Mulut Seribu Sepi selama Pandemi

berbagi di:
img_20210330_084234

Inilah kondisi beberapa pelaku UMKM di sekitar Objek Wisata Mulut Seribu yang sepi pengunjung akibat pandemi Covid-19. Tampak para pelaku UMKM ada yang menutup tempat usaha, sementara tidak tampak pedagang yang menjual dagangan di sepanjang jalan menuju dermaga. Gambar diabadikan Senin (29/3) petang. Foto: Frangky/VN

 

 

 

Frangky Johannis

Kawasan wisata Teluk Mulut Seribu di Dusun Lokonamon, Desa Daiama, Kecamatan Landu Leko, Kabupaten Rote Ndao, teru didandani sebagai salah satu destinasi unggulan di NTT. Namun, selama pandemi Covid-19, tempat wisata ini sepi pengunjung.

Pada 2019 lalu, Pemprov NTT membangun resort berkapasitas 10 kamar dan sebuah resto di kawasan wisata ini, dan Pemkab Rote Ndao membangun sarana penunjang lainnya, serta jalan menuju Dusun Lokonamon.

Alhasil, Mulut Seribu tahun ini masuk menjadi satu dari delapan destinasi wisata di NTT yang masuk dalam nominasi API kategori ‘Surga Tersembunyi’ yang akan diumumkan pemenangnya pada 9 April 2021 mendatang di Labuanbajo, Kabupaten Manggarai Barat.

Bupati Rote Ndao Paulina Haning-Bullu kepada VN, Senin (29/3), mengatakan, berkat dukungan Pemprov NTT keindahan dan kecantikan alam Mulut Seribu terkenal di dunia luar.

Hal ini sekaligus telah mampu mendongkrak perekonomian masyarakat setempat.

Namun, kata dia, selama pandemi Covid-19 sejak awal 2020 lalu, kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dan wisatawan domestik ke Rote Ndao menurun drastis.

Sesuai data OPD teknis, tahun 2018 sebanyak 3.861 kunjungan, terdiri dari 2.060 wisman dan 1.801 wisatawan domestik. Tahun 2019 sebanyak 4.988 kunjungan, terdiri dari 2.481 wisman dan 2.507 wisatawan domestik, dan tahun 2020 sebanyak 3.606 kunjungan yang terdiri dari 96 wisman dan 3.510 wisatawan domestik.

“Terjadi penurunan drastis wisman dari tahun 2018 dan 2019 dari sekitar 3.000-an kunjungan menjadi hanya 96 kunjungan pada tahun 2020,” jelasnya.

Bupati Paulina mengatakan, pembangunan destinasi wisata Mulut Seribu mulai tampak signal positif penataannya. Hanya saja fasilitas yang baru selesai dibangun dan diresmikan pada 15 Juni 2020 lalu itu belum dapat diukur secara pasti.

“Kita berharap badai Covid-19 segera berakhir, agar bisa kembali laksanakan agenda tahunan Festival Mulut Seribu untuk mendongkrak pariwisata Rote Ndao dan NTT,” ujarnya.

Terpisah, Camat Landu Leko Yostaf Faah mengatakan sejauh ini kehadiran cottage dan resto di Mulut Seribu memberikan kontribusi positif dan menggairahkan perekonomian warga sekitar, walaupun sementara ini sepi pengunjung karena pandemi Covid-19.

“Setelah diresmikan Juni 2020 lalu memang setiap weekend banyak pelancong dari Rote dan Kupang kunjungi Mulut Seribu, namun setelah ada pembatasan karena kasus Covid-19 meningkat, memang sepi. Masyarakat mengeluh karena biasanya bisa memperoleh penghasilan ratusan ribu rupiah sampai jutaan rupiah tiap pekan, saat ini mereka tidak bisa memperoleh penghasilan sebanyak itu lagi,” katanya.

Tahun ini akan dibangun jalan lapen di beberapa ruas untuk mendukung akses transportasi dalam rangka mendukung penataan objek wisata Mulut Seribu, yakni ruas Daurendale-Sipu sepanjang 2,5 kilometer, Sipu-Puku Afu 7 kilometer lapen, dan Sotimor-Kenamoen 5 kilometer lapen. (D-1)