Turut Berdukacita Atas Meninggalnya Putra Ridwan Kamil, Najwa Shihab: Saya Pernah Kehilangan Seorang Putri

- Sabtu, 4 Juni 2022 | 07:18 WIB
Ridwan Kamil, istri dan anak perempuannya sedang memandangi Sungai Aere, tempat putra sulungnya Eril hanyut sebelum memutuskan untuk pulang ke Indonesia.  (IG Najwa Shibab)
Ridwan Kamil, istri dan anak perempuannya sedang memandangi Sungai Aere, tempat putra sulungnya Eril hanyut sebelum memutuskan untuk pulang ke Indonesia. (IG Najwa Shibab)
 
JAKARTA, VICTORYNEWS--Najwa Shihab menyampaikan turut berdukacita atas kehilangan yang sedang dirasakan Ridwan Kamil dan keluarga atas berpulangnya Eril, putra sulung Ridwa Kamil yang tenggelam di Sungai Aere di Swiss.
 
Dalam postingan Instagram pribadinya, Najwa Shihab mengaku pernah merasakan kehilangan atas meninggalnya sang putri bungsu.
 
Najwa Shihab menyadari rasa kehilangan seluruh masyarakat Indonesia tak sebanding dengan apa yang dirasakah Ridwan Kamil dan keluarga. 
 
Apalagi, surat ibu Eril, Atalia ketika akan meninggalkan Swiss sungguh membuat siapapun yang membacanya remuk, membayangkan hati kedua orangtua dan adik terkasih yang kehilangan anak dan abangnya tercinta.
 
 
Inilah ungkapan hati Najwa Shihab untuk Ridwan Kamil dan keluarga.
 
 
Teh Atalia dan Kang Emil,

Sejak kabar hanyutnya Eril mencuat, setiap hari saya terus mencari dan menunggu kabar terbaru tentang pencarian Eril. Dan bukan hanya saya saja, jutaan orang lain juga melakukannya. Kami terkejut, tercekat, was-was dan sedih sekaligus berharap semoga ada kabar baik dari Sungai Aare.

Tentu kesedihan Teh Atalia dan Kang Emil tak terbandingkan, tapi siapa yang tak remuk membaca surat Teh Atalia yang pamit meninggalkan Swiss? Sekali lagi, perasaan kami tentu tak seberapa dibanding yang dirasakan Teh Atalia dan Kang Emil, tapi setiap yang berakal akan bergumam: tak terbayangkan betapa berat mengalami kehilangan seperti ini.

Baca Juga: Hujan Sehari, Genangan Air Hingga Kamacetan Warnai Ruas Jalan Kota Kupang
Saya pernah kehilangan seorang putri. Setiap orang juga pernah — setidaknya akan — mengalami kehilangannya sendiri-sendiri. Kita semua punya kalender yang pada salah satu tanggalnya telah disuratkan gilirannya masing-masing.

Bermilyar-milyar kehidupan pernah hadir dan pergi di bumi ini. Kita hanya sebutir pasir dari hamparan yang tak terpermanai itu. Bersama orang-orang tercinta, kita semua pernah membentuk istana pasir, dan kita tahu pada akhirnya — cepat atau lambat — istana pasir itu akan kita berikan kepada samudera.
Baca Juga: Frater Paul Leo Leu, CMM, Pimpin SMA SKO SMARD Lembata

Simpati dari saya dan jutaan orang lain tentu tak bisa menawarkan kepedihan. Kami hanya bisa berdoa semoga kekuatan dan ketabahan itu masih memadai untuk melewati hari-hari kehilangan yang mungkin tak akan singkat ini.

Peluk dari jauh untuk Teh Atalia, Kang Emil dan Zara.

Nana
 
 
 
 

Editor: Beverly Rambu

Tags

Artikel Terkait

Terkini

PMK Rawan Tersebar Lewat 'Jalan Tikus' RI-RDTL

Senin, 15 Agustus 2022 | 16:16 WIB

Keluarga Brigadir J Puas Dengan Komitmen Polri

Minggu, 14 Agustus 2022 | 15:05 WIB
X