Opini: Mendongkrak Wisata Budaya

berbagi di:
031c7b15-8ed8-4650-98e1-0aa60d304132_169

Foto: CNN Indonesia

Oleh Vergi Darman
(Pemerhati pariwisata)

 

 

 

Budaya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Ketika manusia lahir, sudah barang tentu Ia akan dibesarkan dalam lingkungan berbudaya sehingga aspek-aspek dalam budaya itu sendiri sudah melekat erat dalam dirinya sejak kecil. Ketika manusia beranjak dewasa, nilai-nilai budaya pun turut terbawa seturut dengan pembelajaran informalnya dalam lingkungan atau daerahnya. Nilai-nilai itu kemudian terpola sedemikian rupa dalam diri tiap orang dalam interaksinya dengan lingkungan. Secara leksikal budaya memiliki pengertian yaitu sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sudah sukar diubah. Dari pengertian ini dapat dikemukakan bahwa budaya menjadi sesuatu yang konsisten dan statis. Ia tidak akan bisa diubah walau pun dalam tuntutan waktu yang terus bergerak.

Dalam kehidupan sekarang ini, ada banyak sekali objek-objek budaya yang di jadikan sebagai tempat pariwisata, bahkan eksistensinya mendominasi objek-objek wisata lain. objek-objek budaya ini berhasil menarik banyak orang, bahkan pendatang asing pun turut menyaksikan keindahan dari objek budaya tersebut.

Badan Pusat Statistik mencatat secara kumulatif dari Januari hingga November 2019, jumlah wisatawan mancanegara atau wisman yang masuk ke Indonesia mencapai 14,92 juta kunjungan. Angka itu naik 3,55 persen dibanding jumlah kunjungan wisman pada periode yang sama tahun sebelumnya yang berjumlah 14,40 juta kunjungan. Dari banyaknya pengunjung yang mengunjungi tempat pariwisata di Indonesia, lebih dari 27 persen wisatawan mencari tempat tujuan dengan peninggalan sejarah dan warisan budaya. Hal ini menjadi batu loncatan yang sangat menguntungkan bagi Indonesia terutama dalam sektor budayanya, sehingga bisa menjadi peluang bagi setiap daerah untuk mendongkrak pariwaisata budaya.

 
Renovasi Tempat Budaya
Melihat kesempatan emas yang muncul dalam sektor budaya sebagaimana yang telah dikemukakan di atas, salah satu terobosan yang dapat dielaborasikan adalah dengan adanya managemen budaya dari setiap daerah. Setiap daerah harus bisa mengolah tempat-tempat budaya yang memiliki potensi menarik pengunjung. Salah satunya adalah dengan mengadakan gerakan bersama untuk menata kembali bahkan merenovasi tempat-tempat budaya yang memiliki kapasitas menarik pengunjung.

Tempat-tempat budaya ini pun menjadi aset yang dapat memberi pemasukan finansial bagi daerah. Bukan itu saja, aset-aset budaya ini pun bisa membuat daerah yang bersangkutan semakin dikenal publik bahkan menjadi bagian dari agenda tempat yang ingin dikunjungi.
Dewasa ini, ada banyak sekali media yang bisa digunakan untuk mempublikasikan tempat-tempat budaya yang ada di suatu daerah, misalnya melalui youtube, facebook, instagram, dan sebagainya. Dengan media-media ini semakin banyak orang yang mengenal lokasi tempat wisata budaya tersebut sehingga menarik pengunjung untuk berkunjung ke sana. Pembangunan kembali dan perenovasian objek-objek budaya ini, selain sebagai sumber pemasukan finansial dan untuk dikenal publik, tetapi suga sebagai revitalisasi jati diri lokal yang sebelumnya mulai dilupakan.

Objek-objek budaya menjadi simbol yang mengingatkan kita pada geliat asa para leluhur yang sudah menjaga dan melestarikan alam, sehingga kita masih bisa menikmatinya sampai sekarang. Setidaknya kita semua masih bisa mempertahankan kearifan lokal yang ada di setiap daerah sebagai identitas yang selalu melekat dalam diri kita.

Untuk membuat program pembangunan dan perenovasian objek budaya terealisasikan dengan baik, maka diperlukan kontribusi dari banyak pihak. Pertama, dari pemerintahan daerah. Pemerintah daerah sebagai pemegang aspirasi masyarakat bisa turut memberikan bantuan berupa sarana prasarana yang bisa mendukung pembangunan maupun perenovasian tempat-tempat budaya di daerah otonominya. Kedua, masyarakat. Masyarakat selain sebagai objek juga menjadi subjek yang berperan penting dalam program ini. Salah satunya adalah dengan menjaga agar objek-objek budaya atau situs-situs budaya ini bisa terus bertahan dan juga turut memperhatikan kebersihan di sekitar tempat atau objek budaya. Peran penting masyarakat inilah yang paling dominan untuk di jalankan, sehingga asset-aset budaya bisa terus arif dan bisa terus bertahan dari generasi ke generasi.

Situs-situs budaya adalah harta yang harus dijaga bersama. Eksistensinya bukan hanya sebagai pemenuhan pemasukan finansial bagi setiap daerah, akan tetapi lebih dari pada itu merupakan jati diri bangsa yang selalu mengedepankan tiap-tiap unsur kehidupan. Bertolak dari gagasan ini, maka langkah konkret yang dapat dilakukan oleh setiap masyarakat adalah dengan menjaga aset-aset budaya agar terus bertahan, sehingga bisa dirasakan pula oleh anak cucu sebagai penerus generasi.