Aliansi Timor Bersatu Datangi Polda NTT Pertanyakan Kasus Astri dan Lael

- Rabu, 8 Desember 2021 | 18:09 WIB
Perwakilan dari Aliansi Timor Bersatu saat bertemu Kabid Humas Polda NTT, Rabu (8/12) untuk mempertanyakan perkembangan penanganan kasus penemuan jenazah Astri dan Lael, di area SPAM Kali Dendeng, beberapa waktu lalu.
Perwakilan dari Aliansi Timor Bersatu saat bertemu Kabid Humas Polda NTT, Rabu (8/12) untuk mempertanyakan perkembangan penanganan kasus penemuan jenazah Astri dan Lael, di area SPAM Kali Dendeng, beberapa waktu lalu.

 

Yapi Manuleus



Beberapa Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) yang tergabung dalam Aliansi Timor Bersatu, menggelar aksi di Mapolda NTT, Rabu (8/12). Mereka juga hendak bertemu Kapolda NTT Irjen Pol. LothariLatif, untuk mendengar langsung sejauh mana pengungkapan kasus penemuan jenazah Astri dan Lael yang merupakan Ibu dan Anak, di lokasi SPAM Kali Dendeng, beberapa waktu yang lalu.

Pantauan VN di Mapolda NTT pada Rabu (8/12) pukul 12.00 Wita, tampak ratusan masa yang tergabung dalam Aliansi Timor Bersatu tersebut mengadakan orasi di depan gerbang masuk Mapolda NTT.

Setelah beberapa menit 4 orang perwakilan dari ratusan masa itu langsung dipersilahkan masuk ke Mapolda NTT dan bertemu langsung Kabid Humas Polda NTT Kombes Pol. Rishian Krisna Budhiaswanto di ruang Humas Polda NTT.

-


Empat perwakilan tersebut di antaranya Ketua Umum Laskar Timor Indonesia (LTI) Pdt. Ady Ndi'y, Ketua Umum Garuda Max Sinlae, Yefta Soai, dan satu orang lainnya.

Dalam suasana pertemuan bersama Kabid Humas Polda NTT tersebut, empat orang perwakilan Ormas meminta untuk bisa bertemu langsung dengan Kapolda NTT Irjen Pol. Drs. Lotharia Latief, untuk berdiskusi sekaligus mempertanyakan sejauh mana kasus pembunuhan mayat ibu dan anak tersebut.

"Melalui kesempatan ini kita sudah bersepakat untuk ketemu langsung dengan Pak Kapolda. Karena kita hanya ingin ketemu dengan beliau untuk berdiskusi mempertanyakan sejauh mana kasus pembunuhan ibu dan anak ini. Kita juga datang dengan permintaan pihak keluarga juga," kata Ketua Umum LTI Pdt. Ady Ndi'i dalam kesempatan tersebut.

Sementara Kabid Humas Polda NTT Kombes Pol. Rishian Krisna Budihaswanto saat menerima empat orang perwakilan tersebut mengaku, Polda NTT sangat terbuka untuk masyarakat yang ingin menyampaikan aspirasinya.

Namun katanya, Kapolda NTT sementara mengadakan rapat sehingga belum bisa ditemui.

"Hari ini pak Kapolda sedang mengadakan rapat, dan saya ditunjuk untuk ketemu dengan saudara-saudara. Apa pun permintaannya, saya sebagai Kabid Humas mewakili Kapolda dan akan segera melaporkan kepada pak Kapolda," katanya.

Setelah itu mereka pun bersepakat untuk mencari waktu yang terbaik agar bisa bertemu langsung dengan Kapolda NTT.

Pertemuan itu pun ditutup dengan penyerahan poin-poin tuntutan berupa beberapa rangkap kertas yang nantinya akan disampaikan kepada Kapolda NTT. Irjen Pol. Drs. Lotharia Latief.

Pertanyakan Penerapan Pasal

Ketua umum LTI Pdt. Ady Ndi'i yang langsung diwawancarai VN sehabis pertemuan tersebut mengatakan bahwa kehadiran mereka ke Polda NTT yakni terkait dengan peristiwa pembunuhan ibu dan anak yang saat ini masih ditangani Polda NTT.

"Tujuan kami ke sini untuk mendapatkan satu penjelasan yang Valid dari kepolisian yang menangani kasus ini, karena tentu semua ingin adanya rasa keadilan, semua ingin agar kasus ini diproses secara transparan sehingga memenuhi rasa keadilan," katanya.

"Karena jujur ada beberapa hal yang menjadi pertanyaan publik dari kasus ini. Mengapa pasal yang dikenakan bukan pembunuhan berencana, itu menjadi pertanyaan, terus kenapa hanya satu orang yang menjadi tersangka," tambahnya.

Dia juga mengaku kehadiran mereka di Polda NTT untuk memberikan dukungan kepada Polda NTT agar memproses kasus tersebut bisa seadil-adilnya.

"Kami Aliansi Timor Bersatu akan siap mengawal kasus ini sampai tuntas. Karena ini peristiwa yang sangat luar biasa," ujarnya.

Dirinya juga mengaku sangat menyesalkan sekali dengan Komnas Perlindungan Perempuan dan Anak yang seakan tidak bersuara sama sekali mengenai kasus tersebut.

"Masa kasus-kasus tertentu baru mereka turun. Ingat, ini kejahatan kemanusiaan yang luar biasa. Komnas perempuan dan anak harus bersuara dan ambil tindakan. Kami tunggu itu," tutupnya.

Baru Satu Tersangka

Sementara itu Kabid Humas Polda NTT Kombes Pol. Rishian Krisna Budhiaswanto yang ikut diwawancarai mengenai perkembangan kasus tersebut mengaku bahwa, hingga saat ini baru satu Tersangka yang ditetapkan.

"Sudah berapa kali saya sampaikan, bahwa sampai dengan saat ini baru satu Tersangka yang ditetapkan yaitu saudara RB, dan penyidik masih terus melakukan penyelidikan," jelasnya. (Yan/ol)

Editor: Administrator

Terkini

DPRD Malaka Sudah Laporkan LHKPN Tahun 2021

Senin, 17 Januari 2022 | 21:42 WIB

Kapolda NTT Perintahkan Anak Buahnya Koreksi Diri

Senin, 17 Januari 2022 | 13:21 WIB

Jadwal Tahapan Pilkada 2024 masih Kabur

Senin, 17 Januari 2022 | 09:06 WIB

Politik Bukan Hal Tabu bagi Perempuan

Jumat, 14 Januari 2022 | 20:15 WIB

DPRD Minta KPUD Hitung Ulang Anggaran Pilgub NTT

Jumat, 14 Januari 2022 | 11:30 WIB

Anggaran Pilgub NTT Rp798 Miliar, Ini Rinciannya

Jumat, 14 Januari 2022 | 09:36 WIB

Fantastis, Dana Pilgub NTT Capai Rp486 Miliar

Kamis, 13 Januari 2022 | 15:36 WIB

BPK Serahkan LHP Kepada Pemprov NTT

Rabu, 12 Januari 2022 | 19:49 WIB
X