Suara Tuhan Dari Dalam Badai

- Jumat, 15 April 2022 | 14:09 WIB
Pdt Dr Yuda D Hawu Haba, M.Th (Dok. victorynews.id)
Pdt Dr Yuda D Hawu Haba, M.Th (Dok. victorynews.id)

Ekonomi negara-negara di dunia sangat melambat dan menurun: dunia khawatir kalau keadaan sulit ini berkepanjangan.

Masyarakat bergerak di ruang publik dengan sangat kuawatir: siapa pembawa (carrier) virus Covid-19, jangan-jangan orang yg ini? Kita seolah bertemu musuh! Malah jarak antar orang, sekarang, dibatasi di atas satu meter.

Sekolah-sekolah dan Perguruan-perguruan Tinggi libur, atau beraktivitas secara daring (e-learning).

Bagaimanakah mendengar suara Tuhan di dalam “badai” ini? Negara super power pun tidak mampu. Manusia, sesungguhnya “rapuh”, sangat rentan untuk sakit dan mati: “fana”!

Oleh karena itu manusia, mestinya sadar, ia sangat memerlukan Allah yang hidup, yang kekal, yang Pengasih: yang Baka! Mengandalkan Allah yang hidup sama dengan yang mencintai kehidupan milik-Nya: sesama dan alam ciptaan-Nya. Alkitab: Allah yang pengasih bisa datang melalui hukuman.

Baca Juga: Wabup Manggarai Heri Ngabut: Jangan Gunakan BLT untuk Beli Sopi

Menghukum pelanggaran “manusia pertama”, air bah; menghukum kejahatan manusia, tulah di Mesir: menghukum penindasan penguasa Mesir atas umat-Nya, menara Babil; menghukum kesombongan manusia, pembuangan Israel ke Babil; menghukum penindasan pemimpin/penguasa umat yg berbuat tidak adil, menindas, kaumnya, terutama yang lemah, janda dan yatim.

Konsekuensi hidup sebagai manusia yang rapuh ketika menghadapi bencana, yang pertama mengandalkan (= beriman kepada) Allah yang terandalkan (Sumber Hidup, Yang tidak kenal sakit dan mati: Baka!), bukan kepada IPTEK! Sebab IPTEK pun tidak mampu, terbatas! Yang kedua bersikap dan berperilaku rasional (rasio, alat yang Tuhan karuniakan), dan bijak, memaksimalkan upaya-upaya kebaikan mengatasi Covid-19.

Covid-19 datang di saat perilaku kekerasan mengganti cinta kasih.

Fakta-fakta kekerasan: Manusia dengan manusia: KDRT, antar kelmpok masyarakat (etnis, agama, ras, antar negara); perang ekonomi, dan perang dingin persenjataan di antara sejumlah negara. Ini mengancam kehidupan milik Allah. Manusia dengan bumi/alam: fenomena climate change dengan segala dampak buruknya; dan kini: sampah plastik yang luas mengancam kehidupan, baik di darat maupun di perairan (sungai, danau, dan laut).

Halaman:

Editor: Paschal Seran

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pancasila Menjadi Arah Kebijakan

Selasa, 16 Agustus 2022 | 05:15 WIB

Perang Atensi Terhadap Reels

Senin, 1 Agustus 2022 | 14:29 WIB

Cegah Stunting Itu Penting

Rabu, 20 Juli 2022 | 07:40 WIB

Titipan Bekal Buat Para Pemimpin

Senin, 4 Juli 2022 | 14:13 WIB

Generasi Milenial dan Guru

Rabu, 22 Juni 2022 | 09:06 WIB

Pemilu Inklusi 2024

Selasa, 21 Juni 2022 | 10:07 WIB

Ancaman Gangguan Saraf pada Penderita Diabetes

Sabtu, 18 Juni 2022 | 05:00 WIB

Mengenang Gerson Poyk

Jumat, 17 Juni 2022 | 11:50 WIB

Eksistensi Anak Muda dalam Pengawasan Pemilu

Kamis, 16 Juni 2022 | 14:34 WIB

Quo Vadis Kompetensi Kepribadian Guru?

Selasa, 7 Juni 2022 | 21:50 WIB

Pemilih Pemula: Siapa, Di mana dan Bagaimana?

Senin, 6 Juni 2022 | 11:57 WIB

Ende

Selasa, 31 Mei 2022 | 22:42 WIB

Melestarikan Bahasa Daerah di Zaman Now

Senin, 30 Mei 2022 | 18:02 WIB

Jalan Neraka Jadi Jalan Anton Enga Tifaona

Rabu, 25 Mei 2022 | 20:02 WIB

Pemasungan Demokrasi

Selasa, 24 Mei 2022 | 20:53 WIB

Lembata dan Marsianus Setelah Sunday

Senin, 23 Mei 2022 | 07:59 WIB
X