Nenek 75 Tahun Bunuh Diri, Diduga Depresi Berat

berbagi di:

 

 

 

 

 

Gusty Amsikan

Warga Desa Oelneke, Kecamatan Musi, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), dihebohkan dengan kasus bunuh diri seorang nenek berusia 75 tahun.

Kematian korban dengan cara pintas diduga akibat depresi berat dan menderita sakit asma menahun.

Korban merupakan, Anjelina Feka (75), warga RT 001, RW 001, Dusun A, Desa Oelneke, Kecamatan Musi, ditemukan meninggal dalam kondisi gantung diri menggunakan seutas tali panjang yang menggantung pada tiang lopo atau rumah bulat khas suku Timor.

Kapolsek Miomafo Barat, Iptu Yadokus Feka, ketika dikonfirmasi, Selasa (7/7), menyebutkan berdasarkan keterangan, almarhumah pertama kali ditemukan tewas dalam kondisi gantung diri oleh Paulina Feka, anak kandung korban di sebuah rumah bulat (lopo), milik korban.

Menurut keterangan saksi, Paulina, pada Minggu (5/7), malam, korban dan saksi masih berkumpul bersama di rumah saksi. Usai santap malam bersama, korban ditawari saksi agar menginap bersama malam itu. Namun, tawaran tersebut ditolak dengan alasan, tak nyaman dan merasa dingin jika tidur di rumah permanen.

Korban lalu berpamitan dengan saksi dan anggota keluarga lainnya untuk beristirahat. Keesokan harinya, saksi hendak membangunkan korban, namun tidak ditemukan keberadaanya pada lopo milik saksi. Ternyata malam itu setelah pamit, korban memilih pulang dan menginap di loponya yang berjarak tak jauh dari rumah saksi. Setelah melakukan pencarian korban akhirnya ditemukan meninggal dalam kondisi gantung diri.

“Malam itu mereka masih sama-sama di rumah dan sempat diajak tidur di rumah namun korban mengatakan bahwa di dalam rumah terlalu dingin, saya tidak bisa tahan nanti sakit asma saya kumat biar saya tidur di Lopo saja supaya hangat. Saat bangun pagi dan hendak dibangunkan, ternyata korban sudah tidak ada lagi di dalam lopo itu. Saksi kemudian berjalan mencari korban ke tempat tinggal korban sebelum korban mengalami sakit. Ia lalu terkejut melihat korban sudah dalam keadaan tergantung tapi dalam keadaan berlutut dan membelakangi. Saksi lalu melaporkan kejadian tersebut pada keluarga dan aparat desa setempat, lalu ke Polisi,” kutipnya.

Lanjut Feka, atas laporan keluarga Polres TTU melalui tim identifikasi dan Polsek Eban, mendatangi lokasi dan melakukan olah tempat kejadian perkara serta mengumpulkan bukti-bukti permulaan di lapangan. Keluarga menerima kematian korban dan memutuskan untuk tidak dilakukan outopsi terhadap jasad korban.

“Korban tidak mempermasalahkan kematian korban dan menerima kematian korban sebagai jalan hidup korban. Keluarga juga lalu bersepakat membuat surat penyataan penolakan outopsi dan tidak akan mempermasalahkan masalah tersebut ke pihak kepolisian mengetahui kepala desa setempat,” tandas Feka.

Info yang dihimpun VN, korban selain, mengalami sakit asma akut, selama ini korban mengalami gangguan jiwa dan sempat dirawat di Kupang selama kurang lebih setahun dan baru kembali ke Desa Oelneke pada Desember 2019 lalu. Sepulangnya korban dari Kupang, kondisi korban belum dinyatakan pulih. Kuat dugaan korban nekat melakukan aksi bunuh diri lantaran mengalami stres berat. (bev/ol)