NTT Kirim 35 Ribu Sapi ke Jawa-Kalimatan

berbagi di:
ilustrasi sapi

 

 

 

Polce Siga

Provinsi NTT telah mengrimkan lebih kurang 35 ribu ekor sapi ke Pulau Jawa dan Kalimantan untuk memenuhi kebutuhan daging saat perayaan Idul Fitri 1440 H pada 5-6 Juni lalu dan persiapan Idul Adha 1440 H yang jatuh pada Minggu, 11 Agustus mendatang.
35 ribu ekor sapi tersebut terdiri dari 23.644 ekor untuk Idul Fitri dan 11 ribu untuk Idul Adha. Sapi-sapi yang dikirim tersebut berasal dari daratan Timor, Sumba, dan Flores.

“Hingga kini, NTT sudah kirim 11 ribu ekor sapi ke Jawa dan Kalimantan untuk kebutuhan Idul Adha melalui beberapa pelabuhan di NTT,” ungkap

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Dani Suhadi yang dihubungi VN di Kupang, Kamis (8/8).

Dani menyebutkan, Kabupaten Kupang menjadi pemasok sapi terbanyak atau sekitar 60 persen (dari 11 ribu ekor). Disusul Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Belu, dan Malaka.

“Untuk hewan kurban saat Idul Adha kali ini, NTT sudah kirim sejak Juni, Juli sampai sekarang. Ada 11 ribu ekor yang dikirim ke Jawa dan Kalimantan,” katanya.

Ia menambahkan, hewan yang dikirim tersebut melalui sejumlah pelabuhan yaitu Pelabuhan Tenau (Kupang), Pelabuhan Atapupu (Wini) untuk Kabupaten TTU, Malaka dan Belu. Begitupun, pengirim sapi melalui Pelabuhan Waingapu di Sumba Timur.

“Kemudian Pelabuhan Marapokot di Nagekeo dan Pelabuhan Reo Manggarai Barat. Jadi yang mengangkut itu kapal Cemara Nusantara I, II, III, IV dan VI,” kata Suhadi.

Menurutnya, kuota pengiriman sapi tahun ini lebih banyak lima persen, jika dibandingkan dengan tahun lalu. Sebelum dikirim, ribuan ekor sapi itu diperiksa untuk memperoleh surat keterangan kesehatan hewan. “Jadi biasanya setiap tahun, dalam rangka hari Idul Adha, maka NTT mengirimkan sapi-sapi ke DKI, Jawa Barat, Banten dan juga Kalimantan,” ungkapnya.

Pengiriman sapi ini sesuai dengan rekomendasi kesehatan dari rumah sakit hewan untuk memastikan kesehatan hewan. Hewan yang dikirim harus dipastikan tidak memiliki virus penyakit menular.

“Jadi kita mulai dari persiapan sampai pemeriksaan, kan sekarang kita sudah ada rumah sakit, sehingga kita mengeluarkan surat keterangan kesehatan hewan. Kita memastikan bahwa hewan yang dikirim itu sehat, tidak ada dampak penyakit. menular dan lainnya,” ujarnya.

Sebelumnya, terhitung sejak Januari hingga 31 Mei 2019, Provinsi NTT telah mengirim 23.644 ekor sapi, 676 ekor kuda dan 2.294 ekor kerbau ke Jakarta, Jawa Barat, dan Kalimantan dan daerah lainnya untuk kebutuhan hari raya Lebaran 5 Juni hingga 6 Juni 2019 mendatang.

Permintaan untuk Idul Fitri tahun 2019 mengalami kenaikan di bandingkan dengan permintaan pada Idul Fitri 2018 lalu. NTT terakhir mengirim 550 ekor ternak sapi dan kerbau ke Jakarta dan Kalimantan menggunakan KM Camara Nusantara 2 Permintaan ternak, sapi dan kerbau paling banyak dari Provinsi Jawa Barat. Hingga 31 Mei 2019 lalu, kiriman ternak ke daerah Jawa barat mencapai 12.386 ekor sapi, empat ekor kuda dan 148 ekor kerbau. Belum termasuk yang dikirim bulan Januari–Maret 2019.

