Opini: “Saltimore”: Kebangkitan dan Tantangan Produksi Garam Timor

berbagi di:
foto-hal-04-penulis-opini-110919

Oleh Dr Franchy Christian Liufeto
(Dosen Fakultas Kelautan Perikanan Undana)

 

 

Judul┬ádi atas mungkin menggelitik. Sepintas bunyi “Saltimore” mensejajarkan ingatan kita akan “Baltimore” sebuah kota terbesar di negara bagian Maryland, Amerika Serikat yang menyuguhkan pandangan aquarium terbaiknya dan di saat yang sama, kita berupaya mengaitkan Saltimore dengan suguhan percakapan kita seputar garam dan produksinya di daratan Timor, setidaknya dalam kurun waktu 1 tahun terakhir. Saltimore, yang dalam penggalan kata “Salt” dan “Timor” berarti garam dari Timor, memang telah dipergunjingkan di seluruh region Timor, Sabu, Nagekeo, Sumba Timur bahkan diperbincangkan secara serius dan berulang di pusaran kementerian Kemaritiman, Kelautan dan Perikanan, Perindustrian serta kementerian terkait lainnya. Kunjungan Presiden Joko Widodo pada 21 Agustus 2019 yang lalu di Nunkurus Kabupaten Kupang membuktikan ada sesuatu yang unik, yang disuguhkan dari NTT, dan itu adalah garam.

Begitu istimewakah kristal ini, melebihi tekad sapi, cendana, jagung, rumput laut yang pernah ada? Begitu pentingkah garam sehingga prioritas Gubernur NTT, Viktor Laiskodat, di hari pertama bertugas, memilih mengunjungi dan melakukan panen besar garam bersama masyarakat di Hauputu Bipolo?

 

Garam dan Peradaban Manusia
Sejarah peradaban manusia mencatat, garam pernah menjadi alat pembayaran yang sah. Di era Kerajaan Romawi, para tentara dibayar dengan solarium argentum yang sebagian bahannya terdiri dari garam. Solarium kemudian menjadi asal usul kata “salary” yang hingga kini kita kenal sebagai gaji. Demikian pentingnya garam kala itu.

Kini, kita dapat kembali bertanya, benarkah garam memang sungguh berarti?. Bukankah kegunaan garam hanya sebatas makan dan minum?.
Berganti masa, kini, pada level Nasional, garam tercatat masih menjadi merupakan barang yang langka dan penting. Neraca garam nasional mengkalkulasi, rata-rata hanya 45% konsumsi garam digunakan sebagai bahan makan minum sementara sebagian besarnya digunakan untuk keperluan industri. Garam (NaCl) dengan bahan baku utama ion natrium dan chlor, menghasilkan berbagai turunan kimia garam yang digunakan pada industri olahan logam sebagai pemurni alumunium, industri sabun sebagai pemisah gliserol dari air, industri karet sebagai pemisah karet dari getahnya, industri lainnya seperti tekstil, minyak, keramik, farmasi, kertas, kaca, pengeboran minyak lepas pantai, gas klorin, kaporit, soda kaustik, PVC, bahkan di daerah beriklim sub tropis, garam digunakan untuk menghilangkan lapisan es di jalan. Mungkin, karena ungkapan “bagai sayur tanpa garam”-lah yang menggiring kita dan kebanyakan orang berpikir bahwa garam memang hanya soal masakan semata.

 

Keunikan dan Komitmen NTT
Atas fakta produksi garam nasional yang hanya sebesar 1.002.294 ton dan kebutuhan garam Nasional yang mencapai 4,7 juta ton maka importasi garam memang menjadi sebuah pilihan. Namun, hampir seluruh pihak sepakat agar Indonesia dapat menyediakan sendiri kebutuhannya akan garam dan faktor penting untuk upaya ini sangat terkait dengan faktor iklim, ketersediaan lahan, kualitas garam dan harga. Iklim di Indonesia dengan tingkat kelembaban mencapai 80 % menjadi penyebab penguapan manual di tambak berjalan lambat dan berpengaruh pada jumlah garam yang dihasilkan. Sangat kontras ketika dibandingkan dengan Australia, kadar kelembaban yang rendah antara 15-40 % menjadikan Australia lebih produktif.

