NTT Butuh Grand Design Pariwisata

berbagi di:
Ketua Fraksi Partai NasDem DPR-RI Viktor Bungtilu Laiskodat berbicara dalam FGD "Pariwisata NTT, Identifikasi Potensi dan Rantai Nilai" di Hotel On The Rock-Kupang, Jumat (15/9) pagi.

 

Beverly Rambu
Nusa Tenggara Timur kaya potensi pariwisata, namun belum mampu membawa dampak signifikan terhadap peningkatan ekonomi dan kesejahteraan bagi masyarakat NTT. Pariwisata belum dijadikan sebagai lokomotif ekonomi dengan menjadikan pariwisata bukan sekedar pembangunan hotel namun menjadi sebuah industri yang komprehensif.

“Orang NTT punya semua. Kita kaya, tidak miskin. Budaya kita lebih hebat dari Bali. Bahasa, tarian, tenun ikat. Kita sangat luar biasa tapi kita belum mampu mengeksploitasinya dengan benar. Kita belum bisa mendesign pariwisata sebagai sebuah industri termasuk perilaku kita untuk menjadi pariwisata sebagai lokomotif ekonomi di NTT,” tegas Ketua Fraksi Partai NasDem DPR RI Viktor Bungtilu Laiskodat dalam Focus Group Discussion (FGD) Pariwisata NTT, Jumat (15/9) di Hotel On The Rock.

Menurut Victor, perkembangan pariwisata yang terjadi di NTT saat ini masih bersifat parsial. Masyarakat dan pelaku usaha bekerja atas usaha sendiri bukan karena design politik dan kebijakan pemerintah sehingga masih terkesan sporadis. Karena itu, ia menilai, kesadaran kolektif perlu dibagun untuk mendukung pengembangan pariwisata di NTT.

Ia mengatakan pariwisata di NTT maju bila semua ada grand design atau konsep besar tentang pariwisata NTT. Semua stakeholder bekerjasama dengan masyarakat untuk membangun NTT.

“Tidak selamanya untuk bangun pariwisata NTT hanya di dinas pariwisata. Konsep boleh dari dinas pariwisata, tapi anggaran dan kerja oleh semua instansi yang kemudian terarah untuk mendukung pariwisata. Misalnya untuk bangun jalan ke destinasi wisata, PU yang bekerja,” ujarnya.

Pariwisata itu soal perilaku
Victor menjelaskan, salah satu penghambat kemajuan pariwisata di NTT yakni perilaku pemerintah dan masyarakat yang belum sadar wisata. Pemerintah perlu berpikir bagaimana menyiapkan anggaran dan program untuk mendukung pariwisata. Sementara masyarakat juga dilatih bagaimana menyiapkan daerah mereka sebagai daerah wisata misalnya menjaga kebersihan dan pengetahuan tentang standarisasi produk makanan misalnya daging di hotel-hotel untuk mendukung pariwisata.

Ia mengatakan saat ini, ia bersama dua orang profesor dari Universitas Kristen Arta Wacana Salatiga, bersama para peneliti lokal sedang melakukan riset di Flores, Sumba, Timor, dan Alor tentang pariwisata di NTT. Ia bahkan mengklaim, riset ini merupakan riset pariwisata terbesar tentang pariwisata di NTT.

Ia berharap hasil riset tersebut bisa menjadi referensi bagi pemerintah NTT bersama para stakeholder untuk membuat grand design pariwisata NTT sehingga mampu menjadikan pariwisata NTT sebagai lokomotif ekonomi NTT dan industri pariwisata bisa memberi dampak bagi kesejahteraan masyarakat.

Sementara Profesor Daniel Kameo yang menjadi koordinator riset tersebut mengatakan event nasional maupun internasional yang diadakan di NTT sejauh ini belum cukup untuk bisa mempromosikan atau mengembangkan pariwisata di NTT. NTT tetap membutuhkan grand design, tanpa rencana maka kita tidak tahu apa yang akan kita lakukan untuk membangun industri pariwisata di NTT.

“Event bagus sebagai momentum, namun kegiatan ini hanya bersifat parsial. Seperti pesta, setelah pesta, apa sambungannya. Tidak ada. Karena itu kita butuh grand design pariwisata,” tegas Prof. Kameo.

Ia menambahkan kebijakan dan pembangunan pariwisata di NTT masih setengah-setengah sehingga hasilnya tidak maksimal.

“Marina di Labuan Bajo, misalnya. Dibangun tempat makan tapi toilet dan tempat parkir tidak ada. Jangan setengah-setengah urus pariwisata. Ide bagus, tapi sepotong-sepotong. Kebijakannya tanggung. Sehingga ada intan di sana tapi masih tertutup lumpur. Kemilaunya tidak kelihatan. Konsep besarnya tidak ada sehingga buat sesuatu tanpa rencana,” jelas Prof. Kameo.

Ia mengatakan riset pariwisata yang sedang dijalankan saat ini bertujuan untuk mengindentifikasi kondisi destinasi wisata, masalah, tantangan, potensi, serta solusi pariwisata di NTT.

Menurutnya, untuk mengembangkan pariwisata di NTT maka kita terlebih dahulu harus mengenal kondisi pariwisata di NTT. Sehingga hasil penelitian nanti bisa menjadi dasar kebijakan pembangunan pariwisata NTT ke depan.

“Kita kaya, tapi kita harus tahu dan kenal kekayaan kita sebelum kita eksploitasi dengan baik untuk kesejahteraan masyarakat,” tambahnya.