Kapal yang mengangkut ternak dari NTT sebanyak lima kapal yang secara rutin bergantian setiap minggu dari NTT ke Jawa dan Kalimantan. Kelima kapal ini masuk program tol laut yang diresmikan 2015 lalu. Kapal–kapal itu adalah Camara Nusantara 1,3,3,4 dan 6.

 

Antisipasi HPHK
Sementara itu, Kepala Karantina Pertanian Ende drh Yulius Umbu Hunggar, mengatakan pihak terus memastikan kesehatan hewan kurban sebelum dilalulintaskan ke daerah lain.

Hal ini untuk memberikan jaminan kesehatan hewan kurban tidak terjangkit Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK). Terlebih Pulau Flores menjadi salah satu penghasil ternak yang menyokong daerah lain.

“Setiap sebelum pengiriman hewan seperti sapi, kuda, kerbau dan lainnya harus dipastikan kesehatannya. Kepastian ini diperoleh dari hasil pengujian di laboratorium karantina hewan Karantina Pertanian Ende. Apalagi lalu lintas hewan besar seperti sapi ini meningkat drastis jelang Idul Adha,” ujarnya.

Pengiriman sapi ke daerah lain seperti Bulukumba, Jenoponto, Tangerang, dan Sinjai untuk kebutuhan hewan kurban meningkat mencapai sebesar 169,98 % dari bulan sebelumnya.

Berdasarkan data IQFAST (Indonesian Quarantine Full Automation System) pada Juli 2019, jumlah lalu lintas sapi yang keluar dari Pulau Flores sebanyak 2.033 ekor sedangkan Juni sebanyak 753 ekor.
Yulius menjelaskan, pengeluaran hewan melalui pintu pengeluaran yang telah ditetapkan yaitu di antaranya di Pelabuhan Maropokot, Labuan Bajo, Reo, Maumere, dan Ende.
Stok Cukup
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan I Ketut Diarmita menyebutkan kebutuhan hewan kurban tahun ini diperkirakan akan tumbuh 10 persen. Pihaknya memproyeksikan kebutuhan pemotongan hewan dapat mencapai 1.346.712 ekor.

“Ini adalah angka estimasi jumlah pemotongan hewan kurban tahun ini. Kami perkirakan ada kenaikan jumlah pemotongan hewan kurban sebesar 10 persen dari jumlah pemotongan tahun lalu 2018,” ungkap Ketut.

Dari angka tersebut, kebutuhan sapi diproyeksi mencapai 376.487 ekor, kerbau sebanyak 12.958 ekor, 716.089 ekor kambing, dan 241.178 ekor domba. Sementara pada 2018 lalu, penyembelihan hewan kurban di Indonesia tercatat mencapai 1,22 juta ekor, terdiri dari 342.261 ekor sapi, 11.780 ekor kerbau, 650.990 ekor kambing, dan 219.253 ekor domba. Sedangkan total populasi sapi potong, sapi perah, dan kerbau di Indonesia tahun ini mencapai 18,12 juta ekor dengan rincian populasi sapi potong sebanyak 16,65 juta ekor, sapi perah 604.467 ekor, dan kerbau sebanyak 877.673 ekor.

Dari total 16,65 juta sapi potong tersebut, jenis sapi Bali mendominasi dengan persentase 32,91 persen, disusul sapi jenis Onggole sebanyak 15,25 persen, Madura 6,79 persen, Simental 9,08 persen, Limosin 11,23 persen, Brahman 4,14 persen, Brahman Cros 0,36 persen, Aceh, 6,12 persen, dan sapi jenis lainnya 14,20 persen. (pol/*/E-2)