NTT Menggebrak Skandinavia

berbagi di:
11

Antusiasme pengunjung yang memadati stand NTT di arena Festival Indonesia di Oslo, Norwegia membuat para penari pado’a turun dari panggung mengajak pengunjung menari bersama. Gubernur Viktor Laiskodat dan Dubes Todung Mulya Lubis tampak ikut menari irama Gemu Famire.

 

 
Delegasi NTT menggebrak dan menjadi primadona di arena Festival Indonesia di Oslo, Norwegia, Sabtu (29/6). Acara yang mengusung tema: “Wonderful Indonesia: A Land of Diversity” tidak hanya dikunjungi warga Norwegia sendiri. Namun juga negara-negara tetangga rumpun Skadinavia (eropa utara) seperti Denmark, Swedia, Finlandia, Aland, Kepulauan Faroe, Greenland, dan Islandia.

Dalam festival yang mengkombinasikan kegiatan budaya dan ekonomi ini, para peserta menampilkan produk unggulan masing-masing dari sisi ekonomi dan budaya melalui stan (booth) dan panggung utama yang disiapkan di Alun-alun Skipersuppa, yang terletak di Pusat Kota Oslo.

Pantauan VN, ribuan orang silih berganti memenuhi arena festival yang sehari-hari merupakan taman kota. Kehadiran NTT di pameran benar-benar menjadi magnet bagi pengunjung. Mereka hilir mudik di stan NTT.

1
Stan NTT yang menampilkan aneka produk daerah mulai dari tenunan, cinderamata, hingga camilan produksi asli NTT ramai diserbu pengunjung. Brosur-brosur pariwisata NTT yang ditampilkan oleh Perwakilan Asita NTT Jeane Nyoko juga ludes diambil dan dibawa pulang oleh pengunjung.

Stan NTT menjadi pusat perhatian karena mempunyai keunikan tersendiri dengan dihadirkannya replika Komodo dalam ukuran sesuai aslinya. Selain itu, para penari dari NTT yang tak henti-hentinyanya menarikan tarian-tarian daerah NTT di depan stan menawarkan tontonan tersendiri yang memukau para pengunjung.

Di panggung utama yang menampilkan tari dari berbagai daerah di Indonesia, juga dikuasai oleh para penari Pado’a yang didatangkan khusus dari Kabupaten Sabu Raijua di bawah pimpinan Bupati Sabu Raijua Nikodemus Rihi Heke.
Para penari Padoa yang tampil di penghujung acara sukses memukau ribuan pengunjung di sekeliling panggung. Kendati acara telah dinyatakan berakhir tepat pukul 17.00 waktu setempat, para pengunjung tak juga mau beranjak pergi.

Melihat animo yang begitu tinggi akhirnya para penari Pado’a turun dari panggung dan mengajak para pengunjung menari bersama. Tak pelak hampir semua tarian yang hits di NTT ditarikan beramai-ramai mulai dari Gemu famire, Tebe, Jai, hingga poco-poco.

Dubes Indonesia untuk Norwegia dan Islandia Todung Mulia Lubis dan Gubernur NTT NTT Viktor Bungtilu Laiskodat berbaur menari bersama-sama dengan para pengunjung. Begitu pula dengan Ketua Komisi III DPRD NTT Yucun Lepa dan rombongan NTT lainnya.

Dubes Todung Mulia Lubis dan Gubernur VBL sama-sama menyatakan kepuasaanya atas kesuksesan festival tersebut. “Saya harus akui bahwa delegasi NTT memberi warna tersendiri pada festival ini. Terima kasih Pak Gubernur,” ujar Dubes Todung sembari menjabat tangan Gubernur VBL.

 
Komodo jadi Icon
Sementara itu, kehadiran replika Komodo yang dibuat sesuai dengan aslinya (panjang sekitar 2,22 meter) mendapat sambutan luar biasa dari pengunjung.
Para orangtua dan anak-anak warga Kota Oslo menyempatkan diri untuk berfoto di atas komodo. Ada yang berfoto sambil mencium komodo.

Di hari pertama, Jumat (28/6) lalu, Delegasi NTT sudah langsung menyita perhatian publik Oslo.
Pada malam pembukaan semalam, tarian Pado’a mendapat sambutan meriah dari para hadirin. Tepuk tangan membahana seusai para penari meninggalkan panggung. Begitu pula saat penampilan Tarian Ledo Hawu juga mendapat aplaus hadirin.

Kontingen NTT tampil pada pukul 18.30 sampai 18.55 waktu setempat tadi malam, menyuguhkan dua tarian yaitu Padoa dan Ledo Hawu, serta permainan alat musik sasando oleh Izoe Nisnoni Koerniawan. Selain NTT, kontingen dari daerah lain pun menbawakan tarian dari Kabupaten Musi Banyu Asin dan dari DKI Jakarta.

Salah satu yang menarik perhatian pengunjung adalah replika komodo yang ditaruh di depan stand NTT.
Salah satu yang menarik perhatian pengunjung adalah replika komodo yang ditaruh di depan stand NTT.

Penampilan para penari dari SMA Negeri 1 Sabu Timur sangat memukau warga Oslo yang menyaksikan malam inaugurasi tersebut di Felix Conference Room Jalan Bryggetorget 3, 0250 Oslo.
Para pejabat Norwegia, pemerhati pariwisata, Duta Besar RI untuk Norwegia dan Islandia Todung Mulia Lubis, para diplomat di KBRI Norwegia, serta warga setempat dibuat tertegun menyaksikan kedua tarian itu. Gubernur VBL, Ketua Komisi II DPRD NTT Yucun Lepa, Bupati Sabu Raijua Nikodemus Rihi Heke, dan rombongan pun puas dengan sambutan publik Oslo.

111

Untuk diketahui, warga Norwegia dikenal dunia sebagai warga yang memiliki rata-rata pendapatan tertinggi di dunia (GDP Norwegia merupakan salah satu yang tertinggi di dunia, yaitu sekitar USD 78 ribu). Warga Norwegia juga dikenal memiliki tradisi berlibur ke luar negeri, terutama pada saat musim panas, di mana lebih dari 60 persen warganya memilih untuk berlibur ke luar negeri.

Wisatawan Norwegia juga dikenal memiliki daya beli yang lebih tinggi dibandingkan dengan wisatawan asing asal negara Eropa lainnya, yaitu dengan rata-rata 1 wisatawan Norwegia membelanjakan sekitar USD 4.300/1 kali trip, yang 90 persen-nya dihabiskan untuk kuliner, akomodasi dan tiket atraksi.

Selain acara pameran, KBRI Norwegia juga menggelar temu bisnis RI-Norwegia di Oslo terdiri dari promosi produk makanan/minuman kemasan, kopi, kerajinan tangan, dan ragam destinasi wisata tanah air. Festival Indonesia yang pertama kali diadakan di Norwegia ini juga menjadi bagian dari peringatan 70 tahun hubungan diplomatik RI-Norwegia yang akan jatuh pada 25 Januari 2020. (M-12/M-1/D-1)