Tamatkah Riwayat PT Semen Kupang?

- Selasa, 25 Januari 2022 | 22:06 WIB
 (DOK. VICTORY NEWS)
(DOK. VICTORY NEWS)

Berdasarkan fakta ini maka, Kementrian BUMN meminta Semen Indonesia Group untuk mengkaji agar PTSK menjadi bagian dari holding company, artinya perusahaan utama yang membawahi beberapa perusahaan lain sebagai pemegang saham (subsidary company) berada dalam satu group perusahaan dengan tujuan agar meningkatkan kinerja perusahaan dan memungkinkan terciptanya nilai pasar perusahaan (market value creation) dalam hubungan yang bersifat afiliasi.

Keputusan kementrian diatas rupanya belum memberi hasil dan dampak yang signifikan terhadap eksistensi PTSK hingga berahirnya KSO dengan PT SAG.

Dengan meningkatnya permintaan pasar untuk semen di NTT yang kebutuhannya mencapai 1,3 juta ton per tahun, belum dapat dipenuhi oleh PTSK sesuai yang disampaikan direktur utama PTSK beberapa waktu lalu usai bertemu Gubernur NTT Viktor Laiskodat dalam rangka melaporkan perkembangan produksi semen.

PTSK baru mampu memproduksi kurang lebih 250.000 ton per tahun dari total permintaan pertahun yang sudah mencapai 1,3 juta ton.

Oleh karena itu perlu penambahan kapasitas produksi untuk melayani permintaan pasar tersebut sebab masih memiliki selisih kebutuhan sebesar 1,1 juta ton pertahun.

Hingga ahirnya PTSK harus ditutup karena KSO telah berahir tentu tidak memberi harapan dan kebanggaan lagi bagi masyarakat NTT dimasa akan datang, jika tidak segera dicarikan solusinya.

Fakta historical diatas memberi gambaran bagi kita bahwa memang pemerintah NTT tidak bisa berbuat banyak dalam soal ini sebab bukan sebagai pemegang saham pengendali, semuanya tergantung kepada PT PPA yaitu salah satu BUMN yang memiliki saham mayoritas.

Dalam perspektif ekonomi jika satu kerjasama tidak memberikan benefit lagi maka jika dihentikan adalah hal yang wajar. Namun dalam soal PTSK masih ada exit gate yang bisa kita lakukan bersama sebagai pemegang saham, apalagi pemerintah NTT yang walaupun dengan saham minoritas dapat melakukan langkah-langkah economical strategic agar PTSK tidak ditutup tetapi bisa beroperasi kembali sebagai salah satu simbol ekonomi NTT.

Disebut simbol ekonomi, karena tidak semua daerah bisa membangun pabrik semen karena butuh biaya atau investasi yang sangat besar apalagi jika dihitung dengan nilai ekonomi sekarang ini.

Oleh karena itu kehadiran PTSK yang sudah berumur puluhan tahun jangan dibiarkan terkubur di bumi Flobamora.

Halaman:

Editor: Paschal Seran

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Generasi Milenial dan Guru

Rabu, 22 Juni 2022 | 09:06 WIB

Pemilu Inklusi 2024

Selasa, 21 Juni 2022 | 10:07 WIB

Ancaman Gangguan Saraf pada Penderita Diabetes

Sabtu, 18 Juni 2022 | 05:00 WIB

Mengenang Gerson Poyk

Jumat, 17 Juni 2022 | 11:50 WIB

Eksistensi Anak Muda dalam Pengawasan Pemilu

Kamis, 16 Juni 2022 | 14:34 WIB

Quo Vadis Kompetensi Kepribadian Guru?

Selasa, 7 Juni 2022 | 21:50 WIB

Pemilih Pemula: Siapa, Di mana dan Bagaimana?

Senin, 6 Juni 2022 | 11:57 WIB

Ende

Selasa, 31 Mei 2022 | 22:42 WIB

Melestarikan Bahasa Daerah di Zaman Now

Senin, 30 Mei 2022 | 18:02 WIB

Jalan Neraka Jadi Jalan Anton Enga Tifaona

Rabu, 25 Mei 2022 | 20:02 WIB

Pemasungan Demokrasi

Selasa, 24 Mei 2022 | 20:53 WIB

Lembata dan Marsianus Setelah Sunday

Senin, 23 Mei 2022 | 07:59 WIB

Lembata dan Marsianus Setelah Sunday

Minggu, 22 Mei 2022 | 20:29 WIB

Teknologi, Realitas, dan Identitas Manusia

Sabtu, 21 Mei 2022 | 18:03 WIB

Rambut Panjang Vs Penegakan Disiplin Sekolah

Rabu, 18 Mei 2022 | 19:41 WIB

Berdiri di Tengah Terjangan Badai Inflasi

Jumat, 13 Mei 2022 | 07:18 WIB

Akan Ke Manakah Lulusan SMA/SMK Tahun Ini?

Senin, 9 Mei 2022 | 13:22 WIB
X