Dinas Peternakan NTT Susun Grand Design Pengembangan Peternakan

- Jumat, 17 Desember 2021 | 12:45 WIB
IMG-20211217-WA0018
IMG-20211217-WA0018

Kekson Salukh

Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelar Focus Group Descussion (FGD) untuk membahas penyelesaian Grand Design Pengembangan Peternakan provinsi NTT tahun 2021-2023. Jum'at, (17/12) di Hotel Kristal Kupang.

Sekda NTT Benediktus Polo Maing dalam sambutannya mengatakan peternakan berperan sangat penting dalam perekonomian wilayah NTT maupun perekonomian keluarga tani, khususnya petani miskin di pedesaan.

Dari sekitar 80% rumah tangga petani yang dominan tinggal di pedesaan hampir seluruhnya memelihara ternak dan secara langsung ataupun tidak langsung bergantung pada usaha peternakan sebagai sumber uang tunai dan sumber protein hewani keluarga maupun untuk urusan sosial.

Pengelolaan ternak yang ramah lingkungan seperti pola penggemukan ternak sapi di Amarasi Kabupaten Kupang telah turut membantu menghentikan sistem perladangan berpindah, meningkatkan kesuburan dan produktivitas lahan kering.

Di samping itu, usaha peternakan masih menjadi prestise bagi masyarakat tradisional. Ternak yang dimiliki petani adalah juga bentuk tabungan yang sangat berarti ketika petani membutuhkan uang tunai atau ketika musim paceklik.

"Usaha peternakan, di NTT adalah usaha yang multi-fungsi: ekonomi, lingkungan dan sosial. Karena itu pembangunan sub-sektor peternakan mempunyai arti penting bagi pembangunan pedesaan dan sebagai elemen penting dalam upaya penanggulangan kemiskinan karena sebagian besar penduduk miskin tinggal di pedesaan dan bermata pencaharian dari berusaha tani/beternak," katanya.


Pembangunan sub sektor peternakan di NTT sampai saat ini mencakup dua peran utama, yakni meningkatkan kesejahteraan masyarakat NTT melalui peningkatan pendapatan dari ternak dan hasil ternak serta perbaikan gizi masyarakat serta memenuhi kebutuhan akan daging nasional dengan pengeluaran ternak dan hasil ternak bagi masyarakat konsumen di provinsi lain serta dalam rangka memperkecil penggunaan devisa negara bagi import ternak dan hasil ternak.

Pembangunan bidang peternakan Provinsi NTT sebagaimana dalam RPJMD Perubahan 2018-2023 adalah mendukung misiĀ  mewujudkan masyarakat sejahtera, mandiri dan adil. Peningkatkan kesejahteraan masyarakat NTT dengan prinsip keterbukaan dan melibatkan semua pihak (inclusive) dan dengan pendekatan berkelanjutan merujuk pada empat aspek pembangunan yaitu aspek ekonomi, aspek sosial, aspek lingkungan, dan aspek kelembagaan.

"Merujuk kepada prioritas pembangunan daerah untuk peningkatan pendapatan masyarakat petani peternak, dapat dilakukan melalui peningkatan produksi bibit benih pertanian, peternakan dan perikanan yang mampu memenuhi kebutuhan daerah, nasional dan ekspor melalui peningkatan nilai tambah dengan indikator kontribusi sektor industri pengolahan terhadap PDRB." ujarnya.

Polo Maing menjelaskan pengembangan sektor peternakan melalui peningkatan produksi ternak tahun 2020 - 2024 di Provinsi NTT lebih difokuskan pada komoditas ternak sapi, babi dan ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB). Kajian dalam upaya menggali potensi peternakan daerah ini terutama pada ketiga komoditas tersebut diperlukan untuk menyusun suatu perencanaan atau Grand Design pengembangan peternakan kedepannya.

Ia menambahkan, grand design pengembangan peternakan Provinsi Nusa Tenggara Timur menjadi solusi yang bisa digunakan dalam pembangunan peternakan untuk dapat mengungkit nilai tambah sektor peternakan kedepannya.

"Grand design ini diharapkan dapat dijadikan pedoman bagi pemerintah, swasta, stakeholder, masyarakat dan pemangku kepentingan sebagai arah kebijakan dan rencana implementasi bidang peternakan Perovinsi NTT berdasarkan strategi dan rekomendasi yang diperoleh dari hasil analisis berupa sektor- sektor unggulan untuk peningkatan pertumbuhan ekonomi Provinsi NTT dalam rangka peningkatan kesejahteraan dan pemerataan pembangunan," pungkasnya.

Kepala Dinas Peternakan NTT Johana Lisapaly dalam pemaparannya yang dimoderatori Dr Agus Nale mengatakan, tim penyusun grand design adalah Dinas Peternakan NTT yang didampingi Staf Khusus Gubernur NTT Prof Daniel Kameo, dan tim ahli yang memiliki kompetensi untuk penyusunan Grand Design yaitu Dr Agus Nale, Dr. Unrikus Mooy, dan Dr. Tony Djogo.

"Penyusunan grand design itu berbasis data. Data berasal dari institusi yang memiliki kewenangan yaitu BPS, Prisma, dan Saut yang telah melakukan kajian-kajian ilmiah," katanya.

Turut hadir, Staf Khusus Gubernur NTT Prof Daniel Kameo, Staf Khusus Gubernur NTT Prof. Willi Toisuta, Stef Bria Seran, dan perwakilan dari berbagai stakeholder terkait. (bev/ol)

Editor: Beverly Rambu

Terkini

Menpan RB Tjahjo Kumolo Masuk Rumah Sakit

Jumat, 24 Juni 2022 | 11:26 WIB

Artis Senior Rima Melati Tutup Usia

Kamis, 23 Juni 2022 | 20:29 WIB
X