OJK Perbanyak Sosialisasi

berbagi di:
foto-hal-10-kepala-ojk-ntt-edisi-281119

Kepala OJK NTT, Rober HP Sianipar (kiri) memaparkan materi pada kegiatan diskusi di Kupang, belum lama ini.

 

Rafael L. Pura

Otoritaa Jasa Keuangan (OJK) Perwakilan Nusa Tenggara Timur (NTT), akan memperbanyak sosialisasi untuk memperkenalkan tentang keberadaan, fungsi, dan peran OJK sehingga semakin dikenal masyarakat luas.

“Kita akan terus sosialisasi dan tahun ini sudah 12 kali. Program kerja tahun 2020 telah disusun dan akan coba metode yang lebih masif,” kata Kepala OJK NTT, Rober HP Sianipar di Kupang, kemarin.

Robert mengatakan, untuk mendukung sosialisasi, pihaknya sedang mempertimbangan untuk merekrut duta literasi keuangan. Duta Literasi ini, akan membantu OJK dalam mensosialisasikan OJK di tengah masyarakat.

“Kami renacana rekrut Duta Literasi, segmennya mahasiwa dan ibu-ibu UMKM, mereka ini, nanti akan disusun program, dan mendukung kami dalam melakukan sosialisasi nantinya,” ujarnya.

Robert mengatakan, OJK sendiri sedang melakukan survei terkait sektor mana yang akan lebih diutamakan dalam sosialisasi nantinya.

“Nanti kita tunggu survei, apakah di masyarakat luas, patani dan nelayan misalnya, setelah diketahui, barulah disusun program dan metode untuk dilaksanakan tahun depan,” sebutnya.

Kendati harus terus melakukan sosialisasi, Robert tetap menghimbau masyarakat menggunakan lembaga keuangan yang sudah terdaftar dan diawasi OJK. Masyarakat harus cerdas mengelolah keuangan agar terhindar dari hal-hal yang tidak dinginkan.
Sebelumnya, dalam Fokus Group Diskusi (FGD) yang digelar OJK, Selasa (29/10) di Hotel Aston, Silvia, utusan dari Dinas Pemberdayaan Perempuan NTT mengatakan, OJK harus hadir di tengah masyarakat untuk mensosialisaikan fungsi dan perannya karena masyarakat belum begitu mengenal lembaga OJK.

Dia mengatakan, banyak investasi bodong yang beroperasi di tengah masyarakat, disinilah OJK seharusnya hadir untuk memberikan pendampingan dan eduaksi agar masyarakat tidak tergiur dengan hal demikian.

“Namun nyatanya, karena kehadiran OJK belum terlalu dikenal, maka masyarakat kadang tidak tahu, harus menyampaikan ke siapa, palingan hanya ke pihak kepolisian untuk ditindaklanjuti. OJK sebenarnya harus ada untuk mencegah hal ini,” katanya.

Dosen Akub Effata Kupang, Adriana Lopo mengatakan, selama ini, kehadiran OJK memang belum terlalu familir. Buktinya, banyak mahasiswa yang belum terlalu mengenal lembaga OJK.
Padahal, dalam setiap mata kuliah, mahasiswa ini selalu berhadapan dengan masalah ekonomi. Untuk itu OJK harus mulai perbanyak sosialisais ke kampus-kampus.

Marta Alfanita, dari Dinas Nakertarans NTT mengatakan, banyak koperasi yang beroperasi di tengah masyarakat, namun dalam praktiknya, mereka menjalankan usaha tidak sesuai dengan asas koperasi. Koperasi ini, memberikan pinjaman kepada masyarakat dengan bunga yang begitu tinggi.

Di desa-desa, kata dia, masyarakat lebih dekat dengan koperasi seperti ini, selain lebih ramah, juga faktor kedekatan yang menyeret masyarakat masuk ke dalam koperasi mereka.

Situasi ini, sebenarnya dibutuhkan kehadiran OJK untuk mengedukasi serta memberikan bimbingan. Namun selama ini, masyarakat di pelosok-pelosok desa, tidak terlalu mengenal lembaga OJK ini.

Dosen Ekonomi Unwira, Tuti Lawali mengatakan jarang sekali OJK melakukan sosialisasi ke kampus-kampus. Para mahasiswa ini, seharusnya diberikan pemahaman soal invesatsi yang berkembang di tengah masyarakat, apalagi mereka berada pada era digital yang berkembang pesat. Banyak tawaran bermuculan dalam web-web secara online.

“Banyak sekali pinjaman secara online, maka harus diberi pendampingan. Kalau mahasiwa saja kurang mengerti, apalagi dengan saudara-sausara lainnya yang ada di kampung,” sebutnya.

Untuk itu OJK sebaiknya membuka atau memperbanyak unit kerja ke desa-desa, atau rutin melakukan sosialisai agar masyarakat tidak terjebak dalam investasi bodong yang lagi marak. (mg-03/E-1)