Ini Kronologi Kematian Astri dan Lael berdasarkan Penyidikan Polisi

- Kamis, 23 Desember 2021 | 21:39 WIB
Kabid Humas Polda NTT Kombes Pol. Rishian Krisna Budhiaswanto sampaikan keterangan saat jumpa pers perkembangan kasus pembunuhan Astri dan Lael
Kabid Humas Polda NTT Kombes Pol. Rishian Krisna Budhiaswanto sampaikan keterangan saat jumpa pers perkembangan kasus pembunuhan Astri dan Lael

Yapi Manuleus

Kabid Humas Polda NTT Kombes Pol. Rishian Krisna Budhiaswanto, di Mapolda NTT pada Kamis (23/12) menyampaikan siaran pers terkait hasil penyidikan pihak Kepolisian Polda NTT atas kasus kematian Astri Manafe dan anaknya, Lael yang dikuatkan hasil Rekonstruksi yang berlangsung selama dua hari.

Dalam siaran pers yang dibacakan tersebut Kombes Rishian tersebut dijelaskan bahwa pada tanggal 27 Agusutus 2021, tersangka Randi bersepakat untuk bertemu dengan korban (Astri dan Lael) dengan memesan mobil rental Toyota Rush dengan Nomor Polisi B 2906 TKW terhadap saudara S yang diantar langsung oleh saudara S ke kantor BPK Provinsi NTT.

Sementara korban Astri menghubungi dan meminta saksi A untuk menjemputnya di rumahnya dan mengantarnya ke rumah keluarga di jalan nangka. Namun tidak jadi dan pergi ke kos-kosan.

"Kemudian Tersangka Randi mengikutinya dan membawa korban Astri dan Lael. Jalan keliling menggunakan mobil Rush di seputaran kota Kupang. Mereka sempat membeli makanan, berkeliling hingga ke perkantoran Oelamasi Kabupaten Kupang," Kata Kabid Humas Polda NTT.

"Semua ini diperoleh oleh penyidik berdasarkan hasil forensik digital tehadap data GPS pada mobil Rush tersebut," Tambahnya.

Kemudian katanya pada tanggal 28 Agustus 2021, sekitar pukul 02.00 Wita, dari perjalanan keliling sempat mereka berhenti di jalan baru Penkase. Kemudian kembali ke parkiran Holywood.

Setelah itu mereka menuju SPBU Valentine dan setelah mengisi BBM, mereka kembali lagi ke Holywood.

"Menurut keterangan Tersangka Randi, saat sampai di Holywood. Tersangka menyampaikan keinginannya untuk mengambil anak Lael. Namun ditolak oleh Astri sehingga terjadi keributan antara korban dan tersangka," ujarnya.

Selanjutnya katanya, akibat pertengkaran itu membuat Korban (Astri) emosi dan langsung mencekik anak Lael. Melihat hal tersebut Tersangka (Randi) emosi dan langsung mencekik Astri selama lima menit sampai Astri tidak lagi bergerak baru Randi melepaskan cekikannya.

Melihat Astri dan Lael sudah meninggal, Randi menjadi panik dan memindahkan kedua korban di jok tengah dan pergi menuju toko rukun jaya untuk membeli dua bungkus plastik kantong sampah berukuran besar.

-


"Jadi berukuran sekitar 90×120 cm. Selanjutnya Tersangka pergi menuju ke perumahan Avia blok B10 yakni rumah Tersangka yang saat itu dalam keadaan kosong," ujarnya.

Selanjutan Tersangka (Randi) membungkus kedua Jenasah Astri dan Lael dengan palstik.

Pada tanggal 29 Agustus 2021, Tersangka Randi menelpon salah satu cleaning service di kantor BPK Provinsi NTT, tidak lama kemudian orang yang ditelponnya tersebut datang.

Selanjutnya Tersangka (Randi) meminjam besi linggis kepada orang yang ditelponnya tersebut. Kemudian Tersangka (Randi) langsung pergi ke rumah salah satu orang yang dia kenal yang alamatnya berada di belakang SMPN 5 Kota Kupang, untuk meminta meminjam sekop kepada temannya tersebut, serta meminta tolong untuk membantunya menggali lubang.

"Karena menurut keterangan dari Tersangka terhadap yang bersangkutan Anjing Ras milik bos dari pada Tersangka (Randi) ini mati," katanya.

Selanjutnya, Tersangka bersama orang yang dipinjami sekop tersebut dengan menggunakan sepeda motor Honda Supra sambil membawa satu buah linggis dan sekop pergi dan mencari lokasi tempat galian lubang.

Sesampainya di hutan jalan baru wilayah RT01/RW01 Kelurahan Penkase-Oeleta, Tersangka (Randi) menentukan lokasi yang akan digali.

"Sehingga saat itu Tersangka dan temannya tersebut langsung menggali lubang hanya sedikit dan kemudian mereka pulang," jelasnya.

