Anggota Fraksi Golkar DPRD Lembata Tolak Ritual Sare Dame Berkedok Eksplorasi Budaya

- Rabu, 19 Januari 2022 | 10:53 WIB
Poan Kemer, salah satu ritual masyarakat adat Kedang di Kabupaten Lembata, NTT, yang digelar di Kampung Lama (Leu Tuan) beberapa waktu lalu. (Hiero Bokilia/victory news)
Poan Kemer, salah satu ritual masyarakat adat Kedang di Kabupaten Lembata, NTT, yang digelar di Kampung Lama (Leu Tuan) beberapa waktu lalu. (Hiero Bokilia/victory news)

LEWOLEBA,VICTORY NEWS-Setelah sebelumnya menolak Festival Sare Dame yang dikhawatirkan akan mengungkit kembali trauma lama perang Paji-Demong, Politik adu domba ala Kolonial Belanda, Petrus Bala Wukak, anggora DPRD Lembata, NTT, dari Fraksi Partai Golkar kembali buka suara.

Kali ini Bala Wukak menyoroti ritual Sare Dame yang dibungkus dalam kegiatan Eksplorasi Budaya Lembata.

Baca Juga: Tahun 2021, Pengadilan Tinggi Kupang Putuskan 45 Perkara Tipikor

Kepada Victory News, Rabu (19/1/2022), Petrus Bala Wukak menjelaskan, pada Selasa (18/1/2022) saat rapat kerja Komisi III dengan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Dinas Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga, Dinas mengaku telah mengubah nama Festival Sare Dame menjadi Eksplor Budaya Lembata.

Menurut Bala Wukak, terdapat satu hal yang menarik untuk dikritisi, yakni seremonial adat di 10 titik kecamatan, yakni Atadei di Desa Atakore, Wulandoni di Labala, Nagawutung di Boto, Lebatukan di Leragere , Kedang di Kalikur dan Benihading, Ile Ape di Desa lewotolok, Lewohala.

Baca Juga: Tak Mau Mengulangi Keterlambatan Tahun Sebelumnya, DPRD Kota Kupang Ingatkan, LKPj Wali Kota Dimasukkan Tepat

"Satu pertanyaan yang saya ajukan ke Pak Markus sebagai Kadis (Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga) yaitu motivasi dasar seremoni itu apa dan siapa yang melegitimasi mereka di 10 titik untuk melakukan seremoni dan siapa mereka itu. Saya lihat Pak Kadis Markus Waleng tidak bisa menjelaskan yang menyentuh substansi pertanyaan saya," tegas Bala Wukak.

Bagi orang Lamaholot dan orang kampung, kata dia, selalu berkeyakinan bahwa mantera ritual itu said, keramat dan memiliki daya magis yang tinggi yang berkonsekwensi pada jatuhnya korban jika salah orang, salah omong, salah tujuan. Apalagi jika dilakukan dengan hati tidak ikhlas dan pihak sebelah (Pihak lain) juga tidak ikhlas.

"Ritual adat adalah sebuah tindakan sadar setelah ada realitas sosial yang kacau karena tindakan menyimpang antara manusia terhadap manusia, manusia terhadap alam sekitarnya," tegasnya.

Baca Juga: Ratusan Wartawan NTT Terima Vaksin Booster

Halaman:

Editor: Yance Jengamal

Tags

Terkini

STFK Ledalero Hasilkan 21 Uskup dan 1.962 Pastor

Kamis, 23 Juni 2022 | 10:11 WIB
X