NTT Tambah 26 Sebaran Titik Panas

berbagi di:
img-20200912-wa0019

Agung Sudiono Abadi
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II El Tari Kupang

 

 

 

Yapi Manuleus

 
HARI ini, Sabtu 12 September 2020 jumlah titik panas (Hotspot) di wilayah Provinsi NTT bertambah menjadi dua puluh enam titik panas yang menyebar di beberapa wilayah.

Hal tersebut diketahui berdasarkan rilis dari Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II El Tari Kupang Agung Sudiono Abadi, Sabtu (12/9) siang.

Wilayah-wilayah di NTT yang terpapar sebaran titik panas tersebut diantaranya: Kabupaten Belu, Kecamatan Raihat terdapat satu titik panas, Kabupaten Ende kecamatan Detusoko terdapat satu titik panas, Kabupaten Kupang Kecamatan Amarasi Timur terdapat satu titik panas, Kecamatan Amfoang Selatan dua titik panas, Kecamatan Sulamu satu titik panas, Kecamatan Takari dua titik panas.

Kabupaten Manggarai Timur Kecamatan Kotakomba terdapat satu titik panas, Ngada Kecamatan Riung satu titik panas, Kabupaten Sumba Barat Daya Kecamatan Weweha Timur satu titik panas, Sumba Tengah Kecamatan Katikutana dua titik panas, Kabupaten Sumba Tengah Kecamatan Umbu Ratu Nggay terdapat tiga titik panas.

Kabupaten Sumba Timur Kecamatan Haharu terdapat dua titik panas,ecamatan Lewa terdapat satu titik panas, Kecamatan Paberiwai terdapat dua titik panas, Kecamatan Pahungalodu terdapat satu titik panas, Kecamatan Tabundung terdapat satu titik panas, dan yang terakhir Kabupaten TTS kecamatan Molo Selatan terdapat satu titik panas.

“Sehingga total keseluruhan titik panas di wilayah NTT pada Hari ini 12 September 2020 terdapat sebanyak 26 titik panas dengan tingkat kepercayaan 80 persen,” jelasnya dalam rilis tersebut.

Satelit akan mendeteksi anomali suhu panas dalam luasan 1 km persegi. Pada suatu lokasi di permukaan bumi akan diobservasi 2-4 kali per hari pada wilayah yang tertutup awan.
Maka hotspot tidak dapat terdeteksi, kekeringan dan hembusan angin yang kencang juga menjadi penyebab tidak langsung dalam sebaran suatu titik panas tersebut.

Citra satelit tersebut hanya menilai anomali refleksifitas dan suhu sekitar yang diinterprestasikan sebagai titik panas (Hotspot). Penyebab adanya anomali tersebut tidak dapat dipastikan. (Yan/ol)