Kuasa Atas Pengacara Bharada E Dicabut, Begini Tanggapan Psikolog Forensik

- Sabtu, 13 Agustus 2022 | 12:59 WIB
Tangkapan layar, Reza Indragiri Amriel Psikolog Forensik menyatakan motif bukan jadi kunci untuk menghentikan atau melanjutkan proses hukum Brigadir J.  (Youtube metro tv)
Tangkapan layar, Reza Indragiri Amriel Psikolog Forensik menyatakan motif bukan jadi kunci untuk menghentikan atau melanjutkan proses hukum Brigadir J. (Youtube metro tv)

JAKARTA,VICTORYNEWS-Masyarakat di Indonesia dikejutkan kabar pencabutan kuasa atas pengacara Bharada E, Deolipa Yumara dalam kasus penembakan Brigadir Yosua Hutabarat atau Brigadir J.

Menanggapi pencabutan kuasa atas pengacara Bharada E, Deolipa Yumara, Pikolog Forensik Reza Indragiri Amriel, menduga ada upaya untuk menutupi kejahatan dalam kasus penembakan Brigadir J.

Pasalnya, dulu sebelum Deolipa menjadi kuasa hukum, para tersangka mencoba menutupi kejahatan penembakan Brigadir J

Baca Juga: Pemkot Kupang Apresiasi Kejurda Wali Kota Dirgantara Road Race & Moto Contest Show Kupang 2022

Dengan kata lain pada masa lalu dan waktu sebelumnya, kata Psikolog Forensik, para tersangka masih mempertontonkan jiwa korsa yang sempurna, satu kata dan tidak ada variasi A, B atau seterusnya.

"Ini merupakan suatu kultur yang sangat-sangat lazim di tubuh kepolisian atau bahkan tepatnya sub kultur yaitu jiwa korsa yang dipertontonkan lewat kode senyap untuk menutupi kesalahan yang dilakukan teman sejawat," jelas Psikolog Forensik, dilansir victorynews.id, Sabtu (13/8/2022) dari youtube MetroTV News.

Selanjutnya, kata dia, para tersangka tahu pasal-pasal pidana yang dikenakan yakni sangat berat bahkan bergeser dari pasal 338 ke 340, maka jiwa korsa itu pecah dengan sendirinya, berhamburan dan tak karuan.

Baca Juga: Malam Nanti, Stadion Marilonga Ende Jadi Saksi Bagi Empat Tim yang Berlaga di Babak Semifinal Soeratin Cup

Selanjutnya munculah SDM para tersangka untuk menyelamatkan diri masing-masing, tidak lagi peduli pada jiwa korsa karena masing-masing bertanggung jawab dengan beban pidana yang dipikul oleh setiap orang yang berada di lokasi kejadian tersebut.

"Ketika jiwa korsa mulai pecah belah, maka tak lain tak bukan perasaan bahwa saya dari sebuah korps, saya dilindungi oleh korps, saya dilindungi dan dinaungi oleh atasan jadi sirna, yang muncul sekarang perasaan takut, sedih bahkan mungkin marah,"tutup Reza***

Halaman:

Editor: Yance Jengamal

Tags

Artikel Terkait

Terkini

GEGER! Bom Bunuh Diri Polsek Astana Anyar Bandung?

Rabu, 7 Desember 2022 | 09:59 WIB

RESMI! RUU KUHP Disahkan Menjadi Undang-undang

Selasa, 6 Desember 2022 | 23:27 WIB
X