Selanjutnya Tersangka (Randi) kembali ke Kantor BPK Provinsi NTT dan memarkir mobil Toyota Rush, dan dengan menggunakan Honda Beat miliknya pulang ke rumah istrinya di Naikolan.

Sesampai di rumah istrinya, kemudian Tersangka langsung mengganti pakaian dan mandi. Setelah itu Dia (Tersangka) langsung tidur. Namun istri Tersangka mengomel dan memarahinya. Karena Tersangka (Randi) tidak pulang ke rumah mereka beberapa hari.

"Karena emosi, Tersangka langsung keluar rumah, dan setelah beberapa lama Tersangka menghidupkan HP nya kemudian pulang ke rumah Alak dan tidur di rumah Alak bersama Istrinya," jelasnya.

Kemudian pada tanggal 30 Agustus 2021, sekitar pukul 08.00 Wita, Tersangka (Randi) dan istrinya pulang ke rumah Naikolan dan Tersangka langsung ke kantor BPK untuk bekerja.

Setelah itu kembali ke rumah Alak menggunakan Mobil Toyota Rush dengan Jenasah kedua Korban masih berada di dalam mobil tersebut.

Sesampai di rumah Alak Tersangka menggunakan sepeda motor dengan membawa sekop dan linggis, langsung pergi ke lokasi galian lubang itu. Kemudian Tersangka (Randi) menelpon salah seorang yang dia kenal untuk membantunya bersama dengan salah satu lagi temannya. Kemudian membantunya menggali lubang.

Pada tanggal 31 Agustus 2021, sekitar pukul 00.20 Wita, Tersangka bergerak dari kantor BPK Provinsi NTT menggunakan Mobil Rush langsung menuju kembali ke lubang galian. Sesampainya di lubang galian, Tersangka (Randi) menuju posisi galian lubang dengan posisi mobil mundur hingga tepat lubang galian.

Tersangka pun berhenti dan turun dari mobil tersebut serta membuka pintu belakang mobil dan menurunkan kedua Jenasah itu secara bergantian ke dalam lubang.

Setelah itu, dengan menggunakan sekop Tersangka (Randi) langsung menimbun lubang tersebut.
"Berdasarkan keterangan Tersangka bahwa dirinya setelah beberapa hari kemudian masih menyimpan tas, sendal, HP, milik korban sehingga Tersangka membuang Tas dan sendal korban dengan plastik di bak sampah dekat pelabuhan nunbaun sabu. Sedangkan HP milik korban tersangka merusaknya dan membuangnya di pantai dekat jembatan selam kelurahan LLBK," pintanya.

Pada Hari Sabtu tanggal 30 Oktober 2021, sekitar Pukul 16.30 Wita, telah ditemukan dua sosok mayat tersebut oleh pekerja penggalian tanah SPAM kali Dendeng.

Sehingga berdasarkan hasil pemeriksaan DNA serta barang bukti yang ditemukan maka dapat diketahui bahwa kedua jenasah tersebut atas nama Astrid Manafe dan anaknya Lael Maccabe.

Kabid Humas Polda NTT melanjutkan, Setelah dilakukan penyelidikan secara mendalam mengumpulkan alat bukti dan Rekontruksi yang dilakukan kemarin tentunya sudah menguatkan peran saudara Randi sebagai Tersangka.

"Sampai dengan saat ini, saksi yang sudah diperiksa ada 25 orang saksi dan kemudian barang bukti yang sudah diamankan sebanyak 35 jenis. Tambahan bukti yang ditemukan satu unit HP, satu akun email, satu unit sepeda motor honda beat warna hitam milik tersangka dan satu unit sepeda motor honda milik salah satu saksi," katanya.

Berdasarkan alat bukti yang sudah diperoleh dan dikuatkan oleh hasil gelar perkara serta rekontruksi yang dihadiri oleh JPU, maka penyidik kepolisian berkeyakinan kuat bahwa terhadap Tersangka (Randi) diduga keras telah melanggar pasal 340 KUHP subsider pasal 338 KUHP junto Pasal 80 ayat 3 UU nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.

Dengan ancaman hukuman pidana mati atau seumur hidup atau paling lama 20 tahun.

"Perlu saya sampaikan bahwa, berdasarkan hasil penyidikan dan kesesuaian dari alat bukti yang ada. Maka penyidik menyimpulkan bahwa modus dari terjadinya kasus ini adalah Tersangka mencoba untuk melepaskan hubungan dengan cara menghabisi nyawa korban. Selanjutnya penyidik akan melengkapi berkas perkara dan dalam waktu dekat akan dilaksanakan pengiriman berkas perkara atau pelaksanaan tahap satu," tutupnya. (yan/ol)

Editor: Administrator

Terkini

LPSK Tolak Permohonan Perlindungan Istri Ferdi Sambo

Selasa, 16 Agustus 2022 | 22:17 WIB
X