Namun, dengan bangga, satu satunya wilayah di Indonesia yang teridentifikasi memiliki kelembaban yang mirip dengan Australia adalah di Nusa Tenggara, termasuk di NTT, dengan kemarau panjangnya berkisar 8-10 bulan. Meskipun demikian, Ironisnya, angka produksi garam tambak dari NTT, sesuai data KKP (2018), terhitung hanya sebesar 0,8% dari produksi garam nasional dengan tingkat pemanfaatan lahan 2%. Kondisi ini menunjukkan bahwa keunikan dan kelebihan iklim di NTT belum dimanfaatkan secara baik, sebelum ini, dalam rencana besar swasembada garam nasional.

Komitmen 1 juta ton garam dari NTT terus didengungkan Gubernur Victory-Joss. Untuk saat ini, memang, produksi garam NTT dari Nagekeo Lembata, Kupang, Manggarai, Sumba Timur, Ende, Timor Tengah Utara, Alor, Flotim, Rote Ndao terhitung hanya sebesar 8.818 ton atau sekitar 0,8% dari komitmen kita. Namun, data menunjukkan bahwa lahan potensial yang ada di kabupaten produsen garam tadi belum dikelola secara optimal, termasuk potensi lahan di kabupaten Malaka sebesar 3.950 ha dan Timor Tengah Selatan sebesar 1000 ha, termasuk Kabupaten Sabu, yang belum (kembali) menghasilkan garam.

Liufeto (2006) telah mendata potensi lahan untuk tambak dan melakukan penilaian kondisi biofisik lahan tambak di Kabupaten Kupang, Belu (Malaka), Rote Ndao, Sumba Timur, Manggarai (Borong dan Labuan Bajo), Ngada (Nagekeo). Liufeto et al. (2017) juga telah melakukan pemetaan potensi lahan untuk produksi garam di Kabupaten Kupang yang tersebar di kecamatan Kupang Timur, Sulamu, Amarasi Timur, Amarasi Selatan, Semau dan Nekamese. Berdasarkan pendampingan yang dilakukan Liufeto (2017-2019), pemanfaatan lahan tambak di kabupaten Kupang mengalami peningkatan terutama di wilayah kecamatan Sulamu dan Kupang Timur, terhitung sebesar 176 ha telah dikelola oleh petani garam (data DKP Kab Kupang) sementara 1.654 ha dikelola oleh perusahaan dengan angka produksi garam tahun 2018 mencapai 9.840 ton. Dari lahan yang telah dimanfaatkan ini, seharusnya produksi garam di kabupaten Kupang dapat mencapai angka 183.000 ton/tahun.

Hasil penelitian Liufeto (2006, 2017, 2019) dan pemantauannya sejak 2018-2019 menunjukkan bahwa luas lahan potensial yang dapat segera dikelola untuk mewujudkan target produksi garam dari NTT, terhitung sebesar 12.681 ha, dengan potensi produksi garam mencapai 1.268.100 ton (Data ini pernah disampaikan dalam pengusulan program emas biru NTT dan perencanaan percepatan produksi dan industri olahan garam pada pertemuan pengusulan program unggulan sektor kelautan dan perikanan Propinsi NTT tahun 2018). Hasil perhitungan ini menunjukkan bahwa target dan komitmen produksi garam dari NTT sungguh berbasis pada data berdasarkan berbagai hasil kajian.

Liufeto (2019) mengingatkan bahwa pemanfaatan dan pengembangan lahan tambak, dari Kupang-Malaka, yang tidak diikuti dengan pemilihan komoditas yang tepat, hanya akan menghasilkan pendapatan yang tidak signifikan bagi pelaku perikanan dan menurunkan tingkat kepercayaan pemerintah dan publik itu sendiri akan peran penting sektor perikanan bagi pertumbuhan ekonomi daerah dan pendapatan masyarakat di propinsi kepulauan. Liufeto (2019), Nugroho dan Dahuri (2012), BPP NTT (2011) menunjukkan perikanan tambak dapat dijadikan andalan pembangunan ekonomi kawasan perbatasan, mampu meningkatkan pendapatan masyarakat dan pendapatan asli daerah, dapat menciptakanlapangankerja, serta dapat berkontribusibesardalamaktifitasperdaganganinternasional demi kesejahteraanmasyarakat.Untuk hal ini, Benu et al (2018), Widigdo (2013), Nash (1996)mengingatkan perluasanlahantambakdapat memberikan resikobagilingkungan dan perhatian memaksimalkankeuntunganekonomis jangkapendektanpamempertimbangkan dukungan ekologishanya akan mengakibatkandegradasilingkungandan terjadinya krisisekologi.

