tuan rumah pertemuan ASEAN Summit tahun depan dan puncaknya KTT G-20 tahun 2023. Sejumlah pembangunan di kawasan Labuan Bajo terus dilaksanakan khususnya percepatan pembangunan infrastruktur pariwisata meliputi pengembangan Bandara Komodo, penataan kawasan kota dan pelayanan air bersih. Tahun 2020 biaya untuk pengembangan KSPN Labuan Bajo mencapai 1,7 Triliun yang tersebar di beberapa kementerian seperti PUPR, Perhubungan dan Parekraf. Untuk pengembangan Labuan Bajo, Presiden Jokowi telah menginstruksikan 7 langkah penanganan yang harus dilakukan untuk pembangunan LB yaitu: panataan kawasan, infrastruktur, SDM, legalitas lahan, ketersediaan air baku, keamanan wisatawan dan promosi. Hal ini untuk memastikan Kawasan Labuan Bajo menjadi destinasi wisata super premium dalam arti pelayanan jasa pariwisata yang berkualitas, mengedapankan privasi dan ketenangan, selaras dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan hidup dan membentuk pengalaman wisata terbaik yang didapat dari hal unik dan otentik.

Labuan Bajo menjadi kota yang sangat strategis karena merupakan gerbang masuk dan keluar bagian barat Flores menuju kawasan wisata Taman Nasional (TN) Komodo dan kawasan wisata lainya di Flores seperti Wae Rebo di Manggarai, Danau Tiga Warna Kelimutu di Ende sampai ujung Timur Flores. Posisi ini menempatkan Labuan Bajo sebagai titik kumpul wisatawan dan tempat transisi sebelum dan atau sesudah melakukan perjalanan wisata dengan mengisi waktu luang dengan berbagai aktivitas.

 

Melindungi Keaslian Habitat Komodo

 

Setelah ditetapkan sebagai salah satu dari The New Seven Wonders, pesona komodo semakin terkenal dengan meningkatnya kunjungan wisatawan ke TN Komodo dalam 5 tahun terakhir. Pada tahun 2014 tercatat 80.000 wisatawan dan tahun 2018 telah menjadi 170.000 wisatawan dengan sekitar 60 % merupakan wisatawan mancanegara. Peningkatan kunjungan ini tentu di satu sisi menjadi tekanan terhadap lingkungan habitat komodo. Data Kementerian KLH menunjukkan populasi komodo selama 5 tahun terakhir mengalami fluktuaktif dengan trend relatif stabil antara 2400-3000 ekor dengan tahun 2016 tercatat 3012 ekor dan 2017 menjadi 2762 ekor. Rencana strategis pun disusun dalam rangka konservasi komodo, salah satunya adalah rencana penetapan sistem keanggotaan dan kuota kunjungan untuk masing-masing titik lokasi sesuai kapasitas daya dukung lingkungan. Hal ini dilakukan untuk membatasi kunjungan, melindungi lingkungan habitat komodo, meningkatkan pendapatan dan sekaligus meningkatkan pelayanan wisata dengan kategori super premium.

Komodo dan keaslian habitatnya di kawasan seluas 173.300 Ha ini perlu dilindungi. Unik, langka dan tak tergantikan dengan menawarkan pengalaman liar dan berharga menjadi magnet utama bagi pengunjung. Sehingga dalam pengelolaan kawasan ini telah dibagi dalam 9 zona mulai dari zona inti, zona rimba sampai zona khusus permukiman tradisional. Pengembangan berbagai fasilitas pelayanan wisata perlu dibangun seminimal mungkin, diperuntukan untuk kegiatan penelitian dan konservasi serta hanya dapat dibangun di zona pemanfaatan wisata daratan seluas 824 Ha. Contohnya pembangunan Taman Komodo di Pulau Rinca yang menawarkan atraksi komodo ala Jurasic Park. Taman ini dilengkapi bangunan pusat informasi, souvenir, kantor pengelola, penginapan untuk tamu dan ranger. Kehadiran fasilitas ini tentu akan membuat wisatawan merasa aman dan nyaman dalam berpetualang alam liar purba di TN Komodo. Namun harus dipastikan dibangun pada zona yang tepat yaitu zona pemanfaatan wisata daratan tadi. TN Komodo harus tetap natural, pembangunan segala fasilitas wisatawan disarankan dibangun di luar kawasan seperti di Labuan Bajo dan sekitarnya. Masih adanya sejumlah penolakan dari masyarakat terkait pembangunan di TN Komodo, perlu dilihat dalam konteks semangat untuk melindungi keaslian habitat komodo agar tidak hilang. Hilangnya habitat komodo, hilangnya komodo, maka hilangnya magnet utama kawasan ini.

