Keluarga tak Terima Korban Lakalantas Divonis Covid

- Rabu, 4 Agustus 2021 | 10:40 WIB
Keluarga korban menggotong peti jenazah korban lakalantas Riani Feoh (7) untuk dimakamkan, kemarin. Foto: Alfret/VN
Keluarga korban menggotong peti jenazah korban lakalantas Riani Feoh (7) untuk dimakamkan, kemarin. Foto: Alfret/VN

Alfret Otu

Ibunda Riani Feoh (7), korban kecelakaan lalu lintas (lakalantas) di Kelurahan Oebelo, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur pada Senin (2/8) lalu, tidak bisa menerima dan menyesalkan pihak Rumah Sakit Siloam Kupang yang memvonis anaknya terpapar Covid-19.

Martha Feoh Mesakh (45), ibuda almarhum Riani di kediamannya di Oebelo, Selasa (3/8) mengisahkan saat Riani mengalami kecelakaan tragis, pihak keluarga langsung melarikannya ke RS Siloam.

"Saat dibawa, tubuh anak saya masih berlumuran darah. Kami menunggu hingga berjam-jam tapi tidak dibersihkan hingga menghembuskan nafas terakhir. Tak ada satupun petugas yang memandikannya dan setelah tiba di rumah baru kami mandikan," ungkap Martha.

Menurutnya, ia bersama keluarga protes karena merasa ada yang janggal terjadi pada anak mereka. "Setelah tiba, belum bersihkan lukanya ataupun dirawat, tapi setelah meninggal baru diswab dokter RS Siloam dan hasilnya keluar langsung dinyatakan positif Covid-19. Mana mungkin orang sudah meninggal baru diswab bagaimana hasilnya yang jelas pasti positif," tegasnya dengan nada tinggi.

Setelah itu, lanjut Martha, ia bersama keluarga meminta hasil swab dari dokter RS Siloam namun dokter sama sekali tidak menunjukan atau memberikan hasil swab. "Kami bahwa pulang anak kami, sampai rumah baru kami mandikan dan bersihkan darah di jenazah. Ini yang kami sesalkan sehingga kami juga meminta agar lebih memperbaiki pelayanan dan lebih meneliti secara ilmiah sehingga tidak asal memvonis," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Paman Riani, Daniel Feoh dengan tegas mengatakan tidak bisa menerima perlakukan pihak RS tersebut. "Ada keganjalan pelayanan yang diberikan RS Siloam karena swab setelah meninggal, hasilnya positif sehingga harus dimakamkan secara protokol covid-19. Ada apa ini," ujarnya.

Selain itu, pelayanan RS sangat tidak manusiawi karena membiarkan jenazah berjam-jam tanpa mendapatkan pertolongan perawatan medis hingga meninggal.

"Kami bawa pulang Riani di rumah kami dan kita kubur di sini tadi pagi pukul 08.00 Wita. Kami menolak dan kami minta agar ada pertanggungjawaban RS karena kami merasa tidak puas kecelakan murni tetapi divonis terpapar covid-19," tegasnya.

Untuk diketahui, Riani mengalami kecelakaan di Desa Oebelo. Riani ditabrak pengendara mobil pribadi hingga sekarat dan meninggal dunia.

Sebelumnya Kapolsek Oebobo AKP Magdalena G Mere yang dikonfirmasi wartawan mengakui Riani benar merupakan korban lakalantas, kemudian dibawa ke RSU Siloam Kupang untuk mendapatkan perawatan.

Namun, sesuai dengan protokol kesehatandi IGD RSU Siloam, pasien harus menjalani tes antigen sebanyak dua kali. Hasilny, pasien dinyatakan positif Covid-19.

Kapolsek juga menegaskan, insiden yang terjadi bukan melakukan perampasan jenazah, namun jenazah ingin dibawa pulang ke rumahnya.

Polisi juga melakukan edukasi agar dilakukan pemakaman sesuai protokol kesehatan Covid-19, sehingga dapat memutuskan mata rantai Covid-19.

Direktur RSU Siloam Kupang, dr Hans Lie yang dikonfirmasi sejak kemarin belum merespons WA maupun telepon dari wartawan. Bahkan ketika didatangi di RS, petugas mengaku Direktur tidak berada di tempat. (mg-07/ari)

Editor: Beverly Rambu

Terkini

Menpan RB Tjahjo Kumolo Masuk Rumah Sakit

Jumat, 24 Juni 2022 | 11:26 WIB

Artis Senior Rima Melati Tutup Usia

Kamis, 23 Juni 2022 | 20:29 WIB
X