Belajar (Lagi) Soal Toleransi pada Masa Pandemi

- Jumat, 1 Oktober 2021 | 15:14 WIB
Rafael Molina
Rafael Molina

Oleh Refael Molina
(Kontributor Buku 'Antologi Jangan Jual Integritasmu')

 

Di tengah semua aspek kehidupan ikut terdampak akibat pandemi covid-19, kita juga harus berhadapan dengan masalah serius yang selalu berulang tahun, yakni masalah intoleransi. Bangsa yang sudah dianugerahi Tuhan dengan beragam suku, agama, ras dan golongan ini 'terpaksa' harus belajar lagi menerima perbedaan-perbedaan sebagai anugerah terberi ini ini. Padahal, persoalan perbedaan seharusnya tidak perlu diperdebatkan lagi. Apalagi, dengan tindakan kekerasan fisik terhadap sesama anak bangsa yang berbeda suku, ras, maupun agama.

Kita tahu bahwa usia negara ini sudah sangat dewasa, 76 tahun. Ini seharusnya mencerminkan kedewasaan kita dalam berbangsa. Namun, masih saja persoalan serupa seperti ini terus saja berulang tahun dan menjadi laten. Seolah kita tidak malu dengan atribut bangsa berbudaya dan berakhlak. Kita ingat, para pendiri bangsa ini sudah sangat berhasil meletakan ideologi Pancasila. Dan itu sudah final. Semua suku, ras, agama dan golongan diizinkan hidup menyatu dan berdampingan di 'pangkuan ibu pertiwi'. Namun pada tataran praktis, hal ini menjadi sangat kontradiktif. Persoalan sentimen suku, ras hingga agama masih saja terjadi dan semakin mengemuka di Indonesia.

Coba lihat, berapa banyak perdebatan hingga saling serang antara satu agama dengan agama lainnya di kanal-kanal YouTube kita. Konten-konten yang bernada intoleran dan menabur kebencian 'terlanjur' berhamburan di kanal-kanal Youtube kita. Jika dihitung, maka sama saja kita sedang dipaksa menghitung banyaknya pasir di laut. Namun, semua itu 'masih dibiarkan' begitu saja, menjadi konsumsi publik, karena mudah diakses dan ditonton oleh siapa saja.

Tak hanya itu, salah satu kasus yang sedang viral adalah penganiayaan yang dilakukan Irjen Napoleon Bonaparte terhadap Muhammad Kece. Seluruh media massa memberitakan tindakannya menganiaya bahkan melumuri tubuh Muhamad Kece dengan kotoran manusia. Ia diduga melakukan tindakan tak manusiawi itu dengan alasan membela agama. Dia merasa tak terima agamanya dihina oleh Muhamad Kece (detik.com Senin 20 September 2021).

Ini adalah bentuk tindakan intoleran yang tidak sepatutnya ditiru oleh siapapun. Tindakan intoleran yang berujung penganiayaan, malah akan mempermalukan diri sendiri, apalagi, dengan membawa-bawa nama agama. Kita berharap, kasus tersebut segera diselesaikan oleh Bareskrim Polri usai gelar perkara beberapa hari ke depan.

Bagaimana pun, hemat saya, di tengah kehidupan bernegara yang pluralis ini, konsep toleransi harus menjadi bagian penting yang tidak terpisahkan dari keberagaman, apalagi, kita tengah hidup di masa sulit pandemi. Artinya, pluralisme dan toleransi harus dianggap sebagai dua sisi mata uang yang tidak boleh terpisahkan dalam sejarah dan eksistensi bangsa ini. Jika ada keanekaragaman, maka di situ harus ada toleransi.

Karena itu, saya ingin mengajak kita sebagai bangsa, agar mesti belajar lagi soal toleransi. Bukan soal menghafal makna secara harafiah saja, tetapi melakukannya dalam tataran praktis. Sebab, hanya 'bahasa toleransi' yang bisa diterima semua suku, ras, dan golongan utamanya agama. Toleransi adalah kata universal bagaimana memperlakukan sesama kita yang berbeda keyakinan dengan baik. Sebab, jika merujuk pada kitab masing-masing agama, pasti di sana tertulis jelas manusia harus saling menerima dan menghargai satu dengan yang lain, bukan dengan kekerasan.

Misalnya, dalam ajaran Kristen diajarkan untuk hidup saling mengasihi: "Dan hukum yang kedua, kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Bdk. Matius 22:39). Bahkan dalam Lukas 6: 27-28, Tuhan Yesus justru menyerukan “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu. Mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu."

Atau dalam Islam, Sunan Kudus yang merupakan Wali Songo misalnya pernah melakukan dakwah dengan cara damai pada masanya. Dia kemudian berhasil dan diterima masyarakat Indonesia waktu itu. Cara penyebaran agama yang menyejukkan dan mengedepankan toleransi inilah yang menjadi cerminan bagi semua.

Karena itu, meski setiap pemeluk agama mengamalkan agamanya masing-masing dengan baik, namun, toleransi harus menjadi jalan masuk memahami dan menghargai setiap ajaran dan keyakinan tersebut. Jangan sampai di masa sulit seperti ini, kita semakin mempersulit diri kita dengan hal-hal remeh-temeh yang menguras waktu, energi dan pikiran kita, lantas kita lalai mempertahankan kehidupan yang toleran, harmoni dan penuh damai. Semoga.

Editor: Beverly Rambu

Terkini

Lembata dan Marsianus Setelah Sunday

Senin, 23 Mei 2022 | 07:59 WIB

Lembata dan Marsianus Setelah Sunday

Minggu, 22 Mei 2022 | 20:29 WIB

Teknologi, Realitas, dan Identitas Manusia

Sabtu, 21 Mei 2022 | 18:03 WIB

Rambut Panjang Vs Penegakan Disiplin Sekolah

Rabu, 18 Mei 2022 | 19:41 WIB

Berdiri di Tengah Terjangan Badai Inflasi

Jumat, 13 Mei 2022 | 07:18 WIB

Akan Ke Manakah Lulusan SMA/SMK Tahun Ini?

Senin, 9 Mei 2022 | 13:22 WIB

Mewaspadai Hepatitis Akut Misterius pada Anak

Sabtu, 7 Mei 2022 | 21:18 WIB

Insan Pemenang

Senin, 2 Mei 2022 | 08:33 WIB

Hardiknas Dalam Bingkai Merdeka Belajar

Senin, 2 Mei 2022 | 04:30 WIB

Berempati pada Sekolah Baru

Kamis, 28 April 2022 | 04:35 WIB

Ibu dan Pesan Makna Kartini

Kamis, 21 April 2022 | 12:59 WIB

Jokowi dan Kepemimpinan Pasca-2024

Selasa, 19 April 2022 | 10:39 WIB

Suara Tuhan Dari Dalam Badai

Jumat, 15 April 2022 | 14:09 WIB

Pemilu dan Pilkada Adalah Milik Rakyat

Kamis, 14 April 2022 | 09:56 WIB

Wacana Presiden Tiga Periode Apa Urgensinya

Senin, 11 April 2022 | 08:35 WIB

Guru yang Baik

Rabu, 6 April 2022 | 10:41 WIB

Dunia Keiko

Selasa, 5 April 2022 | 10:26 WIB
X