Menjelang HUT Kemerdekaan, Penjual Umbul-umbul Marak di Kupang

berbagi di:
Umbul-umbul

Seorang pembeli sedang memilih umbul-umbul yang dijual di pinggir Jalan Frans Seda, Kamis (30/7). (Foto:Sinta Tapobali)

 

Sinta Tapobali

 

HUT Proklamasi Kemerdekaan RI diperingati setiap 17 Agustus. Masa-masa menjelang HUT Kemerdekaan RI ke-75 tahun 2020 tersebut, dimanfaatkan pedagang umbul-umbul dan Bendera Merah Putih untuk berjualan di pinggir jalanan di Kota Kupang.

Pantauan VN, para pedagang sudah mulai berjualan sejak memasuki pekan terakhir bulan Juli. Mereka memilih ruas Jalan Frans Seda, El Tari dan Timor Raya (sekitar RSUD SK Lerik) sebagai tempat paling strategis menjajakan jualannya.

Selain menjual umbul-umbul dan benderah merah putih, para pedagang juga menjual aneka macam background, layur dan pernak-pernik kemerdekaan lainnya yang bernuansa merah putih dan berlambang Burung Garuda. Mereka aneka pernak-pernik tersebut di pinggir jalan.

Alfin Tamonob, penjual umbul-umbul yang ditemui VN, Kamis (30/7) di Jalan Frans Seda, tepatnya depan Hypermart Bundaran PU mengatakan, sudah sepekan berjualan di tempat tersebut. Dengan harga bervariasi.

“Untuk umbul-umbul yang paling besar dijual dengan harga Rp50 ribu ukuran sedang dijual dengan harga Rp30 ribu dan yang ukuran kecil dijual dengan harga Rp20 ribu. Bendera pun bervariasi mulai dari harga Rp50 ribu, Rp30 ribu dan Rp20 ribu hingga yang terkecil dijual Rp5 ribu,” jelasnya.

Ia juga menjual layur seharga Rp75 ribu dan Destar Rp30 ribu. Dari semua jenis barang yang dijualnya, background abutae dan background burung garuda yang paling mahal harganya, yakni masing-masing seharga Rp350 ribu dan Rp300 ribu.

Selama sepekan ini, Ia mengantongi Rp200 ribu-Rp250 ribu setiap hari. Dibandingkan tahun lalu, setiap hari Ia bisa mengantongi Rp400 ribu-500 ribu.

“Mungkin saat ini karena baru satu minggu jadi sepi. Tambah lagi saat ini karena tidak adanya kegiatan maka satu hari itu hanya mampu mendapat Rp200 ribu sampai Rp250 ribu, nah kalau dibandingkan dengan tahun lalu, satu hari itu saya bisa dapat Rp400 ribu hingga Rp500 ribu, jadi penurunannya cukup besar,” tuturnya.

Total keuntungan yang diperolehnya setiap tahun mencapai empat juta, dengan jangka waktu berjualan sejak akhir Juli hingga 16 Agustus. Ia berharap tahun ini keuntungan yang ia dapatkan tidak menurun dengan adanya pandemi Covid-19.
“Saya jualan sudah tahun dari 2010 dan langganan di distributor yang sama jadi hanya modal percaya saja. Mereka kasih setelah itu saya jual, nanti setelah laku uangnya saya kasih dengan harga yang mereka kasih ke saya dan keuntungannya itulah yang akan saya jadikan sebagai keuntungan bersih saya,” jelasnya.

Rio Banamtuan, penjual lainnya menuturkan, selama sepekan berjualan dagangannya sangat sepi pembeli. Namun Ia tetap optimistis bahwa pernak-pernik kemerdekaan yang Ia jual ini akan terjual habis ketika memasuki bulan Agustus.

“Ini baru bulan Juli belum masuk Agustus jadi saya optimis kalau masuk Agustus nanti barang-barang ini akan laku terjual habis. Meski ada korona tetapi saya tetap optimis, karena kalau saya tidak optimis maka saya tidak akan berjualan. Namanya rezeki itu Tuhan sudah atur, intinya saya berusaha semuanya pasti akan ada jalan,” tandasnya. (yan/ol)