Dinilai Tak Mampu Atasi Masalah Migor, Pengamat dari NTT Minta Mendag Lutfi Mundur

- Senin, 4 April 2022 | 18:58 WIB
Stok salah satu merk minyak goreng di Alfamart Tofa, Kota Kupang, NTT, kosong.  (Putra Bali Mula victorynews.id)
Stok salah satu merk minyak goreng di Alfamart Tofa, Kota Kupang, NTT, kosong. (Putra Bali Mula victorynews.id)

KUPANG, VICTORY NEWS-Perumusan kebijakan mengatasi persoalan minyak goreng (Migor) di Indonesia dinilai salah sejak awal dan menjadi tanggung jawab dari Menteri Perdagangan (Mendag), Lutfi.

Pengamat Administrasi Bisnis Universitas Nusa Cendana, Kupang, NTT, Ricky Ekaputra Foeh, menilai Mendag RI ini perlu secara jantan mengundurkan diri karena tak kunjung menyelesaikan persoalan Migor itu.

Baca Juga: Jual Ikan di Tengah Jalan, Pemkab Diminta Tindak Tegas Pedagang Nakal di Pasar Mbongawani Ende

Menurut dia, pemerintah sejak awal sudah salah merumuskan kebijakan guna mengatasi persoalan minyak goreng saat ini.

Ia mengungkapkan permasalahan minyak goreng sudah berlarut-larut ini membuat pemerintahan terlihat menyedihkan. Ia lantas meminta Menteri Perdagangan sebaiknya mengundurkan diri.

"Sudah bongkar pasang kebijakan dalam tempo amat pendek. Tak sampai dua bulan, sudah berganti tiga kali, bahkan ada kebijakan yang berusia tidak lebih dari seminggu, tapi juga belum mampu mengatasi persoalan minyak goreng," ungkap Ricky, Senin (4/4/2022).

Baca Juga: Didominasi Pemain Muda, Ini daftar Pebulu Tangkis Indonesia untuk SEA Games

Menurutnya, publik merasa pemerintah seperti bermain kebijakan yang tidak berbasis realitas di lapangan. Tidak adanya minyak goreng di pengecer karena tak ada kiriman minyak goreng dari distributor.

Distributor tidak mengirim minyak goreng karena tak ada kiriman dari produsen. Lalu tidak ada alokasi dari refinery atau kilang minyak karena tak ada alokasi CPO DMO (Domestic Market Obligation) hingga tak ada ekspor.

Baca Juga: Anggota KPID NTT Mengundurkan Diri, Ketua Surati DPRD NTT

Halaman:

Editor: Yance Jengamal

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Generasi Milenial dan Guru

Rabu, 22 Juni 2022 | 09:06 WIB

Pemilu Inklusi 2024

Selasa, 21 Juni 2022 | 10:07 WIB

Ancaman Gangguan Saraf pada Penderita Diabetes

Sabtu, 18 Juni 2022 | 05:00 WIB

Mengenang Gerson Poyk

Jumat, 17 Juni 2022 | 11:50 WIB

Eksistensi Anak Muda dalam Pengawasan Pemilu

Kamis, 16 Juni 2022 | 14:34 WIB

Quo Vadis Kompetensi Kepribadian Guru?

Selasa, 7 Juni 2022 | 21:50 WIB

Pemilih Pemula: Siapa, Di mana dan Bagaimana?

Senin, 6 Juni 2022 | 11:57 WIB

Ende

Selasa, 31 Mei 2022 | 22:42 WIB

Melestarikan Bahasa Daerah di Zaman Now

Senin, 30 Mei 2022 | 18:02 WIB

Jalan Neraka Jadi Jalan Anton Enga Tifaona

Rabu, 25 Mei 2022 | 20:02 WIB

Pemasungan Demokrasi

Selasa, 24 Mei 2022 | 20:53 WIB

Lembata dan Marsianus Setelah Sunday

Senin, 23 Mei 2022 | 07:59 WIB

Lembata dan Marsianus Setelah Sunday

Minggu, 22 Mei 2022 | 20:29 WIB

Teknologi, Realitas, dan Identitas Manusia

Sabtu, 21 Mei 2022 | 18:03 WIB

Rambut Panjang Vs Penegakan Disiplin Sekolah

Rabu, 18 Mei 2022 | 19:41 WIB

Berdiri di Tengah Terjangan Badai Inflasi

Jumat, 13 Mei 2022 | 07:18 WIB

Akan Ke Manakah Lulusan SMA/SMK Tahun Ini?

Senin, 9 Mei 2022 | 13:22 WIB

Mewaspadai Hepatitis Akut Misterius pada Anak

Sabtu, 7 Mei 2022 | 21:18 WIB
X