Meski Hangus Terbakar, Ritual Wulla Podu di Kampung Tarung Tetap Dilaksanakan

berbagi di:
Tokoh adat Kampung Tarung sedang meloncat di atas batu kubur, salah satu tahapan dalam Ritual Wulla Poddu. Foto: Burhan Sumba (FB).

Tokoh adat Kampung Tarung sedang meloncat di atas batu kubur, salah satu tahapan dalam Ritual Wulla Poddu. Foto: Burhan Sumba (FB).

 

Masyarakat di Kampung Tarung Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur masih berduka karen kebakaran yang menghanguskan kampung purba tersebut Sabtu, 7 Oktober lalu. Namun, masyarakat dan para tokoh adat Kampung Tarung tetap berkomitmen untuk melaksanakan Ritual Wulla Poddu pada 22 Oktober hingga 2 November mendatang.

“Mohon doa dan dukungan. Saya dan Masyarakat Kampung Tarung tidak tenggelam dalam lautan api karena terbakar. Tetapi saya dan masyarakat Kampung Tarung tetap melaksanakan Ritual WULLA PODDU warisan yang ditinggalkan Leluhur MARAPU pada tanggal 22 Oktober sampai 22 November 2017,” ungkap tokoh adat Kampung Tarung Rato Lolina dalam postingan Facebook miliknya, Senin (9/10).

Dikutip dari website Kemendikbud, Wulla Poddu berasal dari kata wulla yang berarti bulan dan poddu yang berarti pahit. Jadi secara harafiah wulla poddu berarti bulan pahit, disebut pahit karena sepanjang bulan itu ada sejumlah larangan yang harus dipatuhi dan serangkaian ritual yang harus dijalankan.

Kampung Tarungs sebelum kebakaran terjadi.
Kampung Tarung sebelum kebakaran terjadi.

Banyak ritual digelar selama wulla poddu yang berlangsung antara bulan oktober – november setiap tahun. Ada yang bertujuan memohon berkat, ada yang sebagai sarana mengucap syukur, ada yang bercerita tentang asal usul nenek moyang dan ada pula yang menggambarkan proses penciptaan manusia. Hampir semua wilayah di Sumba Barat merayakan ritual ini. Di wilayah Lamboya kegiatan berpusat di kampung Sodan dan Kadengar, di Wanokaka berpusat di kampung Kadoku, di Tana Righu berpusat di kampung Ombarade, tapi yang terbesar dari semuanya ada di wilayah Loli. Hampir semua kampung adat utama di wilayah ini merayakan wulla poddu, dengan Tambera, Tarung, Bondo Maroto dan Gollu selaku kampung-kampung sentra ritual.

Kondisi Kampung Tarung saat kebakaran terjadi. Foto: Adi Gerimu (FB).
Kondisi Kampung Tarung saat kebakaran terjadi. Foto: Adi Gerimu (FB).

Di sepanjang bulan ini banyak orang berburu babi hutan. Hasil buruan diserahkan kepada rato sambil melantunkan tanya jawab dalam bentuk pantun adat (kajalla). Babi hutan yang pertama kali ditangkap biasanya menjadi indikator hasil panen. Babi jantan berarti hasil panen bakal memuaskan, babi betina yang sedang bunting menandakan hasil panen kurang baik, sementara jika babinya menggigit orang berarti akan ada hama tikus. Di bulan ini pula para pemuda yang telah akil balik menjalani proses sunatan, dan selama beberapa hari diasingkan ke alam liar untuk hidup mandiri sebagai tanda kedewasaan.

Kondisi Kampung Tarung usai kebakaran, hanya tinggal puing-puing tiang rumah yang tersisa. Foto: Adi Gerimu (FB).
Kondisi Kampung Tarung usai kebakaran, hanya tinggal puing-puing tiang rumah yang tersisa. Foto: Adi Gerimu (FB).

Demikianlah beberapa ritual yang dilaksnakan saat wulla poddu. Pada dasarnya wulla poddu adalah bulan suci dimana banyak ritual yang dilaksanakan oleh masyarakat Sumba Barat. (beverly/ol)