Nihil Kontribusi PAD, PT Flobamor Minta Suntikan Modal

berbagi di:
screenshot_2020-06-29-13-41-47-57
Putra Bali Mula
Mendapat kritikan keras dari DPRD Provinsi NTT sebagai BUMD nihil kontribusi,  dianggap “beban” APBD masa depan, dinilai tak mampu mengelola aset, serta duka mendirikan anak perusahaan yang tak jelas, tampaknya tidak membuat jajaran PT Flobamor bergeming.
PT Folbamor justru berencana meminta suntikan modal dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT untuk mengembangkan Hotel Sasando Internasional menjadi bintang empat.
“Manajemen PT Flobamor ingin mengembangkan Hotel Sasando menjadi hotel bintang empat, termasuk menambah 150 kamar lagi. Kita lagi cari pembiayaannya dari mana,”  ungkap Komisaris PT Flobamor Hadi Djawas kepada VN, akhir pekan kemarin.
Ia mengaku sudah mempunyai rencana untuk bertemu jajaran Pemprov NTT untuk meminta penyertaan modal.
Selain itu, pihaknya juga berencana mencari investor yang tertarik.
“Mau minta penyertaan modal. Tapi kalau tidak bisa, kita akan bicara dengan Pemprov supaya kita cari investor karena lahan masih luas dan kemampuan kita masih bisa ditingkatkan,” ujarnya.
Ia menyebut beberapa investor dari luar NTT akan dijajaki untuk berinvestasi.
“Sebenarnya target kita April lalu bertemu investor tapi karena wabah.Corona ini akhirnya mundur sehingga satu rencana lagi mau ajukan permintaan modal di APBD Perubahan,” ungkapnya.
Ia mengatakan, baik melalui penyertaan modal maupun melalui investor, PT Flobamor tetap mengarahkan Hotel Sasando memiliki predikat the legend hotel karena secara historis hotel ini adalah hotel pertama bintang tiga di Kota Kupang. “Secara ide, secara marketing, saya siap 100 persen,” katanya.
Pengelolaan atau manajemen Hotel Sasando International di Kelapa Lima, Kota Kupang tersebut, saat ini berada di bawah anak perusahaan PT Flobamor yaitu PT. Flobamorata Bangkit Internasional (FBI).
Sebelumnya, dalam jumpa pers Rabu (19/12), Direktur Utama PT Flobamor Agustinus Zadriano Bokotei mengaku pihaknya telah menyetor Rp 500 juta sebagai laba untuk PAD Provinsi.

Kontribusi PAD itu, lanjut dia, merupakan laba yang didapat dari unit usaha yang sudah digeluti PT Flobamor yaitu pelayaran kapal Fery di seluruh rute di NTT.

Tiga Opsi
Sebelumnya, Fraksi Partai Golkar DPRD NTT memberikan sorotan tajam kepada PT Flobamor. Golkar mengungkapkan pada TA 2019 target PAD yang dibebankan kepada PT Flobamor adalah Rp 500 juta. Target ini tak mampu dipenuhi. Justru di tahun yang sama, manajemen perusahaan ini mengalami kerugian sebesar Rp 440.639.575.

Golkar menyodorkan beberapa opsi atau rekomendasi ke Pemprov. Pertama, audit investigasi terhadap pemanfaatan kredit dari Bank NTT sebesar Rp 10 miliar yang hingga saat ini meninggalkan beban pokok bunga kurang lebih Rp100 juta/bulan.

Kedua, rasionalisasi anak-anak perusahaan PT Flobamor untuk memperbaiki kinerja perusahaan. Ketiga, likuidasi PT Flobamor dengan segala beban historisnya. Bentuk BUMD baru dengan core business yang dikaji lebih matang dan menguntungkan bagi pengembangan ekonomi daerah dan peningkatan PAD. (mg-06/E-1)