TJPS : Menuju Ketahanan Pangan Lokal

- Selasa, 19 Oktober 2021 | 19:03 WIB
Oleh Yucundianus Lepa, Advisor Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal RI
Oleh Yucundianus Lepa, Advisor Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal RI

Mengubah mindset dari importir bahan pangan menjadi produsen yang berdaya saing membutuhkan keuletan dan keberanian bertindak. Salah satu langkah konkret yang dilakukan Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) adalah program pertanian yang berbasis masyarakat :Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS).


Program ini adalah terobosan yang tidak semua pihak memahami dalam satu referensi pengertian yang sama. Namun secara statistic, capaian program ini dalam tahun awal berjalan menunjukkan tanda-tanda yang sangat memberi harapan. Berdasarkan data dari Dinas Pertanian dan Ketahanan pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur (AtaraNTT, 21 Desember 2020) produksi jagung yang dikembangkan melalui program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) mencapai 16.091 ton.


Masih dari sumber yang sama,. capaian produksi jagung ini merupakan data sementara dari
lapangan untuk musim tanam Oktober 2020-Maret 2021," Produksi jagung sebanyak 16.000 ton
lebih ini, dipanen pada lahan tanam seluas 8.000 hektare yang tersebar di beberapa kabupaten yakni Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Belu, Malaka. Dari hasil produksi ini pihaknya mencatat sekitar 3.000 ton jagung sudah terjual yang hasilnya dijadikan modal untuk membeli ternak seperti ayam, kambing, babi, sapi. Pemerintah tetap berkomitmen
dan optimistis bahwa pada musim tanam I Oktober 2020-Maret 2021 luas lahan TJPS mencapai 8.268 hektar dengan target akan menghasilkan 33 ribu ton jagung.


Menggerakkan petani untuk tetap bertani secara subsisten di tengah kiblat generasi milenial yang hendak meninggalkan sector pertanian sebagai pilihan hidup adalah sebuah keberanian dan keteguhan sikap. Bahkan dengan tingkat produktivitas yang membanggakan ini, gubernur VBL
menyiapkan anggaran senilai Rp39 miliar untuk membangun pabrik pakan ternak guna menjamin ketersediaan pakan bagi usaha peternakan di provinsi berbasiskan kepulauan itu.


Berdasarkan Data statistic Pemerintah provinsi, populasi babi di NTT saat ini mencapai sekitar 2,3 juta ekor sementara unggas sebanyak 18,5 juta ekor. Untuk itu dalam upaya meningkatkan populasi babi dan unggas ini, perlu didukung dengan pengembangan industri pakan ternak di tiga pulau besar yakni Pulau Flores, Pulau Timor, dan Pulau Sumba. Hasil nyata ini menjadi sebuah penegasan bahwa NTT sedang berada dalam the right track untuk bangkit menuju sejahtera.


Persepsi Positif


Langkah dan keberanian gubernur ini tidak terlihat pada era kepemimpinan sebelumnya. Karakteristik kepemimpinan yang melekat pada VBL adalah bicara dengan tindakan (talk with action). Tidak bisa dihindari bahwa ada pihak yang masih saja meragukan keberhasilan program-program kerakyatan yang tengah diimplementasikan. Namun jelas terlihat bahwa Gubernut VBL menjawab berbagai keraguan maupun kritik dengan bukti.


Mesti dipahami bahwa membangun NTT tidak sekedar perjuangan menghapus stigma kemiskinan tanpa sandaran untuk menciptakan kemandirian dan daya saing. Dalam konteks ketahanan pangan local, paling kurang ada empat hal yang harus terwujud.. Komponen tersebut adalah ketersediaan pangan, keterjangkauan pangan, keamanan pangan serta ketahanan dan sumber daya alam. Jika ekonomi membaik, masyarakat memiliki kapasitas yang meningkat dalam mengakses pangan karena daya beli mereka juga meningkat.


Kerja-kerja kemasyarakatan dan kerakyatan ini tidak bisa dilimpahkan sepenuhnya menjadi kerja seorang gubernur. Perlu ada dorongan dan dukungan dari sebagai pihak terutama berbagai elemen kemasyarakatan kunci yang memiliki peran strategis dalam pembangunan daerah. Mesti ada dukungan politik dan anggaran dari lembaga legislative, ada dukungan dari kepala daerah di semua kabupaten dalam kerangka pembangunan integrative dan interkoneksi kewilayahan, dukungan dari dunia perguruan tinggi dalam penggunaan teknologi terapan, serta dari masyarakat pelaku usaha.


Wujud dukungan itu dapat juga berupa persepsi positif agar semua kita memiliki bahasa yang sama. Bahwa kini NTT sedang berjibaku untuk memperbaiki diri, mendobrak stigma kemiskinan untuk mencapai kelayakan kehidupannya secara manusiawi. Tugas semua komponen adalah
menyatukan visi dan persepsi dan bukan mendramatisir masalah yang sepele dan mendegradasi keberhasilan yang hendak diraih.***

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

Generasi Milenial dan Guru

Rabu, 22 Juni 2022 | 09:06 WIB

Pemilu Inklusi 2024

Selasa, 21 Juni 2022 | 10:07 WIB

Ancaman Gangguan Saraf pada Penderita Diabetes

Sabtu, 18 Juni 2022 | 05:00 WIB

Mengenang Gerson Poyk

Jumat, 17 Juni 2022 | 11:50 WIB

Eksistensi Anak Muda dalam Pengawasan Pemilu

Kamis, 16 Juni 2022 | 14:34 WIB

Quo Vadis Kompetensi Kepribadian Guru?

Selasa, 7 Juni 2022 | 21:50 WIB

Pemilih Pemula: Siapa, Di mana dan Bagaimana?

Senin, 6 Juni 2022 | 11:57 WIB

Ende

Selasa, 31 Mei 2022 | 22:42 WIB

Melestarikan Bahasa Daerah di Zaman Now

Senin, 30 Mei 2022 | 18:02 WIB

Jalan Neraka Jadi Jalan Anton Enga Tifaona

Rabu, 25 Mei 2022 | 20:02 WIB

Pemasungan Demokrasi

Selasa, 24 Mei 2022 | 20:53 WIB

Lembata dan Marsianus Setelah Sunday

Senin, 23 Mei 2022 | 07:59 WIB

Lembata dan Marsianus Setelah Sunday

Minggu, 22 Mei 2022 | 20:29 WIB

Teknologi, Realitas, dan Identitas Manusia

Sabtu, 21 Mei 2022 | 18:03 WIB

Rambut Panjang Vs Penegakan Disiplin Sekolah

Rabu, 18 Mei 2022 | 19:41 WIB

Berdiri di Tengah Terjangan Badai Inflasi

Jumat, 13 Mei 2022 | 07:18 WIB

Akan Ke Manakah Lulusan SMA/SMK Tahun Ini?

Senin, 9 Mei 2022 | 13:22 WIB

Mewaspadai Hepatitis Akut Misterius pada Anak

Sabtu, 7 Mei 2022 | 21:18 WIB
X