Merasa Dihadang Ormas Lain, FORMASI akan Menggalang Kekuatan Massa yang lebih Banyak

berbagi di:
img-20201012-wa0024

 

Formasi saat melakukan aksi di Jalan El Tari, depan gedung DPRD NTT, Senin (12/10).

 

 

 
Yapi Manuleus

 

 
FORUM Mahasiswa untuk HAM dan Demokrasi (Formasi) Kota Kupang akan kembali melakukan konsolidasi untuk menggalang kekuatan massa baru yang lebih besar untuk kembali melakukan aksi di depan Kantor DPRD Provinsi NTT setelah pada aksi yang dilakukan Senin (12/10) dihadang massa aksi tandingan dari Ormas lain di depan gerbang masuk Gedung DPRD Provinsi NTT.

Hal tersebut dikatakan Kordinator Umum Formasi, Yufen Bria yang dikonfirmasi Media ini, Senin (12/10) siang, setelah melakukan aksi orasi di depan Gedung DPRD Provinsi NTT.

Baginya, aksi tandingan dari Ormas lain tersebut merupakan suatu bentuk pembungkaman ruang demokrasi dan juga pemutar balikan isu yang digelar Organisasi Reaksioner yang mengatasnamakan Aksi Jaga dan Selamatkan Fasilitas Umum.

“Mereka merupakan orang-orang yang selalu diandalkan aparat kepolisian dan juga pemerintah NTT untuk mengancam, meneror dan mengintimidasi gerakan yang dibangun oleh Mahasiswa untuk menolak setiap kebijakan yang tidak pro terhadap rakyat tertindas,” katanya.

“Nanti kami kembali konsolidasi lagi untuk menggalang kekuatan massa baru untuk turun aksi lagi, tadi kami hanya 35 orang saja,” tambahnya.

Sementara itu, dari pernyataan sikap Formasi yang diterima media ini, terdapat beberapa tuntutan, di antaranya Cabut Omnibus Law, Bebaskan tahanan politik yang menolak Omnibus Law, Jokowi – Maaruf Amin harus bertanggung jawab atas tindakan kekerasan dan penangkapan, hentikan segala bentuk pembungkaman ruang demokrasi terhadap pemuda mahasiswa dan beberapa tuntutan lainnya yang berkaitan dengan HAM.

Pantauan Media ini di lokasi tersebut tampak aksi Mahasiswa tersebut hanya terdiri dari 35 orang peserta yang duduk dalam bentuk satu kumpulan di atas trotoar jalan tepat di depan gerbang masuk kantor DPRD Provinsi NTT sambil melakukan orasi secara bergantian.

Ratusan aparat kepolisian tampak berjaga-jaga guna mengamankan jalannya aksi. Tampak pula di bagian tengah ruas jalan itu terdapat puluhan warga yang mengatasnamakan Ormas Garuda sedang berdiri untuk ikut mengawal jalannya aksi tersebut.

Max Sinlae, salah satu warga yang mengatasnamakan Ormas Garuda saat diwawancarai mengaku mereka hadir semata-mata untuk mengawal para peserta aksi itu agar tidak anarkis dan merusak fasilitas publik.
“Silahkan demo karena itu sudah diatur dalam undang-undang tapi jangan coba-coba merusak fasilitas publik dan buat anarkis. Kalau besok mereka turun lagi kami siap untuk kawal lagi dengan masa,” jelasnya. (Yan/ol)