Memanfaatkan Ruang Baca

- Senin, 10 Januari 2022 | 10:10 WIB
Krismanto Atamou, S.Pd
Krismanto Atamou, S.Pd

SEKIRA tiga minggu yang lalu saya melakukan perjalanan menggunakan pesawat melalui Bandara Internasional El Tari Kupang. Di luar sana, sebagaimana perkiraan BMKG, terjadi cuaca buruk. Beberapa penerbangan mengalami penundaan. Alhasil banyak penumpang menumpuk di bandara.

Hampir seluruh  sudut ruangan bandara terisi penumpang. Tidak mendapat tempat duduk, beberapa penumpang berdiri atau duduk di lantai. Hanya ada satu ruangan yang nyaris kosong.

Ruangan ini bersebelahan dengan ruangan merokok. Ada tulisan “Reading Corner” di atas pintu. Memang jika diartikan ialah “Sudut Baca”, tapi saya menyebutnya “Ruang Baca”.

Baca Juga: NTT : Nanti Tuhan Tolong?

Di ruang baca hanya ada saya dan seorang pengunjung lain. Kami memilah-milah buku lalu membacanya. Sudah hampir dua jam kami berada di ruangan ini namun tidak ada penambahan pengunjung lain.

Ruangan baca ini cukup nyaman. Ada tiga lemari buku. Di atas lemari sebelah kiri terdapat tulisan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Sedangkan di atas lemari bagian kanan bertuliskan Ombudsman.

Buku-buku tersusun dalam tiga rak buku. Tiga lemari buku yang ada di ruangan baca ini semuanya terisi penuh. Sebagian besar buku berasal dari sumbangan Perpustakaan Nasional Indonesia.

Ada buku bacaan anak-anak, buku ekonomi praktis, buku sastra, buku psikologi, buku pariwisata, dan masih banyak lagi. Selain buku cetak, ada juga buku elektronik. Ada tiga komputer di ruangan ini untuk membaca buku elektronik melalui aplikasi Ipusnas dan e-perpusNTT. Ruangan baca ini disponsori oleh POCADI, akronim dari Pojok Baca Digital. Tagline-nya, Pocadi adalah wujud pelayanan publik bidang perpustakaan.

Baca Juga: Opini: Mencermati Dampak Bansos PKH di Bidang Pendidikan dan Kesehatan

Di ruang baca ini, kita masih dapat mendengar pengumuman keberangkatan dari awak bandara dan pengumuman social distancing dari Satuan Tugas Covid-19. Jadi kita tidak perlu takut  ketinggalan pesawat. Jika tidak ada pengumuman lewat pelantang, lamat-lamat kita akan mendengar alunan instrumen musik lagu daerah.

Halaman:

Editor: Yance Jengamal

Tags

Terkini

Lembata dan Marsianus Setelah Sunday

Senin, 23 Mei 2022 | 07:59 WIB

Lembata dan Marsianus Setelah Sunday

Minggu, 22 Mei 2022 | 20:29 WIB

Teknologi, Realitas, dan Identitas Manusia

Sabtu, 21 Mei 2022 | 18:03 WIB

Rambut Panjang Vs Penegakan Disiplin Sekolah

Rabu, 18 Mei 2022 | 19:41 WIB

Berdiri di Tengah Terjangan Badai Inflasi

Jumat, 13 Mei 2022 | 07:18 WIB

Akan Ke Manakah Lulusan SMA/SMK Tahun Ini?

Senin, 9 Mei 2022 | 13:22 WIB

Mewaspadai Hepatitis Akut Misterius pada Anak

Sabtu, 7 Mei 2022 | 21:18 WIB

Insan Pemenang

Senin, 2 Mei 2022 | 08:33 WIB

Hardiknas Dalam Bingkai Merdeka Belajar

Senin, 2 Mei 2022 | 04:30 WIB

Berempati pada Sekolah Baru

Kamis, 28 April 2022 | 04:35 WIB

Ibu dan Pesan Makna Kartini

Kamis, 21 April 2022 | 12:59 WIB

Jokowi dan Kepemimpinan Pasca-2024

Selasa, 19 April 2022 | 10:39 WIB

Suara Tuhan Dari Dalam Badai

Jumat, 15 April 2022 | 14:09 WIB

Pemilu dan Pilkada Adalah Milik Rakyat

Kamis, 14 April 2022 | 09:56 WIB

Wacana Presiden Tiga Periode Apa Urgensinya

Senin, 11 April 2022 | 08:35 WIB

Guru yang Baik

Rabu, 6 April 2022 | 10:41 WIB

Dunia Keiko

Selasa, 5 April 2022 | 10:26 WIB
X