Mesin Produksi Oksigen RSUD Soe Sudah Berfungsi Normal

berbagi di:
army-konay3

Wabup Army Konay

 

 

 

Megi Fobia

Krisis oksigen di RSUD Soe, Kabupaten TTS, Nusa Tenggara Timur segera berakhir. Mesin produksi oksigen milik rumah sakit yang selama ini rusak, sudah normal berfungsi karena sudah diperbaiki. Biaya perbaikan menggunakan uang pribadi Wabup TTS Army Konay dan Ketua Fraksi PKB DPRD TTS Roy Babys.

“Kami dua patungan biaya untuk datangkan teknisi dari Jawa sehingga mesin produksi oksigen sudah normal dan setelah produksi oksigen, nantinya diuji coba dulu di laboratorium. Sebab mesin ini sudah belasan tahun rusak,” kata Wabup Army Konay di RSUD Soe, kemarin.

Ia bersama Roy Babys datang menyaksikan mesin produksi oksigen milik RSUD Soe yang sudah bisa beroperasi normal setelah diperbaiki.
Wabup Army berjanji akan kembali membenahi kebutuhan lain untuk menunjang operasional mesin produksi oksigen.

Menurut Roy Babys setelah mesin produksi oksigen milik RSUD Soe yang rusak belasan tahun kembali normal, masih ada satu komponen yang harus dibenahi agar mesin bisa produksi oksigen, yakni komponen listrik.

“Tadi kami sudah coba semua dan semua jalan normal hanya saja komponen listrik yang masih ada gangguan sedikit,” kata Roy.

Sementara teknisi yang didatangkan dari Jawa menurut Roy biayanya dari hasil patungannya bersama Wabup Army Konay. Ia enggan menyebutkan besar biaya yang dikeluarkan.

Selain biaya teknisi, Roy juga menambahkan bahwa mesin yang rusak tersebut saat diservis tentu ada alat-alat yang rusak dan harus diganti. Biaya untuk itu ditanggung oleh dirinya bersama-sama Wabup Army Konay.

 

KTU RSUD Akui
Kepala Tata Usaha RSUD Soe Richardus Sareng membenarkan jika mesin produksi oksigen (02) sudah hidup kembali yang merupakan milik RSUD Soe sudah hidup setelah Wabup Army Konay bersama Ketua Fraksi PKB Roy Babys bersama teknisi melakukan ujicoba.

Ia menambahkan masih ada alat yang perlu dicek lagi itu baru bisa diambil sample 02 yang diproduksi untuk uji laboratorium. Jika hasil ujicoba itu sudah sesuai, maka akan bisa berproduksi untuk digunakan dalam pelayanan di rumah sakit.

Richardus mengakui mesin produksi oksigen yang sementara diperbaiki itu kemampuan produksinya mencapai 10 tabung perhari. Oleh karena itu setelah ujicoba sample oksigen pasca mesin tersebut diperbaiki maka segera berproduksi untuk kebutuhan pasien.

Menurutnya, selain mesin yang sementara diperbaiki, ada juga mesin baru KSO sudah dalam perjalanan ke RSUD. Mesin KSO dalam perjalanan menuju RSUD Soe itu kuota produksinya mencapai 40 tabung perhari. Dengan demikian, jika kedua mesin tersebut beroperasi setiap hari, maka kebutuhan oksigen di RSUD Soe tidak diragukan lagi, sebab setiap hari 50 tabung oksigen dihasilkan dari kedua mesin itu. (mg-12/R-2)