Mnelaanen Dilanda Kekeringan, Pemdes Harus Bangun Bak Umum

berbagi di:
img-20191129-wa0014

 

 

 

 

Megi Fobia

Meski masyarakat di Desa Mnelaanen Kecamatan Amanuban Timur, TTS pernah mendapat bantuan sumur bor dari Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten TTS. Namun, di akhir bulan November, masyarakat setempat mengeluhkan kebutuhan air bersih.

Padahal, masyarakat dipungut biaya untuk fasilitas yang sudah dipasang sebesar Rp 50.000 per KK dan iuran bulanan Rp 10.000 per KK. Setidaknya dengan iuran tersebut PemerintahPDesa (Pemdes) setempat harusmya bisa membangun bak tampungan umum dengan kapasitas yang besar.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) TTS, Adi Tallo kepada VN melalui telepon selulenrya, Rabu (27/11) mengatakan, Desa Mnelaanen tidak mendapat pendistribusian air bersih oleh BPBD. Sebab, ilayah ada sumur bor yang dibangun Pemda TTS semasa dirinya memimpin Dinas Pertambanhangan TTS.

“Waktu saya masih di Dinas Pertambangan saya sudah bangun sumur jadi Desa harus bangun bak tampungan umum dengan kapastitas yang cukup besar atau mencapai ratusan liter. Gunakan dana desa untuk bak umum dan berkepanjangan untuk menyelesaikan persoalan kekurangan air bersih,”ujarnya.

Manajemen pengelolaan dana maupun aset atau potensi yang dimiliki menurut Adi, harus sesuai regulasi. Sehingga, kebutuhan maayarakat terpenuhi, sebab dana miliaran rupiah sudah dialokasikan dan dikelola oleh desa.

Desa hanya perlu membangun bak tampungan umum dengan sumber anggaran dari dana desa, karena sumur bor itu sudah dibangun oleh pemerintah.

Meski masyarakat Desa Mnelaanen dilanda kekeringan, Adi Tallo menegaskan desa tersebut tidak akan mendapat pelayanan pendistribusian air bersih saat musim kekeringan.

” Desa harus mampu bangun bak tampungan umum, apalagi ada pungutan dari masyarakat. Selain itu ada dana desa, kalau bangun bak tampungan umum dengan kapasitas yang besar, maka secara tidak sadar akan mengurangi kekeringan di Mnelaanen,”katanya.

Menurut Adi, kalau membangun bak dengan kapasitas 5.000 liter, maka kekeringan akan terus melanda masyarakat di setiap musim kemarau. Oleh karena itu harus secara bijak untuk mengutamakan kepentingan masyarakat untuk waktu yang panjang.

Salah seorang warga Desa Mnelaanen Kecamatan Amanuban Timur yang enggan menyebutkan namanya, kepada VN menjelaskan, Desa Mnelaanen memiliki empat dusun. Masing-masing dusun memiliki sumur air bersih. Namun, sudah kering.

Kekeringan dialami sejak Oktober kemarin. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, harus antrian berjam-jam pada sebuh bak yang dibangun. Namun, jika pelayanan mulai pagi, maka siang hari air yang bersumber dari sumur bor itu sudah habis, karena bak sangat kecil.

Meski demikian, masyarakat dipungut biaya oleh aparat desa untuk menyetor per KK Rp 50.000 sebagai biaya pemasangan peralatan dan iuran per bulan Rp 10.000 per KK untuk pengisian pulsa. Tetapi, masyarakat tidak pernah puas dengan pelayanan air bersih.

“Ada pipa yang bocor di sekitar wilayah RT 006 Desa Mnelaanen jadi kami antrian untuk ambil, tetapi debitnya sangat kecil sehingga harus antrian berjam-jam,”katanya.

Selain sumur bor, ada perhatian pemerintah desa yang mengelola sumber mata air Sonbilo. Baru berjalan normal berapa minggu tapi sekarang tidak lagi jalan. Air baru keluar setiap hari Selasa dan kran air yang dipasang hanya satu sehingga masyarakat harus antri sampai sore hari. Sementara di bak umum tidak dipasang kran air. Warga menggunakan ember untuk menimba air.

Ia berharap persoalan air bersih di desanya bisa segera diatasi. (bev/ol)