OJK Minta Warga Waspadai Pinjaman Online

berbagi di:
foto-hal-09-ojk

Masyarakat Kota Kupang khususnya perempuan dan mahasiswi mengikuti kegiatan “OJK Mengajar” tentang Pengenalan Jasa Keuangan, Cerdas Merencanakan Keuangan serta Mewaspadai Investasi Bodong di Kantor OJK NTT, Kamis (10/10). Foto: Polce Siga/VN

 
Polce Siga

Mudah dan cepat membuat pinjaman online diminati banyak orang. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi NTT mencatat saat ini terdapat 13 ribu lebih rekening yang mulai berminat untuk melakukan pinjaman online.

Namun, OJK meminta masyarakat harus tetap mewaspadai pinjaman online itu. Masyarakat harus cerdas dan cermat ketika memilih akses pinjaman online, sehingga tidak rugi dikemudian hari.

Kepala OJK Provinsi NTT, Robert Sianipar saat membuka kegiatan “OJK Mengajar” kepada kaum perempuan di Kota Kupang terkait Pengenalan Jasa Keuangan, Cerdas Merencanakan Keuangan serta Mewaspadai Investasi Bodong di Kantor OJK Kupang, Kamis (10/10) mengatakan, pinjaman online memang lebih cepat dan mudah, jika dibandingkan dengan pinjaman manual di perbankan atau lembaga jasa keuangan lainnya.

Robert mengatakan, pinjaman online bisa diakses dari rumah dengan menyertakan data diri seperti KTP dan persyaratan lainnya. Maraknya pinjaman online oleh masyarakat Kota Kupang dan NTT yang mencapai angka 13 ribu, lanjut Robert, menunjukan masyarakat tidak awam dengan sistem pinjaman online. Menurutnya, masyarakat harus tetap waspada agar pinjaman yang mudah dan cepat itu bisa digunakan untuk kebutuhan investasi dan bukan konsumsi.

“Sampai sekarang ini belum ada pengaduan yang disampaikan ke kita, merasa tertipu begitu. 13 ribu itu angka rekening peminjam. Kalau lender (pemberi pinjaman) yang meminjamkan itu 1.300 lebih,” katanya.

Dia mengatakan, dengan jumlah 13 ribu ini, maka masyarakat NTT sudah banyak yang berminat pinjaman online. Faktornya, lanjut Robert, karena masyarakat merasa lebih mudah dan cepat memperoleh uang, tapi harus tetap hati-hati.

“Artinya yang ingin saya sampaikan dengan data itu berarti kita di NTT itu juga sudah tidak awam lagi kan dengan pinjaman online. Angka peminjam yang menggunakan pinjaman online itu 13 ribu lebih rekening,” ujar Robert.

Meskipun mudah dan cepat, lanjut Robert, pinjaman online tetap memiliki risiko, karena bisa juga meminjam di luar batas kemampuan. Menurutnya, pinjaman yang mudah ini, membuat orang lupa diri untuk menginginkan sesuatu, padahal belum dibutuhkan.

“Kemudahan itu selalu dua sisi. Selain kemudahan yang harus diwaspadai, kita gak bisa ambil kemudahan saja. Ada risikonya. Mudah itu sering mendorong orang untuk meminjam banyak. Tidak waspadakan, berapa sih kemampuan saya dan untuk apa ini,” katanya.

Pinjaman yang mudah ini juga bisa saja digunakan orang untuk liburan dan keinginan lainnya, sehingga kesulitan untuk mengembalikannya. OJK, lanjut Robert, berkewajiban memberikan edukasi agar masyarakat cerdas dan cermat mengelola keuangan.

“Jadinya mau berlibur ke sini, pinjam-pinjam. Gak tahu cerdas mengelola keuangan. Harus pinjam sesuai kebutuhan dan kenali kemampuan. Dengan kemudahan ini dia pinjam 5-10 juta rupiah. Jadi kembali kita harus melakukan edukasi, tapi kita kan gak bisa memantau semua orang,” katanya.

Dia mengatakan, untuk mengakses investasi yang benar, maka harus mengenal dua L yaitu legal dan logis. Legal di sini dimaksudnya apakah memiliki izin atau tidak, sedangkan logis terkait dengan bunga tinggi yang menggiurkan.

“Investasi yang benar itu yang pertama dua L, legal dan logis. Legal itu kalau ada penawaran ada izinnya gak, izin itu tidak hanya izin badan hukum, ada juga izin usaha. Kalau dia PT kan dia keluar badan hukum, tapi kalau dia berusaha di badan perhimpunan dana dia kan harus punya izin di OJK. Ada undang-undang perbankan dan itu legal. Logis itu saya contoh saja yang kemarin ada korban Big Data. Dia tawarkan satu persen per hari. Saya tanya masyarakat kita taruh uang dapat satu persen satu hari di mana,” ujarnya.

Ia menambahkan, pinjaman online bukan investasi, tapi itu platform (perangkat lunak) yang menghubungkan saja antara orang membutuhkan dana dan yang menyiapkan dana.

 

Merasa Terganggu
Sementara itu, salah seorang warga Kota Kupang yang enggan menyebutkan namanya mengaku sangat terganggu dengan sikap dari pemberi pinjaman online. Padahal, ia sama sekali tidak pernah meminjamnya.

Ia mengatakan, ada keluarga yang pernah meminjam melalui pinjaman online, tapi terlambat mencicilnya. Tanpa hujan angin, ia malah
jadi sasaran dari pemberi pinjaman online.

“Jadi saya yang sering ditelepon oleh mereka setiap hari dan itu saya merasa terganggung sekali. Saya pernah tanya ke mereka, kenapa waktu dia ajukan pinjaman kalian tidak konfirmasi saya. Giliran ada masalah baru kalian telepon-telepon saya,” katanya.

Ia mengatakan, pinjaman online juga bagus, tapi akan menjadi masalah jika peminjam tidak mengembalikan tepat waktu. Biasanya, pemberi pinjaman menelpon orang-orang terdekat bahkan teman kerja bahkan cenderung merusak privasi peminjam.

“Biasanya mereka telepon semua orang dekat kita termasuk teman kerja. Jadi memang kita merasa terganggung sekali, karena mereka akan telepon kita setiap saat,” katanya.

Risiko pinjaman online, lanjutnya, bisa saja data-data pribadi kita bisa diakses oleh pemberi pinjaman. Ini bisa digunakan mereka untuk menekan penerima pinjaman. (pol/R-4)