 

Tantangan
Berdasarkan berbagai uraian diatas, dukungan iklim, ketersediaan lahan, dan pilihan garam merupakan kekuatan pilihan yang tepat. Dibalik komitmen besar ini, hal mendesak yang perlu diperhatikan,untuk saat ini,adalah teknik produksi garam rakyat dan ketersediaan tenaga kerja.
Teknik Produksi Garam. Umumnya teknik produksi garam rakyat di daratan Timor dilakukan tanpa bekal keterampilan dan pengetahuan teknik pengolahan dasar tanah yang baik sehingga garam yang dihasilkan tidak bersih, mengandung debu tanah dan berwarna. Adopsi teknologi produksi garam di Oepuah, Wini, Kabupaten TTU justru menampilkan penggunaan terpal biasa, yang pada akhirnya berdampak pada tampilan kualitas garam yang secara kasat mata mengandung plastik terpal. Di beberapa daerah seperti di Oeteta dan Olio kabupaten Kupang, petani garam yang telah mendapat pelatihan teknis produksi garam belum mampu menerapkan teknologi ulir filter karena keterbatasan biaya untuk pengerjaan konstruksi pematang tambak. Di desa Toineke Kabupaten TTS dan desa Baderai Kabupaten Malaka, Pariti Kupang, garam dihasilkan dengan cara mendidihkan air hasil rembesan tanah tambak yang mengandung garam. Dengan pola ini, sungguh jumlah garam yang di produksi akan sangat terbatas dalam kisaran 60-70 ton/ha, dengan kadar NaCl < 80%.

Selain menerapkan sistem Madura dan Portugis yang mengandalkan penguapan air secara bertahap, dua cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan atau mempercepat produksi garam adalah dengan memperbesar kontak permukaan air dengan udara dan dengan memanfaatkan artemia dan halobakteria.

Tenaga kerja. Hasil kajian Liufeto (2019) menunjukkan bahwa produksi tambak dan program kompensasi yang ditawarkan dapat mengurangi tingkat kemiskinan di wilayah perbatasan, bahkan dengan pilihan komoditas yang tepat, produksi tambak dapat mengurangi angka kemiskinan, menyerap tenaga kerja produktif dan meningkatkan PDRB sektor perikanan. Budaya kerja garam belum sepenuhnya terbentuk di kalangan masyarakat yang sebelumnya memang hanya bekerja memanfaatkan lahan pertaniannya pada saat musim hujan tiba. Bekerja dibawah terik matahari merupakan tantangan tersendiri bagi masyarakat di sekitar kawasan pergaraman. Meskipun demikian, secara bertahap masyarakat mulai merasakan dampak positif sebagaimana testimoni tenaga kerja perempuan di Bipolo dan Pariti, yang membawa pulang penghasilan rata-rata sebesar Rp360.000-Rp400.000/minggu untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka. Upaya membangun kesepahaman misi pergaraman NTT diantara pemerintah, dunia usaha, akademisi dan masyarakat perlu terus dilakukan melalui pembekalan keterampilan pekerja garam untuk menghasilkan kompetensi standar pekerja garam. Upaya ini perlu dan ke depan dapat dilakukan dengan melibatkan lembaga sertifikasi profesi kelautan dan perikanan.

Akhirnya, optimasi pemanfaatan lahan melalui penerapan Teknologi Ulir Filter dan Sistem Portugis, baik kepada petani garam maupun perusahaan, diharapkan dapat mewujudkan kontribusi garam Timor dalam peran sosialnya di kawasan region Timor maupun dalam rencana swasembada garam nasional. Pertama, melakukan ekstensifikasi lahan melalui pemilihan lahan yang tepat yang dikhususkan hanya untuk produksi garam untuk mewujudkan target produksi garam sebesar 1.268.100 ton. Kedua, mempersiapkan pelatihan tenaga kerja dan melakukan sertifikasi kompetensi bagi pekerja garam. Ketiga, melakukan kolaborasi riset dan penerapan iptek berbagai disiplin ilmu yang terkait, baik itu kelautan perikanan, teknik kimia, teknik mesin, teknik industri, ekonomi, untuk mendukung percepatan produksi garam berkualitas di daratan Timor dan NTT secara umum. Keempat, Kebangkitan Salt Timor telah menciptakan nilai sejarah fungsi sosial tanah bagi pendidikan GMIT, bagi pemeliharaan adat dan budaya daerah serta sumbangan PAD bagi pemerintah daerah.