Obat Kemoterapi RSUD Johannes Habis

berbagi di:
foto-hal-01-stef-dhe-soka-wadir-pelayanan-rsud-wz-johannes

 

 

 

Stok obat kanker yang digunakan untuk kemoterapi di RSUD W.Z. Johannes habis. Habisnya obat kemoterapi tersebut dikemukakan dokter Laurens Paulus kepada VN, Senin (3/1) malam. Dokter spesialis kanker kandungan RSUD WZ Johannes itu dikonfirmasi terkait postingan tulisannya di Facebook pada sore hari terkait ketiadaan obat kemoterapi.

“Ya benar, enam orang pasien penderita kanker tidak bisa menerima pelayanan kemoterapi, dikarenakan tidak tersedianya obat. Tadi pasien terpaksa dipulangkan karena obatnya tidak ada,” tegasnya.

Menjawab VN apakah benar penyebabnya karena manajemen RSUD belum membayar ke pihak distributor obat, dr Laurens, meminta VN untuk menanyakan langsung kepada Direktur.

dr Laurens mengaku tidak punya cara lain selain menuliskan kondisi itu di medsos. Karena hanya dengan cara itu, obat kemoterapi akan cepat tersedia.

“Saya tidak punya cara lain. Dengan cara itu saya yakin akan cepat tertangani karena banyak pihak yang cinta Bapak Gubernur atau Bapak Wagub akan menanganinya,” ungkap dr Laurens.

Ia mengaku sudah sempat bertanya ke manajemen terkait hal tersebut tapi tidak pernah ditanggapi.

“Saya sampaikan hal itu lewat grup WA dokter-dotker dan manajemen. Tapi sama sekali tidak ada tanggapan apapun, padahal besok pasien harus dikemoterapi. Saya ambil langkah (tulis di medsos) semata-mata demi pelayanan kepada pasien,” pungkasnya.

Menanggapi hal ini, Wakil Direktur Bidang Pelayanan dr Stef Soka yang dihubungi melalui WhatsApp menjelaskan ketersediaan obat kemoterapi tertentu menipis. Namun tidak mengancam pasien ongkologi tidak dikemoterapi.

“Memang sempat ada informasi persediaan obat kemoterapi tertentu menipis, tapi tidak sampai mengancam bahwa pasien onkologi tidak dapat dikemoterapi lagi karena selain jadwal kemoterapi bisa deviasi yang dapat ditolerir lima hingga tujuh hari,” ungkapnya.

Bagian Farmasi, sudah melakukan langkah antisipasi supaya penundaan jadwal kemo tidak sampai melebihi batas waktu yg bisa ditolerir.
Selain itu, ia pun menyampaikan bahwa pihak RSUD WZ Johannes siap apabila hari ini akan diadakannya kemoterapi. “Informasi dari bagian penunjang farmasi tadi mereka siap menyediakan obat besok pagi (hari ini) jika memang ada rencana kemoterapi dengan menggunakan obat kemoterapi tertentu dalam hal ini Carboplatin,” jelasnya.

Terkait hutang obat dengan distributor obat di Kupang, dr Stef mengaku tidak mengetahuinya dan menyarangkan VN agar langsung menghubungi Direktur. “Kalau hal ini mungkin bisa ditanyakan langsung kepada Direktur supaya informasi bisa lebih jelas dan benar,” tulisnya.

Kepala Ombudsman Kantor Perwakilan NTT Darius Beda Daton mengatakan bahwa masalah tersebut telah dikonfirmasi dengan RSUD. “Saya sudah konfirmasi dengan pihak rumah sakit terkait ketersediaan obat kemoterapi namun salah satu dokter menyampaikan salah obat yang diperlukan dokter tersebut belum ada namun obat lain yang gunanya sama ada, dan dokter tersebut tidak mau menggunakan obat tersebut sehingga masih menunggu obat yang dipilihnya itu masuk ke RSUD,” ungkapnya.

Ia berharap agar para dokter bisa mengantisipasi terkait hal seperti ini sehingga pasien tidak ditelantarkan, namun bisa menggunakan obat yang tersedia, yang sama khasiatnya. Sedangkan Rushendri, dari perusahaan obat Enseval meminta pihak RSUD WZ Johannes dipertemukan dengan semua distributor obat yang berada di Kupang agar jelas. “Sebaiknya pihak RS dipertemukan saja dengan semua distributor obat di Kupang biar ada transparansi,” ungkapnya.

Sebelumnya, dokter Laurens melalui akun Facebooknya, Senin (3/1) petang menyebutkan bahwa ada enam orang penderita kanker yang tidak bisa menerima pelayanan dikarenakan karena tidak tersedianya obat.

Ia pun menyampaikan keterlambatan pembayaran pihak RSUD WZ Johannes kepada distributor maka obat tidak bisa. (mg-22/paa/S-1)