NTT : Nanti Tuhan Tolong?

- Senin, 10 Januari 2022 | 10:01 WIB
Sam H Babys, Staf Biro Umum Setda Provinsi NTT (Istimewa)
Sam H Babys, Staf Biro Umum Setda Provinsi NTT (Istimewa)

Begitupula hamparan lontar yang sangat luas. Selain sebagai bahan baku pembuatan gula dan minuman lokal khas NTT, saat ini juga sedang diberdayakan untuk pembuatan kecap.

"Dalam satu tahun, sedikitnya 700 miliar uang disumbangkan oleh NTT ke Pulau Jawa hanya untuk mendatangkan kecap.
Saat ini dengan kolaborasi beberapa pihak, kita sedang mengerjakan kecap lokal khas NTT. Kedepan tidak akan ada lagi kecap dari luar yang masuk ke wilayah NTT," demikian pernyataan Gubernur pada sebuah kesempatan.

Tentunya hal ini dapat tercapai bukan hanya karena kita berharap, tetapi harus ada tindakan nyata.

Sebuah pertanyaan buat kita semua, apakah kita masih rela uang sebesar itu keluar hanya untuk membeli barang yang sebenarnya ada di sekeliling kita? Jawabannya adalah Mari kita bertindak, bukan hanya sekadar berharap.

Baca Juga: Gubernur NTT Ingatkan Bupati dan Wali Kota Se-NTT Serius Tangani Stunting

Selain dua anugerah di atas, Tuhan juga memberikan cuaca, kualitas air laut dan lahan yang sangat baik untuk pembuatan garam. Sebuah terobosan yang sudah tercatat dalam sejarah NTT bahwa Kabupaten Kupang memiliki lahan seluas 900 hektare, yang mana selama 28 tahun lahan ini dikuasai oleh sebuah perusahan tanpa mengerjakan dan menghasilkan produk sedikitpun.
Tetapi dengan bermodalkan ketulusan dan demi kesejahteraan rakyat, VBL mengambil langkah berani untuk mengambilalih lahan tersebut untuk menghasilkan sebuah produk.

Saat ini, di atas lahan yang begitu luas, terdapat hamparan garam yang sering disebut "emas putih" dengan kelas industri, yang mana kadar NaCl di atas 95 persen.
"Bapak Presiden sudah pernah datang, dan kalau tidak ada halangan bulan Agustus 2022, beliau akan kembali untuk melakukan panen. NTT tentunya berbangga karena mampu memberikan kontribusi yang besar bagi bangsa ini," sebut Gubernur.

Penulis boleh katakan bahwa ini terwujud karena ada tindakan.

Sejarah juga mencatat bahwa selama Provinsi ini berdiri, baru pertama kali memiliki budidaya ikan kerapu dengan sistem Keramba Jaring Apung. Sempat mengalami kendala karena Badai Seroja yang melanda Provinsi NTT beberapa waktu lalu, tapi dengan kegigihan dan keberanian, Provinsi ini mampu mengekspor ikan Kerapu hidup sebanyak dua ton ke Negara Hongkong.

Perlu dicatat bahwa dari budidaya ini, Pemerintah juga menawarkan pekerjaan bagi siapapun, khususnya masyarakat NTT yang ingin terlibat.

Halaman:

Editor: Paschal Seran

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Generasi Milenial dan Guru

Rabu, 22 Juni 2022 | 09:06 WIB

Pemilu Inklusi 2024

Selasa, 21 Juni 2022 | 10:07 WIB

Ancaman Gangguan Saraf pada Penderita Diabetes

Sabtu, 18 Juni 2022 | 05:00 WIB

Mengenang Gerson Poyk

Jumat, 17 Juni 2022 | 11:50 WIB

Eksistensi Anak Muda dalam Pengawasan Pemilu

Kamis, 16 Juni 2022 | 14:34 WIB

Quo Vadis Kompetensi Kepribadian Guru?

Selasa, 7 Juni 2022 | 21:50 WIB

Pemilih Pemula: Siapa, Di mana dan Bagaimana?

Senin, 6 Juni 2022 | 11:57 WIB

Ende

Selasa, 31 Mei 2022 | 22:42 WIB

Melestarikan Bahasa Daerah di Zaman Now

Senin, 30 Mei 2022 | 18:02 WIB

Jalan Neraka Jadi Jalan Anton Enga Tifaona

Rabu, 25 Mei 2022 | 20:02 WIB

Pemasungan Demokrasi

Selasa, 24 Mei 2022 | 20:53 WIB

Lembata dan Marsianus Setelah Sunday

Senin, 23 Mei 2022 | 07:59 WIB

Lembata dan Marsianus Setelah Sunday

Minggu, 22 Mei 2022 | 20:29 WIB

Teknologi, Realitas, dan Identitas Manusia

Sabtu, 21 Mei 2022 | 18:03 WIB

Rambut Panjang Vs Penegakan Disiplin Sekolah

Rabu, 18 Mei 2022 | 19:41 WIB

Berdiri di Tengah Terjangan Badai Inflasi

Jumat, 13 Mei 2022 | 07:18 WIB

Akan Ke Manakah Lulusan SMA/SMK Tahun Ini?

Senin, 9 Mei 2022 | 13:22 WIB

Mewaspadai Hepatitis Akut Misterius pada Anak

Sabtu, 7 Mei 2022 | 21:18 WIB
X