Merajut Asa Menuai Berkah

berbagi di:
img-20210222-wa0007

(Kisah Inspiratif Pemilik Ena Craft Kupang)

 

 

 

Pascal Seran

Jejak langkah hidup setiap orang memang berbeda satu dengan yang lainnya. Akan tetapi, disadari ataupun tidak, dalam tapak kehidupan, setiap orang pasti akan berjumpa dengan banyak kesempatan sebagai tapak awal menuju sebuah keberhasilan.

Adanya kesempatan atau peluang memang bukan jaminan seseorang akan menjadi sukses. Akan tetapi orang yang bisa memanfaatkan dan memaksimalkan kesempatan akan menatap masa depan yang lebih cerah. Ibarat merajut asa menuai berkah.

Bahkan orang bijak sering berujar kesempatan atau peluang tak akan dating untuk kedua kalinya dalam kurun waktu yang singkat. Maka dari itu, perlu mengambil langkah pertama dengan memaksimalkan setiap peluang yang ada.

Hal inilah yang dialami oleh Erna Minarni Hunga dalam merintis usahanya Ena Craft.

Wanita asli Sumba-Jawa ini tidak menyia-nyiakan peluang ketika ia diminta untuk menjadi penerima tamu dalam sebuah acara di Kupang beberapa tahun silam. “Saat itu, kebetulan saya asli Sumba, jadi saya ingin menggunakan aksesoris dari Sumba. Saya mencoba berkeliling untuk menemukan aksesoris itu, tetapi tidak ada,” ujar wanita yang biasa disapa Ena ini.

Kegelisahan akan aksesoris untuk menerima tamu itu justru membuatnya mengambil langkah untuk membuat aksesoris khas NTT.  “Kebetulan saat itu saya juga baru pindah ke Kupang. Belum ada pekerjaan yang cocok untuk saya. Ada rasa bosannya. Dan saya berpikir, saya harus membuat sesuatu yang baru. Minimnya aksesoris yang saya butuh untuk menerima tamu ini saya manfaatkan. Apalagi semua keluarga mendukung langkahnya,” jelas Sarjana Biologi Universitas Duta Wacana, Yogyakarta ini.

Melihat dari latar belakang pendidikannya memang mustahil bila dibayangkan dengan keahlian yang sedang ia kembangkan. “Ayah saya mengajarkan kepada saya agar harus berusaha, menghasilkan uang. Biar sepuluh ribu, yang penting buah keringat sendiri. Ini yang sellalu memotivasi saya dan saudara-saudara saya dalam berusaha,” tegasnya.

“Memang dari Pendidikan saya yang sarjana Biologi memang jauh dari Craft. Tetapi ini peluang yang harus saya manfaatkan,” imbuh Ena sambal menebarkan senyumnya.

Selepas acara itu, ia mulai merakit kain-kain sisa hasil jahitan busana kemudian merakitnya menjadi berbagai aksesoris, seperti kalung, gelang, anting, dan cincin. “Bahkan saat ini juga saya merakit perhiasan etnit NTT dari muti salak,” jelasnya.

Aneka aksesoris yang dihasilkannya memang berkualitas. Tidak heran, beberapa juara pernah dirainya dalam berbagai ajang pameran. “Saya pernah juara pertama pada Expo Sidang Sinode XXXIV di Gereja Paulus, Tahun 2019. Saya juga menyabet stand terbaik dalam ajang itu,” jelas Ena.

Selain itu, Ena juga pernah terlibat dalam Pameran HUT GMIT yang ke-500 di Gereja Syalom Airnona, Kupang, Tahun 2017. Ia juga pernah terlibat dalam pameran Ina Craft di Jakarta Convention Centre, tahun 2019. Dan masih banyak lagi pameran local yang melibatkannya.

“Dalam setiap pameran itu, hasil karya saya diborong hampir habis. Karena selain seni yang saya tampilkan, kualitasnya juga saya jaga,” tandas wanita kelahiran Waingapu, Sumba Timur itu.

Dia mengaku, saat ini, pemasaran hasil kreasinya sampai ke Flores dan Pulau Jawa. “Saya memanfaatkan media social, seperti Facebook untuk memasarkan hasil kreatrivitas saya. Shingga saat ini permintaannya sampai ke Flores dan juga Pulau Jawa,” tegasnya.

Ketika ditanya soal penghasilan yang didapatnya dari usaha yang dijalaninya, dengan wajah ceria ia mengungkapkan, cukup untuk mendukung kehidupan rumah tangga dan berbagi dengan orang lain.

 

Berbagi dengan Orang Lain

Bagi Istri dari Arthur Kadja ini, keahliannya untuk merakit berbagai perhiasan belumlah sempurna jika tidak berbagi dengan orang lain. Menurutnya, ungkapan kasih sayang yang paling indah adalah ketika ia bisa berbagi dengan orang lain.

Berbagi, kata Ena, tidak harus berupa materi atau harta benda seperti uang. “Kita juga bisa berbagi dengan orang lain berupa pikiran dan keterampilan kita,” ungkapnya.

Karena itu di setiap momen, ia tidak hanya menjual aksesoris yang dihasilkannya, tetapi juga mengajarkan kepada orang lain cara merajut kain-kain bekas menjadi aksesoris etnik NTT. “Setiap pameran saya ajarkan para pengunjung. Selain itu ibu-ibu di gereja dan juga di kelurahan yang saya temui pada ajang pemilihan legislatif lalu, saya ajarkan kepada mereka,” ujar Politisi PDIP yang pernah emncalonkan diri pada Pileg 2019 lalu itu.

Dia membeberkan, mungkin persoalan waktu dan juga ketekunan yang membuat para ibu yang diajarkannya tidak melanjutkan pelatihan itu. “memang butuh ketekunan untuk memulai sestau yang baru,” tegasnya.

 

Peluang di Tengah Pandemi

Menurunya permintaan aksesoris etnik NTT di tengah pandemic Covid 19 tidak membuatnya kehabisan akal. Selain tekut pada aksesoris etnik NTT, ia menangkap peluang untuk menjahit masker dari kain sisa jahitan pakaian. Ada kain polos, ada juga kain tenun.

“Memang di tengah pandemic Covid 19 ini permintaannya menurun. Mungkin orang masih fokus pada kesehatan. Tetapi sebuah peluang bagus yang saya tangkap adalah masker dan gantungan masker,” ujar wanita yang mengaku bisa menjahit dan merias orang itu.

Hampir setahun terakhir, kata dia, sudah 4.000 masker yang dihasilkan dan dijualnya. “Saya sampai kewalahan karena saya sendiri yang menggunting dengan berbagai model dan saya juga yeng menjahit. Memang ada yang bantu, tetapi potong kain dan modelnya saya yang buat. Masker yang saya buat juga berkualitas karena ada tiga sampai empat lapis,” terangnya.

 

BIODATA:

Nama                    : Erna Minarni Hunga

TTL                         : Waingapu, Sumba Timur, 17 Juni 1975

Suami                    : Arthur Kadja

Nama Usaha      : Ena Craft

Aktivitas               : – Pengrajin Aksesoris Etnik NTT

–          Pengurus Aras GMIT Gereja Syalom Airnona

–          Ketua Perempuan GMIT Rayon Bakunas 2

–          Aktivis PDIP