Pemilih Pemula: Siapa, Di mana dan Bagaimana?

- Senin, 6 Juni 2022 | 11:57 WIB
Magdalena Yuanita Wake (victorynews.id)
Magdalena Yuanita Wake (victorynews.id)

Di mana
Merujuk pada ciri-ciri pemilih pemula yang telah diuraikan di atas, pemilih pemula bisa saja adalah kelompok pelajar SMA/SMK; mahasiswa/I di Perguruan Tinggi; serta para pekerja pemula; tamatan SMA/SMK yang tidak bekerja dan/atau mereka yang tidak bersekolah di SMA/SMK dan sedang tidak bekerja.

Kelompok pelajar dan mahasiswa sudah tentu ada di bangsu sekolah SMA/SMK dan Perguruan Tinggi, serta kelompok pekerja pemula ada di organisasi/lembaga/instansi tempat mereka bekerja.

Sementara itu, mereka yang tidak bekerja baik yang tamat SMA/SMK maupun tidak, berada menyebar baik di perkotaan maupun di pedesaan. Ada kecenderungan kelompok ini lebih banyak tinggal di daerah perkotaan, karena di kota lebih bisa mengakses pekerjaan untuk memenuhi kehidupan mereka selanjutnya.


Bagaimana
Hal paling menarik dari memetakan pemilih pemula adalah bagaimana kapasitas para pemilih pemula ini, apakah mereka terdidik atau tidak; terpapar pendidikan demokrasi atau tidak.

Pemetaan kapasitas ini tentu tidak dapat menggunakan indikator yang seragam, karena kharakter pemilih pemula berbeda-beda berdasarkan kharakteristik budaya dan kondisi daerah masing-masing. Jika ingin meneropong kapasitas pemilih pemula di NTT, beberapa kondisi berikut penting untuk diperhatikan.

Pertama, pengetahuan di bidang kepemiluan, berkaitan dengan apa dan bagaimana pemilu dilakukan. Kedua, perspektif tentang urgensitas pemilu, berkaitan dengan filosofi pemilu: mengapa pemilu dilakukan dan apa pengaruh pemilu bagi kepentingan anak muda Indonesia. Ketiga, kemandirian memilih, berkaitan dengan apa yang mereka harapkan dari pemilu sehingga mereka dapat secara merdeka memilih pilihannya.

Keempat, antusias mendorong terlaksananya pemilu sesuai asas langsung, umum, bebas dan rahasia (LUBER), berkaitan dengan antusias mereka untuk memastikan pemilu berjalan dengan baik dan benar karena adanya keyakinan bahwa pemilu menjadi sarana menuju perbaikan bangsa dan Negara. Dan untuk menguraikan kondisi pemilih pemula di NTT berdasarkan keempat hal di atas, perlu mengikutsertakan indikator NTT di dalamnya, seperti kondisi budaya dan kemajuan teknologi di NTT.

Pertanyaan berikut ini dapat dijadikan alat ukurnya, yaitu: apakah pemilu sakral untuk dilaksanakan dengan benar; dan apakah informasi tentang pemilu diterima dengan baik oleh pemilih pemula di perkotaan dan pedesaan.

Dalam konteks budaya, pemujaan dalam bentuk ritual khusus dilakukan terhadap suatu kondisi yang dianggap penting untuk keberlangsungan hidup kelompok masyarakat tertentu.

Misalnya, dalam budaya pertanian di NTT ritual buka kebun baru wajib dilakukan dengan panduan keabsahan (sakral/tidaknya) ritual itu tergantung pada ketaatan terhadap syarat untuk membuka kebun baru.

Halaman:

Editor: Beverly Rambu

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kedaulatan Pangan di Tangan Petani

Jumat, 9 September 2022 | 09:42 WIB

Panggilan Menularkan Literasi

Jumat, 9 September 2022 | 09:38 WIB

Bahaya Digitalisasi Chanel TV Indonesia

Senin, 5 September 2022 | 14:41 WIB

Membangun Kembali Fondasi Sepak Bola NTT

Senin, 22 Agustus 2022 | 09:45 WIB

Tantangan Penjabat Wali Kota Kupang

Senin, 22 Agustus 2022 | 06:00 WIB

Jadi Kita (Indonesia) Belum Merdeka?

Jumat, 19 Agustus 2022 | 06:15 WIB

Pancasila Menjadi Arah Kebijakan

Selasa, 16 Agustus 2022 | 05:15 WIB

Perang Atensi Terhadap Reels

Senin, 1 Agustus 2022 | 14:29 WIB

Cegah Stunting Itu Penting

Rabu, 20 Juli 2022 | 07:40 WIB

Titipan Bekal Buat Para Pemimpin

Senin, 4 Juli 2022 | 14:13 WIB
X