Tamatkah Riwayat PT Semen Kupang?

- Selasa, 25 Januari 2022 | 22:06 WIB
 (DOK. VICTORY NEWS)
(DOK. VICTORY NEWS)

PTSK dikarenakan kerusakan mesin dan menurunnya kualitas produksi, sehingga pada tahun 2009-2021 PTSK dijalankan oleh operator (KSO) yaitu PT Sarana Agro Gemilang (SAG).

Dari kerjasama ini perusahan mendapatkan imbal hasil 7,5% dari penjualan. Jumlah ini kemudian digunakan perusahaan untuk mencicil sebagian hutangnya pada bank Mandiri dan pada PT Semen Gresik.

Walaupun telah KSO dengan PT. SAG tetapi pemerintah NTT tidak mendapat cipratan benefit karena PTSK tidak memberikan kontribusi secara ekonomi, sebab selama 35 tahun(sejak 1984 s/d 2019) manajemen PTSK baru satu kali yaitu tahun 2007 memberikan deviden kepada pemerintah NTT.

Pertanyaan kita adalah sejak KSO dengan PT SAG mengalami keuntungan dari hasil penjualan, tetapi mengapa PTSK bisa membayar hutang kepada pihak ketiga namun tidak melaksanakan kewajiban membayar deviden kepada pemerintah NTT.

Fakta lain menunjukan bahwa PTSK telah menguasai secara fisik tanah seluas 219,63 Ha yang seharusnya hanya seluas 126,85 Ha. Telah terjadi kelebihan penguasaan lahan secara fisik untuk kepentingan operasional PTSK seluas 92,78 ha.

Selain itu terdokumentasi secara fakta bahwa saldo ekuitas per 31 Desember 2017 surplus sebesar Rp7.992.834.000, namun saldo laba negatif sebesar Rp131.095.614.122, dan bisa terjadi saldo laba terus negatif sehingga PTSK terus merugi hingga berahirnya KSO.

Komisi VI DPR RI sebagai mitra Kementrian BUMN beberapa tahun lalu mendorong pemerintah mengambil kembali operasional PTSK dari operator kerjasama karena produksi semen di Indonesia sudah kelebihan kapasitas.

Fakta menunjukan bahwa dari 107 juta ton kapasitas produksi semen, hanya 60% yang diserap pasar nasional, karena itu tidak mungkin menambah kapasitas dengan membangun pabrik semen baru, tetapi yang mungkin memperbaiki produksinya.

Baca Juga: Sejarah Awal Berdirinya PT Semen Kupang hingga Tak Beroperasi Saat Ini

Komisi VI DPR RI menyatakan bahwa PTSK memiliki kapasitas produksi mencapai 300.000 ton per tahun, jumlah ini dirasa sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan wilayah NTT dan sekitarnya, apalagi perusahan ini masih menyisahkan masalah hutang piutang dengan krediturnya dalam jumlah cukup besar.

Halaman:

Editor: Paschal Seran

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Generasi Milenial dan Guru

Rabu, 22 Juni 2022 | 09:06 WIB

Pemilu Inklusi 2024

Selasa, 21 Juni 2022 | 10:07 WIB

Ancaman Gangguan Saraf pada Penderita Diabetes

Sabtu, 18 Juni 2022 | 05:00 WIB

Mengenang Gerson Poyk

Jumat, 17 Juni 2022 | 11:50 WIB

Eksistensi Anak Muda dalam Pengawasan Pemilu

Kamis, 16 Juni 2022 | 14:34 WIB

Quo Vadis Kompetensi Kepribadian Guru?

Selasa, 7 Juni 2022 | 21:50 WIB

Pemilih Pemula: Siapa, Di mana dan Bagaimana?

Senin, 6 Juni 2022 | 11:57 WIB

Ende

Selasa, 31 Mei 2022 | 22:42 WIB

Melestarikan Bahasa Daerah di Zaman Now

Senin, 30 Mei 2022 | 18:02 WIB

Jalan Neraka Jadi Jalan Anton Enga Tifaona

Rabu, 25 Mei 2022 | 20:02 WIB

Pemasungan Demokrasi

Selasa, 24 Mei 2022 | 20:53 WIB

Lembata dan Marsianus Setelah Sunday

Senin, 23 Mei 2022 | 07:59 WIB

Lembata dan Marsianus Setelah Sunday

Minggu, 22 Mei 2022 | 20:29 WIB

Teknologi, Realitas, dan Identitas Manusia

Sabtu, 21 Mei 2022 | 18:03 WIB

Rambut Panjang Vs Penegakan Disiplin Sekolah

Rabu, 18 Mei 2022 | 19:41 WIB

Berdiri di Tengah Terjangan Badai Inflasi

Jumat, 13 Mei 2022 | 07:18 WIB

Akan Ke Manakah Lulusan SMA/SMK Tahun Ini?

Senin, 9 Mei 2022 | 13:22 WIB
X