Refleksi 1.000 Lilin, NTT Yang Diam Adalah Pembunuh Adelina

- Minggu, 3 Juli 2022 | 21:23 WIB
Peserta aksi seribu lilin menyatukan seluruh lilin agar tidak mudah padam karena angin kencang. Pemerhati masalah kemanusiaan mengatakan NTT yang diam adalah pembunuh Adelina Sau (victorynews.id/Putra Bali Mula)
Peserta aksi seribu lilin menyatukan seluruh lilin agar tidak mudah padam karena angin kencang. Pemerhati masalah kemanusiaan mengatakan NTT yang diam adalah pembunuh Adelina Sau (victorynews.id/Putra Bali Mula)

"Betapa sulitnya mendapat keadilan. Kadang suara kita dibawa angin, tidak ada yang benar-benar dengar," ulang wanita beruban itu di tengah lingkaran peserta aksi malam itu.

Adelina jadi bukti kompleksnya kasus perdagangan orang, masyarakat terpinggirkan yang adalah objek eksploitasi ini, hingga akhir hayatnya pun sulit mendapat keadilan hukum.

Sejak 2014 Presiden Joko Widodo berulang mengecam perdagangan orang dengan berbagai teken kerja sama. Begitu pun Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, bersemangat mengancam mematahkan kaki para pelaku di awal ia dilantik. Adelina Sau tewas pada 2018. Tak satupun yang dihukum hingga 2022 ini.

Baca Juga: Meskipun Darurat, Jalan Taebenu Telah Dilintasi Pengendara

"Dia berebutan makan dengan anjing, mati di tempat anjing," kata Emmy lagi.

Diam membiarkan kesalahan adalah juga pelaku. Menurut Emmy, janji pemerintah memberi keadilan harus terus ditagih, tak bisa dibiarkan berakhir seperti ini, masyarakat NTT perlu ribut bersuara soal hak masyarakat mendapat keadilan. Perdagangan orang masih terjadi, kematian Adelina bukanlah akhir, NTT tak henti mendapat kiriman peti mati.

"Kasus perdagangan orang NTT adalah sebuah penghinaan terhadap masyarakat NTT, termasuk pemerintah. Ini bukan kasus Adelina Sau saja. Ini kasus kita semua, ini masalah kebangsaan, harga diri kita melawan ketidakadilan!" seru Emmy.

Ia menyebut NTT tidak bisa bebas dari penistaan, perbudakan, tindakan perdagangan orang, eksploitasi manusia akan terjadi sampai pemerintah benar-benar mempunyai jalan keluar agar masyarakat kuat mencegah perekrutan ilegal pekerja migran di NTT.

Baca Juga: 39 Warga Oesapa Barat, Kota Kupang Telah Terima Bantuan Seroja

Dina Wera, gadis 19 tahun dari FISIP UNWIRA ini datang malam itu bersama 50 orang temannya. Mereka perwakilan UNWIRA.

Halaman:

Editor: Beverly Rambu

Tags

Artikel Terkait

Terkini

71 Bintara Polda NTT Lolos Seleksi Perwira 2022

Sabtu, 24 September 2022 | 11:38 WIB

Kejati NTT Gelar Program JMS di SMA Negeri 12 Kupang

Kamis, 22 September 2022 | 19:40 WIB
X