 

Menuju Kota Pariwisata

 

Kota Labuan Bajo sebagai pintu masuk utama menuju TN Komodo menjadi magnet tersendri dan terus mengalami peningkatan kunjungan wisatawan (wisman dan wisnus) secara signifikan yang semula 61.000 tahun 2017 menjadi sekitar 187.000 pada tahun 2019. Semakin tumbuhnya sektor pariwisata diharapkan akan menumbuhkan lapangan kerja baru dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi kawasan sekitar. Sehingga penyediaan fasilitas perkotaan dan penyediaan produk wisata kota untuk mendorong kegiatan pariwisata sangat penting guna meningkatkan lama tinggal wisatawan. Melihat hal ini maka Labuan Bajo berpotensi menjadi kota pariwisata (urban tourism) dengan membangun kotanya menuju kota modern yang berkelanjutan, humanis dan memiliki ciri khas dan identitas yang kuat seperti kota wisata lainnya.

Ketersediaan sarana dan prasarana kota yang lengkap merupakan syarat mutlak sehingga membuat pengunjung bisa berlama-lama menghabiskan waktu di Labuan Bajo karena mendapatkan pengalaman wisata terbaik dari hal unik dan otentik. Namun perlu diperhatikan prinsip–prinsip dalam pembangunan pariwisata kota antara lain keterlibatan masyarakat setempat sehingga tercipta adanya keseimbangan antara kebutuhan masyarakat dan wisatawan, bersifat multiflier effect bagi sektor lain dan yang penting menjamin keberlanjutan khususnya terkait penggunaan sumber daya alam.

Citra kota Labuan Bajo yang masih menampilkan sejumlah masalah seperti sampah, kekurangan air bersih, tata kota yang semrawut harus segera ditangani. Karena citra kota menjadi karakter kota yang menjadi kekuatan sebuah kota sebagai merek/brand yang melekat di hati masyarakat. Branding kota dapat dijadikan strategi kota untuk membuat positioning yang kuat terhadap kota lain, membentuk identitas kota guna memasarkan segala kegiatan dan budaya yang ada pada kota tersebut. Identitas kota terbentuk oleh kondisi, karakter dan keunggulan kompetitif yang dimiliki kota tersebut yang unik, khas dan istimewa.

Sejumlah langkah telah dilakukan untuk menata kota Labuan Bajo sejak tahun 2018 agar punya keunggulan tersebut meliputi rencana penataan Kawasan Kota Lama dengan konsep Waterfront City yang meliputi zona Bukit Pramuka, Zona Kampung Air, Zona Dermaga, Zona Pantai Marina dan Zona Kampung Ujung. Kawasan–kawasan ini didominasi oleh ruang – ruang publik seperti plaza, amphitheatre dan jalur pedestrian. Juga penyediaan infrastruktur dasar publik kota seperti air bersih, sanitasi lingkungan, penanganan sampah dan kelistrikan yang selama ini masih menjadi masalah kota.

Penyempurnaan kembali rencana tata ruang wilayah perlu dilakukan dengan memperhatikan rencana pengembangan Labuan Bajo sebagai kawasan wisata super premium dan potensi pariwisata yang akan dikembangkan sehingga tidak terjadi konflik penggunaan ruang. Perencanaan transportasi massal (sistem BRT dan LRT/MRT) sudah harus dipikirkan sejak awal karena jaringan transportasi menjadi pembentuk kota dan jumlah penduduk kota terus bertambah. Ekspansi rencana pengembangan wilayah seperti pembangunan pelabuhan laut terpadu di Wae Klumbu dan pengembangan kawasan wisata pantai barat (west coast premium zone), akan melahirkan kawasan baru di pinggiran kota seperti perdagangan dan permukiman yang harus diantisipasi sehingga tidak bertumbuh liar (urban sprawl) yang dapat mengurangi citra dan magnet Labuan Bajo secara keseluruhan.