Quo Vadis Kompetensi Kepribadian Guru?

- Selasa, 7 Juni 2022 | 21:50 WIB
Penulis Refael Molina.  (Dok Pribadi)
Penulis Refael Molina. (Dok Pribadi)

Oleh: Refael Molina

Berbicara soal guru, siapa yang tak tahu jasanya? Tak jarang guru dianggap pahlawan, meski jasa-jasanya belum sepenuhnya diganjar dengan penghormatan yang setimpal. Dalam urusan mengobati peserta didik dari penyakit kebodohan, guru adalah ahlinya. Itulah mengapa dalam Undang-Undang (UU) Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005, guru yang profesional dituntut memiliki 4 (empat) kompetensi: pedagogik, kepribadian, sosial, dan professional.

Sejak UU ini disahkan, guru digenjot untuk selalu meningkatkan 4 kompetensi itu melalui berbagai kegiatan.   Hal ini agar mutu dan kualitas lulusan, tidak saja akan diterima di bangku Perguruan Tinggi (PT) atau di pasar kerja, tetapi peserta didik pun bisa diterima di tengah masyarakat, karena memiliki karakter dan kepribadian yang baik.

Lantas, apa jadinya jika kita mengharapkan peserta didik memiliki kepribadian dan karakter yang baik, jika gurunya tidak mampu memberikan teladan yang baik? Pertanyaan ini agak debatable (bisa diperdebatkan), lantaran tidak semua perilaku siswa bisa dianggap sebagai hasil didikan guru.

Baca Juga: Kepsek Aniaya Guru di SD Negeri Oelbeba, Wakil Bupati Kupang Meradang

Namun, sekali lagi, sejak seseorang telah menjadi guru, kesadaran dan komitmennya mengejahwantakan kompetensinya mesti ada dalam dirinya, agar dunia pendidikan mampu menghasilkan peserta didik yang memiliki kemampuan afektif, kognitif dan psikomotorik yang mumpuni – sejalan dengan tujuan mulia pendidikan.

Namun, untuk mewujudkan peserta didik sesuai dengan tujuan mulia pendidikan, sejumlah persoalan kerap menyeret nama guru. Guru bahkan jadi biang kerok adu jotos bahkan keributan.
Potret Guru di Kupang

Baru-baru ini, seorang guru yang bertugas di SD Negeri Oelbeba, Desa Oelbeba, Kacamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, dianiaya hingga babak belur oleh kepala sekolah bersama sejumlah temannya. Korban bernama Anselmus Nalle, 44. Terduga pelaku sebanyak enam orang, termasuk kepala sekolah (kepsek) bernama Aleksander Nitti (mediaindonesia) tanggal 5 Juni 2022).

Baca Juga: Akademisi Undana Kupang Angkat Bicara Terkait Kasus Kepsek Aniaya Guru di Kabupaten Kupang

Melalui sejumlah media, disebutkan, kasus penganiayaan itu terjadi pada tanggal 1 Juni 2022 lalu, sebagai dampak dari dinamika pertemuan para guru karena Anselmus Nale mengkritisi Kepala Sekolah Alexander Niti (AN) yang sering jarang masuk sekolah.

Halaman:

Editor: Polce Siga

Terkini

Pancasila Menjadi Arah Kebijakan

Selasa, 16 Agustus 2022 | 05:15 WIB

Perang Atensi Terhadap Reels

Senin, 1 Agustus 2022 | 14:29 WIB

Cegah Stunting Itu Penting

Rabu, 20 Juli 2022 | 07:40 WIB

Titipan Bekal Buat Para Pemimpin

Senin, 4 Juli 2022 | 14:13 WIB

Generasi Milenial dan Guru

Rabu, 22 Juni 2022 | 09:06 WIB

Pemilu Inklusi 2024

Selasa, 21 Juni 2022 | 10:07 WIB

Ancaman Gangguan Saraf pada Penderita Diabetes

Sabtu, 18 Juni 2022 | 05:00 WIB

Mengenang Gerson Poyk

Jumat, 17 Juni 2022 | 11:50 WIB

Eksistensi Anak Muda dalam Pengawasan Pemilu

Kamis, 16 Juni 2022 | 14:34 WIB

Quo Vadis Kompetensi Kepribadian Guru?

Selasa, 7 Juni 2022 | 21:50 WIB

Pemilih Pemula: Siapa, Di mana dan Bagaimana?

Senin, 6 Juni 2022 | 11:57 WIB

Ende

Selasa, 31 Mei 2022 | 22:42 WIB

Melestarikan Bahasa Daerah di Zaman Now

Senin, 30 Mei 2022 | 18:02 WIB

Jalan Neraka Jadi Jalan Anton Enga Tifaona

Rabu, 25 Mei 2022 | 20:02 WIB

Pemasungan Demokrasi

Selasa, 24 Mei 2022 | 20:53 WIB

Lembata dan Marsianus Setelah Sunday

Senin, 23 Mei 2022 | 07:59 WIB
X