Teknologi, Realitas, dan Identitas Manusia

- Sabtu, 21 Mei 2022 | 18:03 WIB
P Berto Bolong, OCD JR (Dok. victorynews.id)
P Berto Bolong, OCD JR (Dok. victorynews.id)

Identitas di dunia nyata pada umumnya satu dan tidak berubah-ubah. Ia ada sebagaimana adanya.

Artinya bahwa identitasnya tidak bisa dimanipulasi oleh yang lain. Dalam dunia maya, identitas seseorang berubah-ubah sesuai dengan seleranya.

Dari kedua perbedaan ini seolah-olah ada pemilahan identitas di dunia nyata dan dunia maya. Hal ini disebabkan oleh karena adanya pemalsuan dan manipulasi data yang terstruktur dan tersistematis.

Pemilahan identitas ini menimbulkan konsekuensi sosial yang terlalu bebas dan mengganggu tatanan sosial. Bagaimana manusia mencari identitas? Manusia mencari dan menemukan identitasnya dalam teknologi.

Baca Juga: Ibunda Kylian Mbape : Kami Memiliki Kesepakatan Dengan Real Madrid dan PSG

Manusia pada mulanya mencari identitas dengan menciptakan teknologi dan pada akhirnya teknologi mendominasi manusia, lalu manusia kehilangan identitas; bermain pada tataran identitas semua. 

Teknologi Mengubah Identitas
Dalam teknologi modern terjadi radikalisasi. Teknik mempunyai fungsi yang fundamental. Gagasan ini hendak menjelaskan bahwa teknik dipandang hanya sebagai sarana yang dipakai oleh manusia untuk mencari identitas.

Manusia sekarang berada dalam sebuah situasi yang membingungkan, dan identitas yang dicari adalah identias semu. Situasi ini membuat manusia cemas dan takut (angst) akan identitasnya (banyak kasus kejahatan ditemukan melalui teknologi modern seperti cyber crime).

Karena apa yang ditemukan manusia, dirancang olehnya sebagai sarana untuk menguasai dunia, menjadi sulit untuk dikuasai bahkan tidak dapat dikuasai lagi. Manusia bukan lagi berkuasa atas sarana teknologi tapi sarana teknologi bekembang dan menguasai manusia.

Dengan kata lain apa yang dipandang sebagai alat untuk menguasai dunia, kini alat dan dunia menguasai manusia. Di sini teknik merajalela dan tidak bisa dikuasai lagi oleh manusia. Dapat dikatakan bahwa zaman kita adalah zaman ketidaktersembunyian (unconcealment).

Halaman:

Editor: Paschal Seran

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pancasila Menjadi Arah Kebijakan

Selasa, 16 Agustus 2022 | 05:15 WIB

Perang Atensi Terhadap Reels

Senin, 1 Agustus 2022 | 14:29 WIB

Cegah Stunting Itu Penting

Rabu, 20 Juli 2022 | 07:40 WIB

Titipan Bekal Buat Para Pemimpin

Senin, 4 Juli 2022 | 14:13 WIB

Generasi Milenial dan Guru

Rabu, 22 Juni 2022 | 09:06 WIB

Pemilu Inklusi 2024

Selasa, 21 Juni 2022 | 10:07 WIB

Ancaman Gangguan Saraf pada Penderita Diabetes

Sabtu, 18 Juni 2022 | 05:00 WIB

Mengenang Gerson Poyk

Jumat, 17 Juni 2022 | 11:50 WIB

Eksistensi Anak Muda dalam Pengawasan Pemilu

Kamis, 16 Juni 2022 | 14:34 WIB

Quo Vadis Kompetensi Kepribadian Guru?

Selasa, 7 Juni 2022 | 21:50 WIB

Pemilih Pemula: Siapa, Di mana dan Bagaimana?

Senin, 6 Juni 2022 | 11:57 WIB

Ende

Selasa, 31 Mei 2022 | 22:42 WIB

Melestarikan Bahasa Daerah di Zaman Now

Senin, 30 Mei 2022 | 18:02 WIB

Jalan Neraka Jadi Jalan Anton Enga Tifaona

Rabu, 25 Mei 2022 | 20:02 WIB

Pemasungan Demokrasi

Selasa, 24 Mei 2022 | 20:53 WIB

Lembata dan Marsianus Setelah Sunday

Senin, 23 Mei 2022 | 07:59 WIB
X